BERITA

SEMINAR NASIONAL EKO HISTORIS “Ingatan Lestari Menyatu dengan Alam Nusantara”

(1/11/25) Serang, Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah (Himadira) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) sukses menggelar Seminar Nasional Eko-Historis bertajuk “Ingatan Lestari Menyatu dengan Alam Nusantara”. bertempat di ruang Multimedia kampus E Sindangsari, Kegiatan ini menghadirkan berbagai kalangan, mulai dari SINTAS, Banten Heritage, Bantenologi, AGSI, MGMP, hingga pelajar dan mahasiswa.

Seminar ini menjadi wadah refleksi bersama tentang pentingnya memahami hubungan sejarah dengan lingkungan, terutama di wilayah Banten yang dikenal memiliki kekayaan ekologis sekaligus menghadapi berbagai persoalan agraria dan lingkungan.

Menurut Tegar, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah (Himadira), tema ini lahir dari keresahan atas banyaknya permasalahan ekologis yang terjadi di Banten. “Berawal dari isu agraria dan kerusakan lingkungan, kami merasa penting untuk membicarakan kembali akar sejarah ekologis Banten sebagai bahan refleksi dan pembelajaran,” ujarnya.

Sementara itu, Rizka Fauzan, dosen Pendidikan Sejarah Untirta, menekankan bahwa konsep ekologis sebenarnya sudah tertanam dalam kearifan lokal masyarakat Banten. “Ingatan sejarah, khususnya ekologi di Banten, sudah tergambar dalam *tritangtu pikukuh Kanekes yang menyatakan bahwa alam berjalan seiring dengan manusianya,” tuturnya.

Dari pihak panitia, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran ekologis melalui pendekatan sejarah. “Kita ingin sejarah lingkungan tidak hanya menjadi kajian akademik, tapi juga kesadaran kolektif masyarakat, terutama generasi muda Banten,” ungkap salah satu panitia.

Perwakilan dari SINTAS juga menambahkan, “Semoga melalui seminar ini, ingatan kolektif tentang lingkungan dapat terus diwariskan dan disampaikan kepada peserta didik, agar kesadaran ekologis menjadi bagian dari pembelajaran sejarah di sekolah.”

Seminar ini tidak hanya mempertemukan akademisi dan komunitas, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun ingatan lestari—bahwa memahami sejarah berarti menjaga keseimbangan antara manusia dan alamnya.

***Aldin/BH

SEMINAR NASIONAL EKO HISTORIS “Ingatan Lestari Menyatu dengan Alam Nusantara”

(1/11/25) Serang, Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah (Himadira) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) sukses menggelar Seminar Nasional Eko-Historis bertajuk “Ingatan Lestari Menyatu dengan Alam Nusantara”. bertempat di ruang Multimedia kampus E Sindangsari, Kegiatan ini menghadirkan berbagai kalangan, mulai dari SINTAS, Banten Heritage, Bantenologi, AGSI, MGMP, hingga pelajar dan mahasiswa.

Seminar ini menjadi wadah refleksi bersama tentang pentingnya memahami hubungan sejarah dengan lingkungan, terutama di wilayah Banten yang dikenal memiliki kekayaan ekologis sekaligus menghadapi berbagai persoalan agraria dan lingkungan.

Menurut Tegar, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pendidikan Sejarah (Himadira), tema ini lahir dari keresahan atas banyaknya permasalahan ekologis yang terjadi di Banten. “Berawal dari isu agraria dan kerusakan lingkungan, kami merasa penting untuk membicarakan kembali akar sejarah ekologis Banten sebagai bahan refleksi dan pembelajaran,” ujarnya.

Sementara itu, Rizka Fauzan, dosen Pendidikan Sejarah Untirta, menekankan bahwa konsep ekologis sebenarnya sudah tertanam dalam kearifan lokal masyarakat Banten. “Ingatan sejarah, khususnya ekologi di Banten, sudah tergambar dalam *tritangtu pikukuh Kanekes yang menyatakan bahwa alam berjalan seiring dengan manusianya,” tuturnya.

Dari pihak panitia, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran ekologis melalui pendekatan sejarah. “Kita ingin sejarah lingkungan tidak hanya menjadi kajian akademik, tapi juga kesadaran kolektif masyarakat, terutama generasi muda Banten,” ungkap salah satu panitia.

Perwakilan dari SINTAS juga menambahkan, “Semoga melalui seminar ini, ingatan kolektif tentang lingkungan dapat terus diwariskan dan disampaikan kepada peserta didik, agar kesadaran ekologis menjadi bagian dari pembelajaran sejarah di sekolah.”

Seminar ini tidak hanya mempertemukan akademisi dan komunitas, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun ingatan lestari—bahwa memahami sejarah berarti menjaga keseimbangan antara manusia dan alamnya.

***Aldin/BH

PANEL LOGIN

Scroll to Top