Kelas Heritage yang digagas Banten Heritage resmi memulai pertemuan perdananya dengan tema “Sistem Agrikultur dalam Pemukiman Awal di Banten.” Direktur kelas, Japra, menyampaikan bahwa forum ini bertujuan membuka pandangan kawan heritage lintas generasi untuk mengenal Banten dari sisi arkeologi, antropologi, arsitektur, kebudayaan, hingga sejarah secara lebih menyeluruh.
Dalam diskusi terungkap bahwa sistem pertanian awal di Banten menggunakan pola tanam padi di ladang atau ngahuma. Sistem ini mencerminkan pola hidup masyarakat agraris awal yang menyesuaikan diri dengan kondisi alam sebelum berkembangnya sistem persawahan menetap. Pembahasan turut melebar pada refleksi identitas, termasuk perbincangan mengenai asal-usul istilah Indonesia yang memantik diskusi kritis di antara peserta.
Sesi tanya jawab mengangkat pertanyaan menarik: mengapa Kesultanan tidak mengembangkan pesawahan di Banten Selatan? Ali Fadillah menjelaskan bahwa hingga kini belum ditemukan data kuat terkait pembukaan lahan sawah besar di wilayah selatan. Sebaliknya, pengembangan lebih terlihat di wilayah utara, termasuk jejak infrastruktur seperti Bendung Pamarayan dan Pintu Air Sepuluh yang menunjukkan pengelolaan air berkembang pada masa kolonial.
Marwah, salah satu peserta, menegaskan pentingnya kelas ini bagi generasi muda dan tua Banten. Ia merasa bersyukur dapat memahami sejarah dan kebudayaan Banten lebih dalam melalui ruang belajar bersama. Kelas Heritage pun diharapkan menjadi wadah refleksi dan penguatan kesadaran sejarah lintas generasi di Banten.