Cover 001 001

DETAIL BERITA & ARTIKEL

LOCAL WISDOM DALAM KONTEKS BUDAYA BANTEN

Moh Ali Fadillah, “Cultural Anthropology: Local Wisdom in Banten Tradition“, dipresentasikan pada Diskusi Komunitas RUMI (Ruang Untuk Menggali Imaginasi) di Resto Teras Bamboo, Dalung, Kota Serang, 11 April 2026, jam 15.30 – 17.30 wib.

DALAM studi antropologi, berkembang berbagai kajian yang berkaitan dengan kehidupan modern mencakup studi antropologi urban, ekonomi, politik, psikologi dan aspek lainnya dengan metodologi yang spesifik. Dari keseluruhan cabang antropologi, local wisdom (kearifan lokal) menjadi kunci humanitas memahami dalam kehidupan. siklus Local wisdom mengandung gagasan individu yang diperoleh dari hasil belajar dan diimplementasikan dalam suatu komunitas sebagai nilai kebaikan dan tindakan bijak yang diimplementasikan oleh anggota komunitas atau masyarakat tertentu. Fungsi lokal wisdom dapat diamanti dalam kehidupan sehari-hari baik secara individual maupun dalam interaksi sosialnya.

Dalam kasus budaya Banten, unsur-unsur local wisdom dapat dilihat dari manuskrip, tradisi lisan, dan praktek ritual yang telah mengakar lama, diantaranya ada yang sudah membeku tetapi masih ada yang masih terpelihara sampai hari ini, seperti pada kategori sebagai berikut: (1) Etika dan moral (2) Pelestarian sumberdaya alam (3) Pengembangan sumberdaya manusia (4) Bidang pertanian dan ritual siklus hidup (5) Kehidupan komunal: keluarga dan masyarakat (6) Literasi dan ilmu pengetahuan (7) Politik – pemerintahan (8) Pendidikan karakter (akhlak – keimanan) Contoh local wisdom yang tersirat pada manuskrip dan oral tradition di daerah Banten berupa: sastra sejarah, dongeng, pantun, mitos dan legenda dapat dilihat dari aspek fungsinya dalam kehidupan sehari-hari atau pada moment penting dalam praktek budaya, baik menggunakan bahasa Jawa maupun Sunda. Beberapa cuplikan dari manuskrip dan tradisi lisan sebagai contoh disajikan pada tabel sebagai berikut:

Catatan: Beberapa bentuk ekspresi local wisdom belum seluruhnya terkodifikasi untuk dapat diklasifikasi ke dalam item fungsional seperti daftar di atas. Pembaca berhak menentukan setiap frasa ke dalam kategori yang koheren dan relevan. Oleh karena itu para peneliti perlu menggali elemen lokal wisdom berdasarkan jenis, sebaran dan konteks fungsinya dalam masyarakat Banten.

Referensi:

  • Djajadiningrat, R. Hoesen. 1913 (1983). Critische beschouwing van de Sadjarah Banten. HaarIem: Enschede en Zonen;
  • Djajadiningrat, R. Hasan. 1913. “Sanghyangdengdek, Volgen Mededeeling,” In: TBG, LV, 1913: 421-427;
  • Eringa, F.S. 1949. “De Pantoenverhalen, enige Algemene Gegevens“, In: Loetoeng Kasaroeng. Een mythologisch verhaal uit West-Java. Bijdrage tot de Soendase taal- en letterkunde. Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, Vol. 8: 1-13;
  • Jacobs, J. & Meijer, J.J. 1891. De Badoej’s Uitgegeven door het Koninklijk Instituut voor de Taal, Land-en Volkenkunde van Nederlandsh-Indie, ‘s-Gravenhage,M.N;
  • Pleyte, C. M. 1909. “Artja Domas, het zielenland der Badoej’s”, In: Tijdschrift voor Indische Taal-, Land-en Volkenkunde Uitgegeven door het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (TBG), Deel 51: 494-526;
  • Tricht, B. van, 1932, “Verdere mededeelingen aangaande de Badoejs en de steencultuur in West Java”, In: Djawa, 12, 176-185;
  • Zanten, Wim van. 2016. “Some notes on the pantun storytelling of the Baduy minority group: Its written and audiovisual documentation”, In: Wacana, Vol. 17 No. 3: 404–437;
  • Ms. Babad Banten. Suntingan dan Terjemahan Teks KBG 183 oleh Titik Pudjiastuti, Penerbit Pepustakaan Nasional, Jakarta, 2010;
  • Ms. Wawacan Sunan Gunung Jati, alih aksara dan bahasa oleh Emon Suryaatmana, & T. D. Sudjana, Depdikbud, Jakarta, 1994.

LOCAL WISDOM DALAM KONTEKS BUDAYA BANTEN

Moh Ali Fadillah, “Cultural Anthropology: Local Wisdom in Banten Tradition“, dipresentasikan pada Diskusi Komunitas RUMI (Ruang Untuk Menggali Imaginasi) di Resto Teras Bamboo, Dalung, Kota Serang, 11 April 2026, jam 15.30 – 17.30 wib.

DALAM studi antropologi, berkembang berbagai kajian yang berkaitan dengan kehidupan modern mencakup studi antropologi urban, ekonomi, politik, psikologi dan aspek lainnya dengan metodologi yang spesifik. Dari keseluruhan cabang antropologi, local wisdom (kearifan lokal) menjadi kunci humanitas memahami dalam kehidupan. siklus Local wisdom mengandung gagasan individu yang diperoleh dari hasil belajar dan diimplementasikan dalam suatu komunitas sebagai nilai kebaikan dan tindakan bijak yang diimplementasikan oleh anggota komunitas atau masyarakat tertentu. Fungsi lokal wisdom dapat diamanti dalam kehidupan sehari-hari baik secara individual maupun dalam interaksi sosialnya.

Dalam kasus budaya Banten, unsur-unsur local wisdom dapat dilihat dari manuskrip, tradisi lisan, dan praktek ritual yang telah mengakar lama, diantaranya ada yang sudah membeku tetapi masih ada yang masih terpelihara sampai hari ini, seperti pada kategori sebagai berikut: (1) Etika dan moral (2) Pelestarian sumberdaya alam (3) Pengembangan sumberdaya manusia (4) Bidang pertanian dan ritual siklus hidup (5) Kehidupan komunal: keluarga dan masyarakat (6) Literasi dan ilmu pengetahuan (7) Politik – pemerintahan (8) Pendidikan karakter (akhlak – keimanan) Contoh local wisdom yang tersirat pada manuskrip dan oral tradition di daerah Banten berupa: sastra sejarah, dongeng, pantun, mitos dan legenda dapat dilihat dari aspek fungsinya dalam kehidupan sehari-hari atau pada moment penting dalam praktek budaya, baik menggunakan bahasa Jawa maupun Sunda. Beberapa cuplikan dari manuskrip dan tradisi lisan sebagai contoh disajikan pada tabel sebagai berikut:

Catatan: Beberapa bentuk ekspresi local wisdom belum seluruhnya terkodifikasi untuk dapat diklasifikasi ke dalam item fungsional seperti daftar di atas. Pembaca berhak menentukan setiap frasa ke dalam kategori yang koheren dan relevan. Oleh karena itu para peneliti perlu menggali elemen lokal wisdom berdasarkan jenis, sebaran dan konteks fungsinya dalam masyarakat Banten.

Referensi:

  • Djajadiningrat, R. Hoesen. 1913 (1983). Critische beschouwing van de Sadjarah Banten. HaarIem: Enschede en Zonen;
  • Djajadiningrat, R. Hasan. 1913. “Sanghyangdengdek, Volgen Mededeeling,” In: TBG, LV, 1913: 421-427;
  • Eringa, F.S. 1949. “De Pantoenverhalen, enige Algemene Gegevens“, In: Loetoeng Kasaroeng. Een mythologisch verhaal uit West-Java. Bijdrage tot de Soendase taal- en letterkunde. Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, Vol. 8: 1-13;
  • Jacobs, J. & Meijer, J.J. 1891. De Badoej’s Uitgegeven door het Koninklijk Instituut voor de Taal, Land-en Volkenkunde van Nederlandsh-Indie, ‘s-Gravenhage,M.N;
  • Pleyte, C. M. 1909. “Artja Domas, het zielenland der Badoej’s”, In: Tijdschrift voor Indische Taal-, Land-en Volkenkunde Uitgegeven door het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (TBG), Deel 51: 494-526;
  • Tricht, B. van, 1932, “Verdere mededeelingen aangaande de Badoejs en de steencultuur in West Java”, In: Djawa, 12, 176-185;
  • Zanten, Wim van. 2016. “Some notes on the pantun storytelling of the Baduy minority group: Its written and audiovisual documentation”, In: Wacana, Vol. 17 No. 3: 404–437;
  • Ms. Babad Banten. Suntingan dan Terjemahan Teks KBG 183 oleh Titik Pudjiastuti, Penerbit Pepustakaan Nasional, Jakarta, 2010;
  • Ms. Wawacan Sunan Gunung Jati, alih aksara dan bahasa oleh Emon Suryaatmana, & T. D. Sudjana, Depdikbud, Jakarta, 1994.

PANEL LOGIN

Scroll to Top