Cover 001 001

DETAIL BERITA & ARTIKEL

Kelas Heritage Bahas Arsitektur Banten, Dari Kesultanan hingga Era Industrialisasi

Serang - 27 Februari 2026, pada perjumpaan kelas heritage di pertemuan ketiga membahas tema “Banten Dalam Perspektif Arsitektur” yang difasilitatori oleh Ar. Junita Bahari Nonci, IAI., yang merupakan tim ahli cagar budaya Banten, sekaligus pengurus nasional Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Rektor Universitas Setia Budhi Rangkasbitung turut hadir dan memberikan pengantar sebagai pembuka pada pertemuan kali ini.

Fasilitator kelas dalam pertemuan kali ini membuka dialog dengan menarik konteks historis arsitektur Banten; dari peradaban Islam abad ke 16-17 M sampai dengan era Industrialisasi pada abad ke-21 M. Dari konteks tersebut dikemukakan bahwa setiap fase peradaban meninggalkan jejak morfologi ruang dalam arsitektur maupun ruang kotanya. “kota berkembang mengikuti peradaban manusianya”, tegasnya.

Lebih lanjut, Moh. Ali Fadillah menambahkan bahwa pada sejatinya Banten belum memiliki identitas arsitektur seperti wilayah lain yang sudah mempunyai pakem sendiri dalam pembangunan tata kota yang menggunakan bangunan kerajaan sebagai identitasnya, mengingat bahwa keraton yang memiliki nilai identitas tinggi bagi Banten telah mengalami kehancuran pada bagian bentuk pentingnya dan hanya menyisakan bagian pondasinya saja. Kendati bangunan-bangunan Banten telah digambarkan oleh Ratu Arum Kusumawardhani dalam disertasinya yang berjudul “Jejak Arsitektur Nagarakuta Banten: Studi Mendalam Perubahan Kota dalam Tiga Abad”. Namun nampaknya perlu dikritisi kembali terutama pada naskah yang menjadi landasan dalam disertasi tersebut.

Menambahkan narasi tentang arsitektur Banten, Direktur kelas yang kerap disapa Japra mengutip tulisan karya Marco Kusumawijaya yang berjudul “Kota-kota di Indonesia: Pengantar Untuk Orang Banyak” yang dalam tulisannya tersebut dengan berani menyebut bahwa Banten merupakan kota Islam pertama di Indonesia.

Muncul pertanyaan dalam dialog ini yang dikemukakan oleh peserta kelas “Apakah bentuk arsitektur kesultanan Banten memiliki kesamaan dengan kerajaan di wilayah lain?”, tanya Ryan. Fasilitator menjawab bahwa arsitektur Banten terutama pada masa kesultanan memiliki kesamaan dengan wilayah lain dan disebutkan bahwa hampir semua bentuk arsitektur di Nusantara pada masa kerajaan memiliki kesamaan yaitu menghadap ke laut.

Diskursus tentang identitas arsitektur Banten menjadi kajian yang menarik untuk dikembangkan dan dipelajari oleh masyarakat Banten terutama bagi kalangan muda.

Pisma/BH

Kelas Heritage Bahas Arsitektur Banten, Dari Kesultanan hingga Era Industrialisasi

Serang – 27 Februari 2026, pada perjumpaan kelas heritage di pertemuan ketiga membahas tema “Banten Dalam Perspektif Arsitektur” yang difasilitatori oleh Ar. Junita Bahari Nonci, IAI., yang merupakan tim ahli cagar budaya Banten, sekaligus pengurus nasional Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Rektor Universitas Setia Budhi Rangkasbitung turut hadir dan memberikan pengantar sebagai pembuka pada pertemuan kali ini.

Fasilitator kelas dalam pertemuan kali ini membuka dialog dengan menarik konteks historis arsitektur Banten; dari peradaban Islam abad ke 16-17 M sampai dengan era Industrialisasi pada abad ke-21 M. Dari konteks tersebut dikemukakan bahwa setiap fase peradaban meninggalkan jejak morfologi ruang dalam arsitektur maupun ruang kotanya. “kota berkembang mengikuti peradaban manusianya”, tegasnya.

Lebih lanjut, Moh. Ali Fadillah menambahkan bahwa pada sejatinya Banten belum memiliki identitas arsitektur seperti wilayah lain yang sudah mempunyai pakem sendiri dalam pembangunan tata kota yang menggunakan bangunan kerajaan sebagai identitasnya, mengingat bahwa keraton yang memiliki nilai identitas tinggi bagi Banten telah mengalami kehancuran pada bagian bentuk pentingnya dan hanya menyisakan bagian pondasinya saja. Kendati bangunan-bangunan Banten telah digambarkan oleh Ratu Arum Kusumawardhani dalam disertasinya yang berjudul “Jejak Arsitektur Nagarakuta Banten: Studi Mendalam Perubahan Kota dalam Tiga Abad”. Namun nampaknya perlu dikritisi kembali terutama pada naskah yang menjadi landasan dalam disertasi tersebut.

Menambahkan narasi tentang arsitektur Banten, Direktur kelas yang kerap disapa Japra mengutip tulisan karya Marco Kusumawijaya yang berjudul “Kota-kota di Indonesia: Pengantar Untuk Orang Banyak” yang dalam tulisannya tersebut dengan berani menyebut bahwa Banten merupakan kota Islam pertama di Indonesia.

Muncul pertanyaan dalam dialog ini yang dikemukakan oleh peserta kelas “Apakah bentuk arsitektur kesultanan Banten memiliki kesamaan dengan kerajaan di wilayah lain?”, tanya Ryan. Fasilitator menjawab bahwa arsitektur Banten terutama pada masa kesultanan memiliki kesamaan dengan wilayah lain dan disebutkan bahwa hampir semua bentuk arsitektur di Nusantara pada masa kerajaan memiliki kesamaan yaitu menghadap ke laut.

Diskursus tentang identitas arsitektur Banten menjadi kajian yang menarik untuk dikembangkan dan dipelajari oleh masyarakat Banten terutama bagi kalangan muda.

Pisma/BH

PANEL LOGIN

Scroll to Top