MENGUNGKAP RAHASIA CAFÉ PART I

Kalau ada seloroh, “Jangan sekali-kali berbahasa Inggris dengan orang Perancis, karena anda akan didiamkan”, agaknya pantas dipertimbangkan. Sebab, bukan lantaran bangsa Perancis tak paham bahasa Anglo-Saxon, tetapi lebih didasari oleh rasa bangga pada bahasa sendiri. Selain digunakan di negerinya, bahasa Perancis juga menjadi bahasa resmi di sejumlah negara franco-phonie. Tetapi sekarang bangsa Perancis pun boleh berbangga, karena tradisi budaya Perancis yang lain pun mulai mewabah di seluruh dunia, satu diantaranya adalah budaya café.

 Benarkah bangsa Perancis begitu bangga dengan bahasa mereka? Konon alasannya bahasa Perancis merupakan bahasa yang paling lengkap, paling jelas, paling persis dan paling elegan dari semua bahasa di dunia. Dalam percakapan sehari-hari, di samping amat terikat pada keniscayaan grammaire, juga harus menentukan dengan siapa berbicara dan bagaimana orang berbahasa. Mirip sekali dengan bahasa Jawa, yang selalu menekankan undak-usuk bahasa. Ada bahasa ‘kromo’ (language soutenu) dan ada pula ‘ngoko’ (language familier). Tambahan pula, bahasa Perancis pun mengenal argo, kira-kira seperti ‘bahasa’ Prokem di Jakarta.

Maka, entah karena disiplin linguistik itu atau karena semangat nasionalisme yang tinggi, orang sering berprasangka bahwa negeri anggur ini amat lekat dengan snobisme bahasa. Keangkuhan berbahasa itu bukan tanpa alasan, karena sampai abad XVIII, bahasa Perancis sudah menjadi bahasa diplomatik di seluruh dunia. Bahkan juga pernah menjadi bahasa hukum pada lembaga-lembaga peradilan di sebagian besar negara Eropa. Malahan sampai sekarang, la langue française merupakan satu di antara lima bahasa resmi di PBB.

Dari sebarannya, meski tak seluas penutur bahasa Inggris, bahasa Perancis masih digunakan sebagai bahasa resmi oleh sekurang-kurangnya seratus juta orang di sejumlah negara seperti Swiss, Belgia, Luxemburg, negara-negara Afrika Utara, Tengah dan Barat, sebagian Kanada, Amerika Tengah, Kepulauan Pasifik dan Karibia serta di negara-negara ASEAN seperti Laos, Vietnam dan Kamboja. Namun karena ada pergeseran kekuatan ekonomi, politik dan sosial budaya dari Eropa Barat ke Amerika Serikat, yang memberi peluang semakin luasnya penggunaan bahasa Inggris di dunia, pengaruh bahasa Perancis pun semakin memudar sedini awal abad XX.

Kendati begitu, sampai saat ini ada pengakuan publik bahwa berbahasa Perancis dianggap memiliki prestise, apakah sebagai politikus, filsuf, intelektual ataupun seniman.  Pendek kata, bahasa Perancis identik dengan orang terpelajar. Itulah sebabnya mengapa Perancis terus berusaha memelihara bahasanya melalui aksi-aksi kebudayaan. Pendirian pusat kebudayaan Perancis di negara lain, adalah bagian dari skenario itu. Maka aktivitas Centre Culturel Français (CCF) di beberapa  kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya adalah bukti dari kebijakan Act Culturel. Lembaga inilah yang memungkinkan meluasnya penutur bahasa Perancis dan dengan cara ini sekarang semakin banyak orang mengenal kebudayaan Perancis, di luar negara-negara franco-phonie seperti Indonesia.

Bersambung....