BERITA

Cornelis de Houtman Datang, Portugis Minggat

Cornelis de Houtman Datang, Portugis Minggat: Awal Babak Baru di Nusantara

Serang 25/10/25 Bicara Kedatangan dan Kapal-kapal Cornelis De Houtman

Banten, 1596 Laut Jawa yang biasanya tenang mendadak riuh oleh tiang-tiang layar raksasa dari negeri jauh. Pada bulan Juni tahun itu, sebuah armada besar dari Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman berlabuh di perairan Banten. Kehadirannya bukan sekadar membawa barang dagangan, tetapi juga semangat baru dalam perebutan jalur rempah yang selama puluhan tahun dikuasai bangsa Portugis.

Sebelum kedatangan De Houtman, Portugis sudah lama menjadi “raja dagang” di Nusantara. Mereka menguasai pelabuhan-pelabuhan strategis, dari Malaka hingga Maluku. Namun, monopoli itu mulai goyah ketika bangsa-bangsa Eropa lain—terutama Belanda—melihat peluang besar di balik aroma cengkih dan pala yang menggiurkan.

Kedatangan Cornelis de Houtman dan armadanya dianggap sebagai "titik balik sejarah perdagangan di Nusantara. Meski awalnya disambut curiga dan sempat terjadi ketegangan dengan penguasa Banten, langkah De Houtman menandai berakhirnya dominasi Portugis". Tak lama kemudian, posisi Portugis di berbagai wilayah perdagangan mulai melemah.

Sejarawan menyebut, ekspedisi De Houtman bukan hanya soal rempah, tetapi juga awal hubungan panjang antara Belanda dan kepulauan Indonesia—sebuah kisah yang kelak berkembang menjadi masa penjajahan panjang.

Namun di balik itu, ada satu hal menarik: bagi masyarakat setempat, kabar kedatangan bangsa baru dari barat ini terasa seperti "angin perubahan" Portugis yang dulu begitu kuat kini terdesak, dan lembaran baru sejarah Nusantara pun mulai ditulis—berawal dari layar kapal Cornelis de Houtman yang membentang di ufuk Banten.

Penulis Aldin/BH

Cornelis de Houtman Datang, Portugis Minggat

Cornelis de Houtman Datang, Portugis Minggat: Awal Babak Baru di Nusantara

Serang 25/10/25 Bicara Kedatangan dan Kapal-kapal Cornelis De Houtman

Banten, 1596 Laut Jawa yang biasanya tenang mendadak riuh oleh tiang-tiang layar raksasa dari negeri jauh. Pada bulan Juni tahun itu, sebuah armada besar dari Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman berlabuh di perairan Banten. Kehadirannya bukan sekadar membawa barang dagangan, tetapi juga semangat baru dalam perebutan jalur rempah yang selama puluhan tahun dikuasai bangsa Portugis.

Sebelum kedatangan De Houtman, Portugis sudah lama menjadi “raja dagang” di Nusantara. Mereka menguasai pelabuhan-pelabuhan strategis, dari Malaka hingga Maluku. Namun, monopoli itu mulai goyah ketika bangsa-bangsa Eropa lain—terutama Belanda—melihat peluang besar di balik aroma cengkih dan pala yang menggiurkan.

Kedatangan Cornelis de Houtman dan armadanya dianggap sebagai “titik balik sejarah perdagangan di Nusantara. Meski awalnya disambut curiga dan sempat terjadi ketegangan dengan penguasa Banten, langkah De Houtman menandai berakhirnya dominasi Portugis”. Tak lama kemudian, posisi Portugis di berbagai wilayah perdagangan mulai melemah.

Sejarawan menyebut, ekspedisi De Houtman bukan hanya soal rempah, tetapi juga awal hubungan panjang antara Belanda dan kepulauan Indonesia—sebuah kisah yang kelak berkembang menjadi masa penjajahan panjang.

Namun di balik itu, ada satu hal menarik: bagi masyarakat setempat, kabar kedatangan bangsa baru dari barat ini terasa seperti “angin perubahan” Portugis yang dulu begitu kuat kini terdesak, dan lembaran baru sejarah Nusantara pun mulai ditulis—berawal dari layar kapal Cornelis de Houtman yang membentang di ufuk Banten.

Penulis Aldin/BH

PANEL LOGIN

Scroll to Top