Serang (16/12/25) Bendung Lama Pamarayan resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional setelah melalui proses kajian panjang dan berulang. Penetapan tersebut mendapat apresiasi dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Provinsi Banten.

Anggota TACB Provinsi Banten, Dadan Sujana, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas capaian tersebut. Ia menilai penetapan ini merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi berbagai pihak.
“Saya apresiasi sekali dan sangat menyambut baik. Ini berkat kerja keras semua pihak, baik dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Serang, serta TACB Provinsi Banten yang bersama-sama mendorong Bendung Lama Pamarayan menjadi Cagar Budaya Nasional,” ujar Dadan.
Dadan menjelaskan, proses menuju penetapan nasional telah berlangsung cukup lama. Sejak tahun 2018, Bendung Lama Pamarayan telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi Banten. Namun, upaya pengusulan ke tingkat nasional baru dilakukan pada tahun 2023 dan belum berhasil.

“Pada tahun 2023 diusulkan ke nasional, tetapi gagal. Saat itu saya sendiri yang mengikuti proses ke tingkat nasional. Tahun 2024 diajukan kembali dan masih belum berhasil. Baru pada tahun 2025 ini, Alhamdulillah, akhirnya diterima,” jelasnya.
Ia menambahkan, pada sidang penetapan tahun 2025, dirinya mengikuti proses secara daring karena berada di Lampung, sementara perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten hadir langsung di Jakarta.
Terkait proses kajian, Dadan menyebutkan bahwa tim melakukan penelitian mendalam dengan menelusuri berbagai sumber, termasuk arsip peninggalan kolonial Belanda.
“Untuk kajiannya, kami sampai membuka arsip Belanda dan kebetulan data-datanya ada. Foto-foto bendung, hingga perhitungan struktur bangunannya pun tercatat dalam arsip tersebut. Dari hasil kajian itulah kemudian disimpulkan dan diajukan,” ungkapnya.
Meski telah berstatus Cagar Budaya Nasional, Dadan menegaskan bahwa penetapan tersebut bukanlah akhir dari upaya pelestarian. Ia berharap Bendung Lama Pamarayan dapat dikembangkan sebagai sarana wisata edukasi sejarah yang representatif.
“Apakah cukup hanya ditetapkan sebagai peringkat nasional? Tentunya tidak. Harapan saya, Bendung Lama Pamarayan bisa dijadikan sarana wisata edukasi history yang mumpuni, apalagi saat ini akses jalan tol ke arah Pamarayan sudah terbuka,” pungkasnya.
*** Penulis Aldin/BH