Kunjungan task-force Banten Heritage ke Kampung Cilebang, memberi warna baru dalam Musyawarah Adat yang digagas dua minggu lalu untuk mengundang Banten Heritage ke kediamannya di Kasepuhan Cilebang, Desa Sukajadi, Sobang, Kabupaten Lebak, Banten selatan. Ketua Kasepuhan Cilebang, Abah Muhidin didampingi pejabat adat setempat menyambut antusias kedatangan tim Banten Heritage dari Serang, Pandeglang dan Lebak pada Sabtu (17/01) petang di Ruang Pertemuan Kasepuhan tersebut. Dalam sambutannya, Abah Muhidin menyampaikan sekaput sirih tentang asal-usul, tradisi dan dinamika kebudayaan Masyarakat adat Cilebang, “Kami sangat berbahagia dapat bertemu dengan Bpk. Ali Fadillah bersama saudara kami lainnya dari Banten Heritage, semoga apa yang kami sampaikan menjadi pengetahuan yang bermanfaat tentang pelestrian dan pengembangan budaya di Kasepuhan Cilebang”, ujar Muhidin mengawali musyarah.
Kunjungan Banten Heritage ke Cilebang merupakan tindak lanjut dari kegiatan Festival Cagar Budaya Banten 2025 di halaman Gedung Negara Provinsi Banten, Serang yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten pada Sabtu (6/12/2025). “Kami merasa bangga diundang untuk mengisi acara festival budaya di ibukota provinsi, meskipun tidak menjadi juara dalam lomba seni tradisional itu, kami sudah senang bisa tampil dan diapresiasi oleh hadirian”, lanjut Muhidin saat ditanya terkait pentas seni tradisional Cilebang pada perhelatan tersebut.
Usai musyawarah, seni tradisional yang diberinama “Pokplod” tersebut ditunjukkan lagi di hadapan tim Banten Heritage pada Minggu pagi (19/01). Meskipun tidak lengkap namun dapat dinikmati sekaligus mendapat masukan untuk peningkatan kualitasnya sebagai tontongan menarik. Menurut Abah Sadi, penanggung jawab seni Pokplod, dengan kru dan peralatan yang tidak lengkap, jenis kesenian ini sebenarnya merupakan perangkat seni yang tidak dapat dilepaskan dari upacara/ritual adat yang sudah mentradisi di Kasepuhan Cilebang. “Peralatannya yang terdiri dari beberapa jenis kendang dan angklung seluruhnya dibuat di kampung, termasuk pemain dan juru kawih (vocalis) adalah keluarga besar kasepuhan, karenanya syair dalam kesenian ini bertemakan kegiatan sehari-hari dalam kaitannya dengan penghormatan Nyi Pohaci, rasa syukur atas kemurahan yang maha Kuasa atas hasil panen dan tanah yang subur”. Ketika ditanya, apakah pentas Poklod mendapat sambutan saat Festival di Serang, “Tidak penting bagi kami juara atau tidak, kami sudah senang bisa pentas di Serang, tetapi justru akan menambah semangat kami untuk terus berlatih dan menampilkan kesenian tradisional yang dapat diapresiasi oleh Masyarakat di luar Kasepuhan Cilebang”, pungkas Sadi. Pendiri Lembaga Banten Heritage, Moh. Ali Fadillah mengatakan usai pementasan seni tradisional, “Kampung Cilebang, yang kami tempuh selama 4 jam lebih dari Serang, memiliki potensi seni yang dapat memperkaya Objek Pemajuan Kebudayaan Daerah. “Seni Tradisional adalah salah satu dari objek tersebut, kami mengapresiasi, cikal bakal Pokplod akan bertransformasi menjadi Performance Art jika mendapat sentuhan artistik di masa depan”. Intinya, “Kedatangan Banten Heritage adalah untuk memompa semangat berkesenian di kalangan komunitas adat, harapankan seni tradisional di kaki Gunung Halimun ini bisa disegarkan kembali, mengangkat keunikan bagi pemajuan kebudayaan daerah, khususnya untuk unsur seni dari sepuluh OPK”, Ujarnya usai menyaksikan pementasan Pokplod di halaman rumah Kesepuhan Cilebang.
***Aldin/BH