Serang, (8/5/2026) — Kelas Heritage pertemuan ke-7 membahas tema “Mengenal Tembikar, Keramik, dan Motif Wastra” bersama Siti Rohani, Analis Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Balai Pelestarian Kebudayaan Banten. Kegiatan ini dihadiri oleh kawan Heritage yang terdiri dari mahasiswa, pemerhati budaya, dan masyarakat umum.

Dalam pemaparannya, Siti Rohani menjelaskan bahwa Banten memiliki tiga pilar budaya material yang menjadi bagian penting dari identitas daerah. Pilar pertama adalah tembikar yang mencerminkan teknologi lokal, pola konsumsi, serta kehidupan sehari-hari masyarakat pedalaman. Pilar kedua yakni keramik yang menjadi bukti hubungan dagang global antara Banten dengan berbagai negara seperti Cina, Jepang, Thailand, hingga Eropa, sekaligus menjadi penanda status sosial masyarakat pada masanya. Sementara pilar ketiga adalah wastra yang menjadi bahasa visual untuk merekam simbol, identitas, dan nilai spiritual melalui beragam motif yang memiliki makna mendalam.
Abdurrahman, menyampaikan bahwa motif-motif wastra yang ditemukan pada grabah atau tembikar memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi referensi batik khas Banten di masa mendatang.
“Motif-motif wastra yang ada di grabah sangat banyak, mungkin ke depannya akan menjadi referensi batik-batik di Banten,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Siti Rohani menilai pengembangan motif wastra sebagai inspirasi batik Banten memiliki prospek yang baik, terutama dengan kekayaan ragam hias geometrik, floral, maupun figuratif yang dimiliki.
“Benar sekali, saya rasa ke depannya motif-motif wastra akan menjadi referensi batik di Banten. Ragam hias geometrik, floral, dan figuratif akan menjadi nilai jual yang tinggi dan menarik,” kata Siti Rohani.
Selain membahas wastra, materi mengenai keramik juga menjadi perhatian peserta. Keramik-keramik yang ditemukan di Banten menjadi bukti kuat hubungan perdagangan maritim internasional pada abad ke-16. Beragam motif dan bentuk keramik dari Thailand, Cina, Jepang, hingga Eropa menunjukkan ciri khas masing-masing negara asalnya. Sementara itu, tembikar dipahami sebagai produk lokal masyarakat Banten yang mencerminkan kearifan dan teknologi tradisional setempat.
Di akhir sesi, Siti Rohani menegaskan bahwa mempelajari tembikar, keramik, dan motif wastra bukan hanya sekadar memahami masa lalu, tetapi juga menjadi upaya membangun kesadaran identitas budaya untuk masa kini dan masa depan.
“Mengenal tembikar, keramik, dan motif wastra bukan hanya tentang masa lalu, tetapi tentang membangun kesadaran akan identitas budaya di masa kini dan masa depan,” tutupnya.