Cover 001 001

DETAIL BERITA & ARTIKEL

Ngubaran Pare, Sebuah Ritual Penyembuhan Masyarakat Kaolotan Cilebang

Lebak, – Tradisi agraris berbasis kearifan lokal  yaitu ritual Ngubaran Pare yang dilaksanakan oleh masyarakat Kaolotan Cilebang, Desa Sinarjaya, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Pada Minggu (3/5/2026). Kegiatan ini turut didokumentasikan Banten Heritage, dalam rangka memenuhi undangan langsung masyarakat kaolotan Cilembang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ngubaran Pare merupakan ritual penyembuhan tanaman padi yang dilakukan pasca masa tanam. Tradisi ini bertujuan untuk mencegah serangan hama dan penyakit yang berpotensi merusak hasil panen. Berbeda dengan praktik pertanian modern yang mengandalkan bahan kimia, masyarakat Kaolotan Cilebang tetap mempertahankan metode alami yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam pelaksanaannya, warga menggunakan berbagai jenis dedaunan yang memiliki fungsi ekologis tertentu. Daun hangasa dipercaya mampu menghadang hama, daun dalid angin untuk mengatasi hama berem, daun harendong untuk membasmi ulat, serta daun gempol sebagai pengendali hama. Seluruh bahan tersebut ditumbuk hingga halus, kemudian dipadukan dengan pembacaan jampe atau mantra sebagai bagian dari sistem kepercayaan lokal.

Ritual dilakukan secara kolektif melalui kegiatan riungan di rumah warga. Prosesi diawali dengan pembacaan tawasul, dilanjutkan pembacaan jampe (Mantra) oleh dukun adat, serta pembacaan naskah Sajarah dan naskah Sulanjana. Setelah prosesi selesai, ramuan yang telah didoakan dibagikan kepada warga untuk kemudian disebarkan ke lahan sawah masing-masing.

Tokoh adat setempat, Abah Ahmad, menuturkan bahwa tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun dalam menjaga tanaman padi, tetapi juga memiliki dimensi historis dan kosmologis. Ia mengisahkan asal-usul Ngubaran Pare sebagai berikut:
Dikisahkan, di sebuah negeri makmur bernama Pakuwon, seorang pengembara berniat membeli padi dari raja besar, Prabu Siliwangi. Namun, permintaan tersebut ditolak, sehingga memicu amarah sang pengembara. Dengan bantuan makhluk sakti bernama Sapi Gumarang, ia menyebarkan penyakit yang merusak seluruh padi di negeri tersebut.
Dalam kondisi krisis, turunlah sosok penyelamat bernama Sulanjana dari kahyangan. Ia berhasil menyembuhkan padi yang terserang penyakit dan mengembalikan kesuburan negeri. Meski sempat kembali diganggu oleh Sapi Gumarang yang menghilangkan seluruh padi, Sulanjana akhirnya mampu memulihkan keadaan hingga Pakuwon kembali makmur.

Ngubaran Pare, Sebuah Ritual Penyembuhan Masyarakat Kaolotan Cilebang

Lebak, – Tradisi agraris berbasis kearifan lokal  yaitu ritual Ngubaran Pare yang dilaksanakan oleh masyarakat Kaolotan Cilebang, Desa Sinarjaya, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Pada Minggu (3/5/2026). Kegiatan ini turut didokumentasikan Banten Heritage, dalam rangka memenuhi undangan langsung masyarakat kaolotan Cilembang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ngubaran Pare merupakan ritual penyembuhan tanaman padi yang dilakukan pasca masa tanam. Tradisi ini bertujuan untuk mencegah serangan hama dan penyakit yang berpotensi merusak hasil panen. Berbeda dengan praktik pertanian modern yang mengandalkan bahan kimia, masyarakat Kaolotan Cilebang tetap mempertahankan metode alami yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam pelaksanaannya, warga menggunakan berbagai jenis dedaunan yang memiliki fungsi ekologis tertentu. Daun hangasa dipercaya mampu menghadang hama, daun dalid angin untuk mengatasi hama berem, daun harendong untuk membasmi ulat, serta daun gempol sebagai pengendali hama. Seluruh bahan tersebut ditumbuk hingga halus, kemudian dipadukan dengan pembacaan jampe atau mantra sebagai bagian dari sistem kepercayaan lokal.

Ritual dilakukan secara kolektif melalui kegiatan riungan di rumah warga. Prosesi diawali dengan pembacaan tawasul, dilanjutkan pembacaan jampe (Mantra) oleh dukun adat, serta pembacaan naskah Sajarah dan naskah Sulanjana. Setelah prosesi selesai, ramuan yang telah didoakan dibagikan kepada warga untuk kemudian disebarkan ke lahan sawah masing-masing.

Tokoh adat setempat, Abah Ahmad, menuturkan bahwa tradisi ini telah dilakukan secara turun-temurun dalam menjaga tanaman padi, tetapi juga memiliki dimensi historis dan kosmologis. Ia mengisahkan asal-usul Ngubaran Pare sebagai berikut:
Dikisahkan, di sebuah negeri makmur bernama Pakuwon, seorang pengembara berniat membeli padi dari raja besar, Prabu Siliwangi. Namun, permintaan tersebut ditolak, sehingga memicu amarah sang pengembara. Dengan bantuan makhluk sakti bernama Sapi Gumarang, ia menyebarkan penyakit yang merusak seluruh padi di negeri tersebut.
Dalam kondisi krisis, turunlah sosok penyelamat bernama Sulanjana dari kahyangan. Ia berhasil menyembuhkan padi yang terserang penyakit dan mengembalikan kesuburan negeri. Meski sempat kembali diganggu oleh Sapi Gumarang yang menghilangkan seluruh padi, Sulanjana akhirnya mampu memulihkan keadaan hingga Pakuwon kembali makmur.

PANEL LOGIN

Scroll to Top