Serang, (24/4/2026)— Kelas Heritage Vol.1 kembali menghadirkan ruang diskusi ilmiah dengan tema “Penulisan Sejarah Objektif.” Kegiatan ini menjadi perhatian para peserta yang berasal dari beragam latar belakang, di antaranya mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), mahasiswa Sejarah Peradaban Islam UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, mahasiswa Pendidikan Seni Pertunjukan Untirta, serta masyarakat umum yang memiliki minat terhadap sejarah dan kebudayaan.
Materi disampaikan oleh Rikza Fauzan, M.Pd, yang menjelaskan pentingnya objektivitas dalam penulisan sejarah. Menurutnya, penulisan sejarah erat kaitannya dengan fakta, tafsir, serta kejujuran ilmiah dari penulis. Sejarah sering dipahami sebagai cerita masa lalu yang telah selesai, padahal sejarah tidak pernah benar-benar usai.
“Sejarah akan terus ditulis ulang, diperdebatkan, dan ditafsirkan sesuai perkembangan zaman serta temuan sumber baru,” ujar Rikza Fauzan dalam pemaparannya.
Ia menegaskan bahwa dalam menulis sejarah perlu memperhatikan empat unsur penting, yaitu pengumpulan data (heuristik), kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Keempat tahapan tersebut menjadi landasan utama agar karya sejarah memiliki nilai akademik yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Selain membahas sejarah objektif, pemateri juga menyinggung perkembangan penulisan sejarah populer yang kini semakin diminati masyarakat. Sejarah populer hadir melalui buku ringan, film dokumenter, media sosial, podcast, hingga konten digital yang lebih mudah dipahami publik luas. Kehadiran sejarah populer dinilai mampu mendekatkan masyarakat dengan masa lalu, terutama generasi muda yang akrab dengan media digital.
Namun demikian, Rikza Fauzan mengingatkan bahwa sejarah populer tetap harus berpijak pada data dan sumber yang valid agar tidak terjebak pada sensasi, mitos, atau penyederhanaan berlebihan.
Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta mengenai tantangan menulis sejarah di era digital, termasuk maraknya informasi yang belum terverifikasi. Para peserta diajak memahami pentingnya sikap kritis dalam membaca sumber dan menyusun narasi sejarah secara bertanggung jawab.