Lebak, 18 Januari 2026 – Upaya pelestarian kearifan lokal kembali dilakukan melalui diskusi budaya yang membahas kesenian tradisional, ritual adat, serta warisan spiritual masyarakat Cilebang. Diskusi ini menjadi bagian dari rangkaian pengambilan gambar dokumenter budaya, sekaligus ruang tukar gagasan antara para sesepuh adat dan Forum diskusi Banten Heritage. Diskusi ini dipandu dan diisi oleh para tokoh adat, yaitu Abah Muhidin (olot/sesepuh), Abah Suganda (penasehat), Abah Juhri (penghulu) dan Ahmad (dukun). Mereka menegaskan pentingnya diskusi sebagai ruang pewarisan pengetahuan agar nilai-nilai adat tidak terputus oleh zaman.

Dalam diskusi tersebut, berbagai kesenian tradisional seperti pokplod, pare sasakala, lisung, dongeng ka’olotan, ngajiwa, dan ngawih dibahas sebagai media pewarisan nilai kehidupan. Para narasumber menekankan bahwa kesenian bukan sekadar hiburan, melainkan sarana pendidikan moral, spiritual, dan sosial yang diwariskan secara lisan.
Topik utama diskusi juga menyoroti Sulanjana/Sulamjana yang berkaitan dengan kisah Nyipohaci, sebagai simbol kesuburan dan keseimbangan alam. Nilai ini diperkuat dengan pembahasan Kitab Tarampah (Cecekelan) yang memuat sejarah sembilan turunan Cilebang, dengan prinsip “aya titipan, aya tutupan” sebagai pedoman menjaga amanah leluhur.
Ritual adat seperti Laisan, Tarun Kalanun, Koncer (ikat) Sacangred Pageh dibahas secara mendalam. Para peserta diskusi sepakat bahwa ritual tersebut mengandung makna penguatan niat, keteguhan adat, dan keterhubungan manusia dengan alam serta leluhur.
Kasepuhan Cilebang memiliki prinsip kebersamaan yaitu “Sarendeuk Saigel Sabata (serentak/bersama) dan Sarimbangan” menjadi benang merah dalam setiap pembahasan, menekankan pentingnya keselarasan dalam kehidupan bermasyarakat.
Aspek spiritual turut menjadi perhatian melalui pembahasan tenjo arah, yakni pencarian makna batin yang diibaratkan sebagai upaya menemukan orang dengan cara membakar dan melaksakanakan ritual dari “getah berwarna putih”. Diskusi ini memperkaya pemahaman peserta mengenai dimensi spiritual dalam tradisi adat.
Selain membahas konsep, diskusi juga menyebutkan praktik lapangan yang terdokumentasi, seperti dongeng, rinu (arek), mipit (mengambil padi), netepken (mengambil padi untuk disimpan sebelum dikonsumsi), anyaran sebagai ritual awal, serta proses bebenangan yang hasilnya akan digiling di kemudian hari.
Melalui diskusi budaya ini, masyarakat berharap kesenian dan ritual adat Cilebang dapat terus dipahami secara utuh, tidak hanya sebagai tradisi masa lalu, tetapi sebagai pedoman hidup yang relevan bagi generasi masa kini dan mendatang.
***Aldin/BH