Pikukuh yang sangat terkenal “Gunung teu menang dilebur, lebak teu menang dirusak” itu bukan sekedar rangkaian kata berasal dari masyarakat adat Kanekes tetapi sebagai prinsip ataupun ideologi tentang bagaimana melestarikan lingkungan dan memanfaatkan sumber daya alam.
Masyarakat Kanekes tinggal di wilayah pegunungan kendeng sebagai tempat tinggal mereka dan sebagai mata pencaharian utama yaitu menanam padi “ngahuma” atau berkebun. Selain itu, masyarakat Kanekes juga memanfaatkan gunung kendeng yang kaya sumber daya alam sebagai rumah sakit. Istilah disini gunung kendeng sebagai rumah sakit karena tumbuhan yang ada di kawasan ini bisa dimanfaatkan sebagai obat-obatan tradisional.
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten bersama Banten Heritage, Mahasiswa UIN SMH Banten, Mahasiswa Universitas Setia Budi, dan mitra muda Banten Heritage (MMBH) Melakukan FGD tentang pengobatan tradisional masyarakat kanekes.
Dalam konteks kesehatan masyarakat Baduy ketika dalam keadaan ‘sakit’ adalah nyeri, muriang, dan gering. Sementara itu masyarakat kanekes dinyatakan sakit oleh Paraji (Dukun) atau Kokolot Lembur (Tetua Kampung), menyatakan seseorang sedang sakit.
Pengobatan tradisional menggunakan tanaman yang tumbuh di gunung kendeng sebagai pengetahuan tradisional yang harus di wariskan turun temurun.
Klasifikasi tanaman yang dapat digunakan diantaranya: Daun aceh (rambutan), cecendet (ciplukan), cangkudu (mengkudu), cikur (kencur), harendong (senggani), jahe, jukut eurih (alang-alang), jukut wisa (jarong ), kadaka (sisik naga), laja goah (lengkuas gajah), lame putih (pulai), lempuyang emprit (lempuyang pahit), panglay (bangle), sirsak (sirsak), dan singugu (senggugu).
Jenis-jenis tanaman ini banyak digunakan dalam pengobatan penyakit yang sering diderita oleh masyarakat Baduy seperti panas/demam/meriang, batuk, sakit perut/diare, sakit gigi, pusing, pegal linu encok/nyeri otot, luka/borok, dan lemas/kurang bertenaga.
Untuk mengobati penyakit panas/demam/meriang masyarakat Baduy biasanya menggunakan:
● minuman dari rebusan air daun dadap, jukut tiis, dan daun aceh, atau
● minuman dari air seduhan remasan daun kaca piring dan daun sirsak.
Untuk penyakit batuk diobati dengan:
● minuman dari rebusan bunga calincing (Oxalis corniculata L.),
● minuman dari air rebusan tanaman utuh cecendet,
● air saringan jahe parut/tumbuk, dan
● air saringan cikur parut/tumbuk.
Untuk penyakit sakit perut/diare mereka menggunakan:
● minuman dari air rebusan tanaman utuh cecendet,
● minuman air rebusan daun muda harendong,
● daun jambu klutuk yang dimakan mentah,
● minuman air rebusan kulit pohon lame putih, dan
● minuman seduhan lempuyang.
Untuk penyakit gigi digunakan:
● tetesan getah angsana (atau sonokembang, Pterocarpus indicus Willd.) pada gigi yang sakit dan
● daun kadaka yang digigitkan tepat pada gigi yang sakit.
Untuk penyakit pusing/sakit kepala digunakan:
● tetesan air perasan bunga jukut kakacangan,
● minuman seduhan laja goah, minuman air rebusan kulit pohon lame putih, dan (4) minuman seduhan lempuyang.
Untuk penyakit lemas/nyeri otot/encok biasanya menggunakan: (1) tumbukan jukut bau yang diborehkan pada bagian yang sakit, (2) minuman seduhan lempuyang, (3) pucuk daun senggugu yang ditempelkan pada bagian yang sakit, (4) parutan atau tumbukan jahe yang dibalurkan pada bagian yang sakit.
Untuk penyakit luka/borok digunakan: (1) remasan daun harendong yang ditempelkan pada bagian yang sakit dan (2) remasan jukut bau yang ditempelkan pada bagian yang sakit.
Untuk penyakit lemas/kurang bertenaga mereka menggunakan: (1) minuman rebusan daun capeuk, (2) minuman rebusan umbi laja goah dan kulit pohon lame, dan (3) lalapan temu embek.
***Penulis (Japra/BH, OI/BH)