BERITA

Mahasiswa Universitas Setia Budhi Rangkasbitung Kuliah Lapangan di Situs Kosala

"Untuk menambah bobot pengetahuan, mahasiswa perlu studi lapangan, terutama dalam pembelajaran mata kuliah Pengantar Arkeologi", demikian disampaikan oleh Dr. Moh Ali Fadillah saat membersamai mahasiswa Pendidikan Sejarah, FKIP Universitas Setia Budhi Rangkasbitung di Situs Purbakala Kosala, Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, Banten pada Kamis (27/11) lalu.

Diikuti oleh 12 orang mahasiwa Semester III dan V Semester Ganjil 2025, mata kuliah Pengantar Arkeologi mendapatkan pengenalan langsung terhadap situs yang bercorak tradisi megalitik di kaki Gunung Halimun. Selanjutnya dikatakan, "Dengan melihat langsung situsnya, mahasiswa berkesempatan memperaktekkan pengetahuan teoretis di kelas melalui tugas pengamatan, pencatatan, penggambaran, dan mencoba untuk membangun interpretasi sesuai pengetahuan mereka di lapangan". Pengetahuan lapangan bagi mahasiwa Pendidikan Sejarah juga penting. "Nanti ketika mereka sudah mendapatkan tugas sebagai guru sejarah, situs arkeologi akan menjadi sumber pembelajaran baru di luar kelas", Pungkas Ali dalam tugasnya sebagai Pengampu Pengantar Arkeologi di Universitas Setia Budhi Rangkasbitung.

Bagi mahasiswa sendiri, kunjungan ke situs arkeologi merupakan pengalaman baru yang penting untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya ilmu arkeologi dipraktekkan. "Sungguh penting untuk mengetahui metode arkeologi dilakukan di lapangan, terutama kami ingin mengetahui teknik survey arkeologi, apalagi situs arkeologinya masih berada di daerah Lebak", demikian dikatakan Siti Juheriyah, mahasiswa yang mengampu Pengantar Arkeologi.

Studi lapangan ini juga diikuti oleh mahasiwa semester V yang mengambil mata kuliah Metodologi Sejarah dan Filsafat Sejarah. Menurut Ikmaluddin, "Studi lapangan sangat signifikan bagi kami terutama untuk memahami data arkeologi sebagai sumber sejarah primer untuk rekonstruksi sejarah khususnya dari periode transisi antara Prasejarah dan Sejarah di daerah Banten". Selain itu, "Kesulitan memahami filsafat sejarah di kelas dapat lebih jelas di lapangan, karena dengan pengetahuan empirik, kami menemukan pentingnya studi sejarah kritis untuk mengungkapkan peristiwa masa lalu yang tidak selalu digambarkan secara jelas dalam sumber tekstual", tegas Ikmaluddin.

Aldin/Penulis BH

Mahasiswa Universitas Setia Budhi Rangkasbitung Kuliah Lapangan di Situs Kosala

“Untuk menambah bobot pengetahuan, mahasiswa perlu studi lapangan, terutama dalam pembelajaran mata kuliah Pengantar Arkeologi”, demikian disampaikan oleh Dr. Moh Ali Fadillah saat membersamai mahasiswa Pendidikan Sejarah, FKIP Universitas Setia Budhi Rangkasbitung di Situs Purbakala Kosala, Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, Banten pada Kamis (27/11) lalu.

Diikuti oleh 12 orang mahasiwa Semester III dan V Semester Ganjil 2025, mata kuliah Pengantar Arkeologi mendapatkan pengenalan langsung terhadap situs yang bercorak tradisi megalitik di kaki Gunung Halimun. Selanjutnya dikatakan, “Dengan melihat langsung situsnya, mahasiswa berkesempatan memperaktekkan pengetahuan teoretis di kelas melalui tugas pengamatan, pencatatan, penggambaran, dan mencoba untuk membangun interpretasi sesuai pengetahuan mereka di lapangan”. Pengetahuan lapangan bagi mahasiwa Pendidikan Sejarah juga penting. “Nanti ketika mereka sudah mendapatkan tugas sebagai guru sejarah, situs arkeologi akan menjadi sumber pembelajaran baru di luar kelas”, Pungkas Ali dalam tugasnya sebagai Pengampu Pengantar Arkeologi di Universitas Setia Budhi Rangkasbitung.

Bagi mahasiswa sendiri, kunjungan ke situs arkeologi merupakan pengalaman baru yang penting untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya ilmu arkeologi dipraktekkan. “Sungguh penting untuk mengetahui metode arkeologi dilakukan di lapangan, terutama kami ingin mengetahui teknik survey arkeologi, apalagi situs arkeologinya masih berada di daerah Lebak”, demikian dikatakan Siti Juheriyah, mahasiswa yang mengampu Pengantar Arkeologi.

Studi lapangan ini juga diikuti oleh mahasiwa semester V yang mengambil mata kuliah Metodologi Sejarah dan Filsafat Sejarah. Menurut Ikmaluddin, “Studi lapangan sangat signifikan bagi kami terutama untuk memahami data arkeologi sebagai sumber sejarah primer untuk rekonstruksi sejarah khususnya dari periode transisi antara Prasejarah dan Sejarah di daerah Banten”. Selain itu, “Kesulitan memahami filsafat sejarah di kelas dapat lebih jelas di lapangan, karena dengan pengetahuan empirik, kami menemukan pentingnya studi sejarah kritis untuk mengungkapkan peristiwa masa lalu yang tidak selalu digambarkan secara jelas dalam sumber tekstual”, tegas Ikmaluddin.

Aldin/Penulis BH

PANEL LOGIN

Scroll to Top