Pandeglang (8/11/25)— Dalam upaya menggali kembali identitas kebudayaan Banten yang autentik, para seniman, budayawan, dan akademisi berkumpul dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Rekonstruksi Muka Banten Berlandaskan Babad Banten dan Babad Banten Girang.” Kegiatan ini menjadi ruang dialog untuk menelusuri jejak-jejak yang mulai hilang dari wajah kebudayaan Banten.
Diskusi yang berlangsung hangat ini mengangkat gagasan penting tentang bagaimana kisah Banten tidak hanya dipahami dari sisi kepahlawanan atau politik masa lalu, tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi perkembangan kesenian dan kreativitas masyarakat kini. Seperti diungkapkan oleh beberapa narasumber, Banten perlu berani “membuka kedok” dan menampilkan wajah budayanya sendiri—bukan sekadar meniru narasi besar yang sudah banyak digunakan.
Salah satu pesan kuat yang muncul adalah pentingnya mencatat hasil-hasil diskusi dan pengalaman budaya, agar tidak kembali hilang ditelan waktu. “Cerita jawara bukanlah cerita panji,” ujar salah satu peserta, menekankan bahwa kisah kepahlawanan lokal Banten memiliki karakter dan nilai yang berbeda dari kisah-kisah klasik Jawa.
Dalam FGD ini juga dibahas tantangan Kesultanan Banten pada masa lalu dalam membangun model kesenian dan storytelling yang mampu menjadi tontonan menarik bagi masyarakat. Dari refleksi tersebut muncul dorongan agar seniman masa kini berani menciptakan cerita baru berbasis Babad Banten dan Babad Banten Girang—membangun dunia pertunjukan yang berakar kuat pada warisan lokal.
Budayawan Dadan Sujana menyoroti pentingnya menghadirkan kesenian yang menampilkan kebesaran dengan kelembutan, sebagaimana kesenian “raket” yang hanya muncul dalam kehadiran Sultan. Ia menambahkan, bila nanti menjadi pertunjukan, maka perlu ada seni yang gemulai dan berkarakter khas Banten.
Senada dengan itu, Yadi Ahyadi mendorong para pelaku seni untuk menciptakan gerak tari dan istilah khas Banten, bukan sekadar meniru gaya luar. Ia juga menyarankan adanya tindak lanjut berupa workshop lintas daerah agar kreativitas itu tumbuh di berbagai wilayah Banten.
Sementara itu, Ali Fadillah mengusulkan agar Babad Banten dan Babad Banten Girang dijadikan dasar dalam mencipta cerita Ciu Wanara—kisah kepahlawanan yang dapat diterjemahkan ke dalam pertunjukan topeng khas Banten. Menurutnya, topeng adalah medium yang memungkinkan lahirnya karakter-karakter baru yang benar-benar “dibuat sendiri” oleh masyarakat Banten.
Lebih jauh, para peserta sepakat bahwa hasil diskusi ini menjadi modal penting bagi akademisi untuk terus mengangkat karakteristik kebudayaan Banten, serta menjadikannya bagian dari Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia.
Menutup diskusi, semangat pelestarian dan inovasi bergema kuat: melestarikan budaya yang telah ada, menahan kekacauan yang bersumber dari budaya asing, dan menciptakan ruang baru bagi generasi muda untuk menampilkan wajah Banten yang sejati kaya, lembut, dan berdaulat atas identitasnya sendiri.
***Penulis (OI/BH) di