Cagar Budaya Keraton Kaibon dikenal dengan nama Keraton Kaibon, dengan Nomor Inventaris: 003.01.07.03.08. Dilihat dari lokasi dan lingkungan sekarang, Keraton Kaibon dapat dikategorikan sebagai runtuhan bangunan yang dikaitkan dengan fungsi pemerintahan pada awal abad XIX. Keraton Kaibon didirikan di tepi Sungai Ci Banten yang dikelilingi oleh kanal buatan, dengan arah hadap timur-barat.




Struktur yang diduga “keraton” berada di areal paling timur dalam situs, menghadap ke barat di mana terdapat kanal yang melingkari jalur sungai Ci Banten. Pada saat ini Keraton Kaibon berlokasi di tepi jalan raya Kasemen dan Pelabuhan Karangantu dalam lingkungan Keroya (Gbr. 3). Secara administratif Keraton Kaibon masuk ke dalam wilayah Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.
Menurut beberapa sumber tertulis, Keraton Kaibon dibangun pada akhir masa pemerintahan kesultanan antara 1809 dan 1811. Pembangunan Keraton Kaibon merupakan alternatif bagi kedudukan sultan setelah Keraton Surasowan dihancurkan pada tahun 1808. Ketiadaan istana mengakibatkan kedaulatan 16 kesultanan melemah dengan diberhentikannya Sultan Aliyuddin (1803-1808). Heekern menyebutkan bahwa Aliyuddin adalah sultan terakhir yang memerintah pada saat Willem Daendels memulai bertugas di Jawa (Brumund, 1840; Heekeren, 1856; Chijs, 1881).
Keraton Kaibon sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari Kawasan Situs Banten Lama. Dalam penguasaan dan pengelolaan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII, kondisi ODCB beserta lingkungannya saat ini terawat dengan baik. Perawatan bagian atau seluruhnya dilakukan secara rutin pasca pemugaran yang dilaksanakan sejak tahun 1980-an hingga tahun 2000-an.
Nilai penting CB Keraton Kaibon dapat dilihat dari perspektif historis dan arkeologis. Secara historis, Keraton Kaibon merupakan bukti peristiwa peralihan rezim politik antara akhir abad XVIII dan awal abad XIX, dari Kesultanan Banten ke Pemerintah Hindia Belanda yang berpusat di Batavia (Jakarta).
Struktur Keraton Kaibon terbuat dari bahan typical Jawa khususnya di pusat kota Banten dan pinggirannya, yaitu terbuat dari bata berkualitas baik yang dikuatkan dengan perekat dari bakaran karang. Struktur Keraton Kaibon tidak ditemukan di tempat di daerah Banten dan di tempat lainnya. Demikian pula rancangannya, meskipun mengikuti konsep klasik terutama dengan konsep rumah di Bali, namun struktur dibuat pada abad XIX ketika bangunan Belanda sudah diperkenalkan untuk pusat pemerintahan Residentie Bantem di Kota Serang.
Referensi
Fadillah, M.A. 2010. Dari Sunda Menuju Banten, Esai-Esai Arkeologi Etnisitas, Serang: Untirta Press. https://kisarnaja.id/unduhan/dari-sunda-menuju-banten-esai-esai-arkeologi-etnisitas/
Fajri, A. 2025. “Warisan Kesultanan Banten: Narasi, Situs Arkeologi dan Artefak Keruntuhan”, In: Urang Banten: Sejarah, Islam dan Identitas (Ed. Yanwar Pribadi), Serang: Penerbit A-Empat.
Breugel, J.D.R. van. 1856. “Bantam in 1786,” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië, 5de Deel: 107-70.
Brumund, J.F.G. 1840. “Een reisje door de Residentie Bantam”. Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, 3 (2), 687-705.
Chijs, J.A. van der. 1881. “Oud-Bantam,” Tijdschrift voor Taal, Land, -en Volkenkundige, 26: 1-62.
Anonim. 1985. “Laporan Pemugaran Keraton Kaibon Tahun 1982-1985,” Direktorat Perlindungan dam Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Jakarta.
Anonim. 1995. “Laporan Pemugaran Keraton Kaibon Tahun 1991-1995,” Direktorat Perlindungan dam Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jakarta.
Anonim. 1999. “Laporan Pemugaran Keraton Kaibon,” Serang: Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Jakarta.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Nomor 5168);
LPPM UNTIRTA 2025. Laporan Kajian Objek Diduga Cagar Budaya Keraton Kaibon: Bappeda Kota Serang.