BERITA

Banten Heritage: FGD Pelestarian Rumah Benjol

Serang.- Membaca Ulang Jejak Tionghoa di Banten: Rumah Benjol dan Harapan Revitalisasi
Kampung Pamarican, Banten — Sebuah rumah tua berciri khas arsitektur Tionghoa di tengah kawasan Banten Lama menjadi saksi bisu sejarah panjang interaksi budaya di Nusantara. Rumah yang dikenal dengan sebutan Rumah Benjol itu, Kamis (25/9), menjadi fokus diskusi dalam Forum Grup Diskusi (FGD) bertajuk “Pelestarian Rumah Benjol di Kampung Pamarican”. Dihadiri para sejarawan, arsitek, komunitas budaya, dan pemangku kepentingan, FGD ini mengangkat pentingnya pelestarian rumah tersebut sebagai bagian dari warisan budaya etnis Tionghoa di Banten.

"Benda Mati yang Menghidupkan Sejarah". Mengawali diskusi, Dr. Moh. Ali Fadillah, DEA memaparkan bagaimana benda mati seperti bangunan tua justru mampu menghidupkan kembali narasi sejarah. “Kita mencoba mencari alasan mengapa bangunan seperti Rumah Benjol ini perlu ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Ini bukan sekadar struktur, tapi memori kolektif yang mengikat lintas generasi,” ujarnya.

Dalam paparannya bertajuk “The Chinese of Banten: Archaeo-Historical Traces”, ia memaparkan jejak panjang komunitas Tionghoa di Banten, yang telah hadir sejak abad ke-15, berdasarkan berbagai sumber seperti catatan Chau Ju-Kua hingga peta pelayaran Shun Feng Hsiang Shung.

Wajah Arsitektur yang Terlupakan, Arsitek Junita Bahari Nonci, IAI, memaparkan secara detail karakter arsitektur Rumah Tionghoa di Banten Lama, termasuk Rumah Benjol. Ia menyebutkan bahwa bangunan ini memiliki nilai tinggi sebagai representasi visual warisan budaya, meski saat ini kondisinya memprihatinkan. “Revitalisasi bukan sekadar memperbaiki fisik bangunan, tapi juga menghidupkan fungsi sosial dan ekonominya. Kawasan Banten Lama harus didorong menjadi kawasan heritage yang hidup, bukan museum mati,” jelasnya.

Strategi revitalisasi yang ditawarkan mencakup pemugaran, penyusunan zona fungsional, hingga pengembangan ruang publik yang terintegrasi dengan ekonomi lokal berbasis warisan budaya.

Makna Budaya dan Harapan Komunitas. Sementara itu, Iwan Subakti, pegiat budaya lokal, menyampaikan keresahannya atas kondisi rumah-rumah tua yang tidak terawat. “Banyak Cagar Budaya kita rusak karena tak ada tindakan nyata. Revitalisasi Rumah Benjol harus jadi model, bukan sekadar wacana,” tegasnya.

Revitalisasi, katanya, dapat menjadikan rumah tua ini sebagai sarana edukasi interaktif, pusat kegiatan komunitas, dan simbol identitas multikultural di Banten. Wafa dari Bantenologi menyoroti lambannya proses revitalisasi akibat perubahan kebijakan, termasuk transisi peran lembaga pelestarian cagar budaya. Namun demikian, katanya, masyarakat dan komunitas kini justru lebih siap terlibat aktif.

Penutup FGD kembali ditegaskan oleh Dr. Ali Fadillah, bahwa Rumah Benjol menyimpan tiga kepentingan utama:
1. Akademis, sebagai jejak keberadaan etnis Tionghoa di Banten,
2. Publik, sebagai sarana edukasi dan wisata sejarah,
3. Kultural, sebagai warisan multikulturalisme yang dapat diangkat hingga tingkat nasional maupun internasional.

Membangun Masa Depan dari Warisan Masa Lalu. dengan narasi sejarah yang kuat, nilai arsitektur yang unik, dan semangat gotong royong yang mulai tumbuh, Rumah Benjol tak sekadar bangunan tua, tapi bisa menjadi ikon revitalisasi budaya urban di Banten.***(Aldin Nur Habibi Hadiyanto).

Banten Heritage: FGD Pelestarian Rumah Benjol

Serang.- Membaca Ulang Jejak Tionghoa di Banten: Rumah Benjol dan Harapan Revitalisasi
Kampung Pamarican, Banten — Sebuah rumah tua berciri khas arsitektur Tionghoa di tengah kawasan Banten Lama menjadi saksi bisu sejarah panjang interaksi budaya di Nusantara. Rumah yang dikenal dengan sebutan Rumah Benjol itu, Kamis (25/9), menjadi fokus diskusi dalam Forum Grup Diskusi (FGD) bertajuk “Pelestarian Rumah Benjol di Kampung Pamarican”. Dihadiri para sejarawan, arsitek, komunitas budaya, dan pemangku kepentingan, FGD ini mengangkat pentingnya pelestarian rumah tersebut sebagai bagian dari warisan budaya etnis Tionghoa di Banten.

“Benda Mati yang Menghidupkan Sejarah”. Mengawali diskusi, Dr. Moh. Ali Fadillah, DEA memaparkan bagaimana benda mati seperti bangunan tua justru mampu menghidupkan kembali narasi sejarah. “Kita mencoba mencari alasan mengapa bangunan seperti Rumah Benjol ini perlu ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Ini bukan sekadar struktur, tapi memori kolektif yang mengikat lintas generasi,” ujarnya.

Dalam paparannya bertajuk “The Chinese of Banten: Archaeo-Historical Traces”, ia memaparkan jejak panjang komunitas Tionghoa di Banten, yang telah hadir sejak abad ke-15, berdasarkan berbagai sumber seperti catatan Chau Ju-Kua hingga peta pelayaran Shun Feng Hsiang Shung.

Wajah Arsitektur yang Terlupakan, Arsitek Junita Bahari Nonci, IAI, memaparkan secara detail karakter arsitektur Rumah Tionghoa di Banten Lama, termasuk Rumah Benjol. Ia menyebutkan bahwa bangunan ini memiliki nilai tinggi sebagai representasi visual warisan budaya, meski saat ini kondisinya memprihatinkan. “Revitalisasi bukan sekadar memperbaiki fisik bangunan, tapi juga menghidupkan fungsi sosial dan ekonominya. Kawasan Banten Lama harus didorong menjadi kawasan heritage yang hidup, bukan museum mati,” jelasnya.

Strategi revitalisasi yang ditawarkan mencakup pemugaran, penyusunan zona fungsional, hingga pengembangan ruang publik yang terintegrasi dengan ekonomi lokal berbasis warisan budaya.

Makna Budaya dan Harapan Komunitas. Sementara itu, Iwan Subakti, pegiat budaya lokal, menyampaikan keresahannya atas kondisi rumah-rumah tua yang tidak terawat. “Banyak Cagar Budaya kita rusak karena tak ada tindakan nyata. Revitalisasi Rumah Benjol harus jadi model, bukan sekadar wacana,” tegasnya.

Revitalisasi, katanya, dapat menjadikan rumah tua ini sebagai sarana edukasi interaktif, pusat kegiatan komunitas, dan simbol identitas multikultural di Banten. Wafa dari Bantenologi menyoroti lambannya proses revitalisasi akibat perubahan kebijakan, termasuk transisi peran lembaga pelestarian cagar budaya. Namun demikian, katanya, masyarakat dan komunitas kini justru lebih siap terlibat aktif.

Penutup FGD kembali ditegaskan oleh Dr. Ali Fadillah, bahwa Rumah Benjol menyimpan tiga kepentingan utama:
1. Akademis, sebagai jejak keberadaan etnis Tionghoa di Banten,
2. Publik, sebagai sarana edukasi dan wisata sejarah,
3. Kultural, sebagai warisan multikulturalisme yang dapat diangkat hingga tingkat nasional maupun internasional.

Membangun Masa Depan dari Warisan Masa Lalu. dengan narasi sejarah yang kuat, nilai arsitektur yang unik, dan semangat gotong royong yang mulai tumbuh, Rumah Benjol tak sekadar bangunan tua, tapi bisa menjadi ikon revitalisasi budaya urban di Banten.***(Aldin Nur Habibi Hadiyanto).

PANEL LOGIN

Scroll to Top