PANDEGLANG.- Organisasi nirlaba Banten Heritage resmi menunjuk Prof. Mufti Ali, Ph.D sebagai direktur baru untuk periode 2025–2029. Pemilihan ini dilakukan pada Sabtu, 12 Juli 2025 di Saung Saba Juhut, Kampung Cinyurup, Kabupaten Pandeglang.
Penunjukan Prof. Mufti Ali, yang merupakan Guru Besar UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten sekaligus alumnus Universitas Leiden, Belanda, menandai langkah baru dalam struktur kepemimpinan Banten Heritage.
Prof. Mufti menyampaikan sejak lama dirinya menaruh harapan agar Banten Heritage berperan aktif sebagai lembaga riset independen yang mendorong kemajuan kebudayaan di luar struktur pemerintah. “Kita hidup di tengah arus globalisasi yang memengaruhi seluruh aspek kehidupan, termasuk budaya lokal. Karena itu, kita tidak boleh diam. Isu riset kebudayaan harus dimulai dari akar persoalan kultural yang menjadi fondasi masyarakat Banten,” tegasnya.
Ia menambahkan, dengan amanah yang kini diembannya, Banten Heritage akan berupaya mengumpulkan seluruh potensi yang ada untuk terus mendorong kemajuan peradaban dan budaya Banten.
Mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Prof. Mufti menegaskan bahwa Banten Heritage siap mendukung pemerintah dan masyarakat dalam menyusun Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) dan membantu mengidentifikasi unsur-unsur kebudayaan khas Banten.
Untuk mengoptimalkan kinerja, Banten Heritage kini mengembangkan empat pilar utama atau task force, yang akan menjadi penggerak utama lembaga baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. Bahkan, organisasi ini mulai menjalin kerja sama dengan peneliti luar negeri dari Belanda, Prancis, Jepang, dan negara-negara maju lainnya.
“Dalam lima tahun ke depan, kami menargetkan memiliki basis data riset yang mencakup geografi, sejarah, etnografi, dan elemen budaya lainnya. Semua itu akan diolah menjadi bahan edukasi publik melalui berbagai platform digital,” terangnya.
Pendiri Banten Heritage, Dr. Moh Ali Fadillah, yang turut mengukuhkan struktur kepengurusan baru, menyampaikan optimisme terhadap kepemimpinan Prof. Mufti. “Ia merupakan kader lama yang telah aktif sejak 2010. Kepemimpinannya diharapkan mampu membawa perubahan signifikan dalam pendekatan riset budaya di tengah tantangan global,” ujarnya.
Ia menyebut kepemimpinan Prof. Mufti sebagai bentuk “restorasi total” dengan melakukan perubahan pada fondasi struktural organisasi secara lebih dinamis dan inklusif. “Dulu, anggota Banten Heritage mayoritas berasal dari kalangan akademisi di bidang sejarah, budaya, dan pendidikan. Kini, organisasi ini juga melibatkan kader muda dari disiplin ilmu lain seperti ekonomi, hukum, pariwisata, hingga komunikasi,” pungkas Ali.***
