Serang (11/4/2026) — Diskusi bertema antropologi budaya yang dihadiri oleh para pelajar Banten berlangsung hangat di Sekolah RUMI, tepatnya di Teras Bamboo. Kegiatan ini menjadi ruang belajar terbuka untuk memahami kebudayaan Banten dari sudut pandang ilmiah, sekaligus membongkar stigma yang kerap melekat pada masyarakatnya. Dalam diskusi tersebut ditegaskan bahwa kebudayaan Banten yang kerap dianggap “kasar” sejatinya merupakan hasil dari keterbiasaan sosial yang terbentuk dalam kehidupan sehari-hari.
Materi disampaikan oleh Ali Fadillah, yang menjelaskan bahwa dalam kajian antropologi, kebiasaan yang dianggap wajar oleh suatu kelompok merupakan bagian dari konstruksi budaya itu sendiri. Antropologi berasal dari bahasa Yunani, yakni antropos (manusia) dan logos (ilmu), yang berarti studi tentang manusia. Ia juga menguraikan bahwa perkembangan awal antropologi dapat ditelusuri sejak pemikiran Herodotus, kemudian berlanjut melalui catatan perjalanan Marco Polo, hingga berkembang pesat sebagai disiplin ilmu pada abad ke-19.
Lebih lanjut, dijelaskan berbagai cabang antropologi seperti antropologi sosial, arkeologi, linguistik, hingga antropologi fisik. Selain itu, pendekatan seperti antropologi strukturalis, fungsionalis, urban, gender, dan politik turut menjadi cara untuk melihat dinamika masyarakat. Diskusi juga menyinggung konsep totemisme dan politeisme yang pada masa lalu yang banyak dikritik, serta praktik lokal seperti “jangjawokan” yang memiliki fungsi dan kepentingan berbeda dalam masyarakat.
Tak hanya itu, peserta juga diajak memahami konsep kebudayaan melalui tiga unsur utama, yakni sistem nilai (value system), sistem pengetahuan (knowledge system), dan sistem simbolik (symbolic system). Ketiga aspek ini menjadi fondasi dalam membentuk identitas suatu masyarakat. Pertanyaan mengenai lokalisme pun mengemuka, yang dijelaskan sebagai upaya mempertahankan nilai-nilai lokal di tengah arus globalisasi.
Diskusi di Teras Bamboo ini diharapkan mampu membuka wawasan pelajar Banten agar lebih memahami dan menghargai kebudayaannya secara ilmiah. Sekolah RUMI pun menjadi ruang alternatif yang penting dalam membangun kesadaran budaya di kalangan generasi muda.