Latar Belakang

Provinsi Banten sebagaimana telah ditetapkan melalui Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2000, dengan wilayah mencakup bekas Karesidenan Banten, masih lamban dalam menemukan sebuah identitas spesifik. Persoalan mendasar yang dihadapi Banten sekarang adalah bagaimana daerah ini mampu menyusun fondasi budaya yang kokoh bagi terwujudnya tatanan masyarakat madani yang semakin hari semakin kompleks.

Sesungguhnya telah banyak upaya dilakukan oleh sekelompok intelektual, teknokrat, budayawan, seniman dan kelompok-kelompok kepentingan untuk menjawab masalah krusial tersebut dengan memformulasikan sebuah ideal type budaya Banten yang dianggap kondusif, tetapi ikhtiar itu masih sebatas wacana ‘politik kebudayaan’. Beberapa kelompok memang telah mengaplikasikan gagasan-gagasan konseptual tentang kebudayaan Banten melalui berbagai cultural action. Namun gerakan itu masih bersifat instan, parsial, adaptif dan reaktif. Bahkan, pikir dan laku budaya itu belum mengarah pada trend kebudayaan sebagai ‘payung pembangunan’; sebuah landasan moral yang seharusnya mengandung nilai dan norma yang sejalan dengan semangat inovatif dan proaktif dalam gerak pembangunan Banten di segala bidang.

Oleh karena itu, diperlukan sebuah upaya yang berkesinambungan untuk menggali, meneliti, mengelola, melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai dan norma-norma budaya dari keseluruhan proses sejarah yang panjang itu tanpa mengesampingkan nilai-nilai modernitas: yang bersumber pada universalitas ilmu pengetahuan dan teknologi dalam era globalisasi. Namun, tidaklah mudah mengintegrasikan nilai-nilai warisan yang semula hanya hidup dalam lokalitas terbatas dan kurun waktu yang amat lama, secara tiba-tiba harus dihadapkan pada realitas kekinian, yakni era industri yang dianggap mampu mendukung pembangunan ekonomi global.

Sudah bisa diduga, jika program pembangunan yang dilandasi nilai-nilai modernitas dipaksakan memasuki tatanan masyarakat yang memegang teguh nilai tradisional, kendati setiap kebudayaan memiliki resistensinya sendiri, gejala cultrual shock, dominasi, dan marginalisasi, potensial membuat kedua nilai menjadi berbenturan. Padahal, seharusnya dipahami, modernisasi tidak identik dengan pembangunan fisik, tetapi mestinya dilihat sebagai instrumen dalam mempersiapkan terbentuknya sebuah new society di atas dasar-dasar budaya warisan yang senantiasa menjadi referensi jati diri dan pijakan permanen bagi pembangunan berkelanjutan.

Berangkat dari isu-isu strategis itu, maka —seperti juga ketika Eropa berhasil keluar dari the dark age dengan diawali oleh pengkajian atas elemen-elemen modernitas dalam kebudayaan klasik Yunani dan Romawi di era renaisans— pendekatan pertama semestinya dimulai dengan kajian atas hasil-hasil kebudayaan Banten dalam keseluruhan ruang dan waktunya. Pendekatan itu diperlukan mengingat masyarakat senantiasa berkembang sesuai dengan kemampuan adaptasinya dalam proses interaksi berkesinambungan dengan kebudayaan-kebudayaan lain.

Dengan begitu, studi kebudayaan Banten harus didasari asumsi bahwa peradaban mana pun senantiasa terbangun dari ‘dalam’, sebagai wujud nyata dari élan vitalmasyarakatnya, sedangkan elemen-elemen ‘eksternal’ hanya terbatas pada perangsangan terjadinya transformasi budaya: apakah itu menstimulasi perubahan budaya, perubahan sosial ataukah sekaligus keduanya.

Dari sudut pandang ini, kebudayaan Banten dapat dikonsepsikan sebagai idealisasi cita pikir dan karya masyarakat yang diperoleh melalui proses belajar dan pewarisan antar-generasi dari setiap titik waktu sejarah (historical juncture). Proses itulah yang telah membentuk kebudayaan Banten sekarang; sebuah pot-pourri atau melting potberbagai unsur budaya. Soalnya, sejauhmanakah berbagai elemen masyarakat Banten telah mengenali kembali tahapan-tahapan perubahan kebudayaan itu, yang sudah pasti berlangsung sejak zaman nirleka, kemudian berlanjut ke masa sejarah: mengalami apa yang dikategorikan sebagai zaman Klasik Hindu-Budha, zaman perkembangan kerajaan-kerajaan Islam, sampai masa kolonial Belanda, atau Inggris dan Jepang yang singkat?

Tampaknya masih terlalu dini untuk mengukur tingkat pengetahuan masyarakat tentang sejarah dan kebudayaan. Fakta-fakta di lapangan telah memberi peluang untuk melakukan pengujian secara akademis. Bahwa pengalaman-pengalaman sejarah itu masih hidup dalam kenangan masyarakat Banten, setidaknya penggalan-penggalan peristiwa sejarah tetap terpelihara dalam ingatan kolektif orang Banten sekarang. Jika kita berangkat dari asumsi bahwa colective memory selalu menjadi referensi setiap tatanan masyarakat tradisional dan juga komunitas modern tertentu, bukankah sekarang penting artinya merevitalisasi kesadaran sejarah itu dalam upaya mengadopsi dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kepentingan pembangunan sosial dan budaya.

Namun, berbagai peristiwa yang terekam, baik dalam bentuk abstraksi nilai-nilai, perilaku sosial maupun hasil-hasil budaya material, kebudayaan Banten mempunyai dimensi bentuk, ruang dan waktu yang berbeda-beda, dan sekarang tercampur dalam strata yang sama di awal Milenium ketiga ini. Transformasi dan komposisi tahapan-tahapan budaya yang kompleks itu sudah tentu bukan sesuatu yang mudah untuk diidentifikasi, direkonstruksi, dan dipresentasikan kembali dalam format kekinian baik secara sinkronis maupun diakronis.

Maka bukan tanpa alasan apabila di tengah-tengah percepatan pembangunan fisik-material di Provinsi Banten, sebuah lembaga independen yang mengkhususkan tugas pokok dan fungsinya untuk mengkaji, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan Banten, bukan saja sangat diperlukan keberadaannya melainkan juga relevan dengan kondisi-kondisi sosial dan budaya yang sedang berubah ke suatu tujuan yang belum jelas arahnya.