1. LATAR BELAKANG
  2. BADAN HUKUM
  3. STRUKTUR ORGANISASI
  4. ANGGOTA
  5. VISI
  6. MISI
  7. TUJUAN
  8. SASARAN
  9. STRATEGI
  10. KEGIATAN
  11. LAMBANG


Provinsi Banten sebagaimana telah ditetapkan melalui Undang-Undang RI  Nomor 23 Tahun 2000, dengan wilayah mencakup bekas Karesidenan Banten, masih lamban dalam menemukan sebuah identitas spesifik. Persoalan mendasar yang dihadapi Banten sekarang adalah bagaimana daerah ini mampu menyusun fondasi budaya yang kokoh bagi terwujudnya tatanan masyarakat madani  yang semakin hari semakin kompleks.

Sesungguhnya telah banyak upaya dilakukan oleh sekelompok intelektual, teknokrat, budayawan, seniman dan kelompok-kelompok kepentingan untuk menjawab masalah krusial tersebut dengan memformulasikan sebuah ideal type budaya Banten yang dianggap kondusif, tetapi ikhtiar itu masih sebatas wacana ‘politik kebudayaan’. Beberapa kelompok memang telah mengaplikasikan gagasan-gagasan konseptual tentang kebudayaan Banten melalui berbagai cultural action. Namun gerakan itu masih bersifat instan, parsial, adaptif dan reaktif. Bahkan, pikir dan laku budaya itu belum mengarah pada trend kebudayaan sebagai ‘payung pembangunan’; sebuah landasan moral yang seharusnya mengandung nilai dan norma yang sejalan dengan semangat inovatif dan proaktif dalam gerak pembangunan Banten di segala bidang.

Oleh karena itu, diperlukan sebuah upaya yang berkesinambungan untuk menggali, meneliti, mengelola, melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai dan norma-norma budaya dari keseluruhan proses sejarah yang panjang itu tanpa mengesampingkan nilai-nilai modernitas: yang bersumber pada universalitas ilmu pengetahuan dan teknologi dalam era globalisasi. Namun, tidaklah mudah mengintegrasikan nilai-nilai warisan yang semula hanya hidup dalam lokalitas terbatas dan kurun waktu yang amat lama, secara tiba-tiba harus dihadapkan pada realitas kekinian, yakni era industri yang dianggap mampu mendukung pembangunan ekonomi global.

Sudah bisa diduga, jika program pembangunan yang dilandasi nilai-nilai modernitas dipaksakan memasuki tatanan masyarakat yang memegang teguh nilai tradisional, kendati setiap kebudayaan memiliki resistensinya sendiri, gejala cultrual shock, dominasi, dan marginalisasi, potensial membuat kedua nilai menjadi berbenturan. Padahal, seharusnya dipahami, modernisasi tidak identik dengan pembangunan fisik, tetapi mestinya dilihat sebagai instrumen dalam mempersiapkan terbentuknya sebuah new society di atas dasar-dasar budaya warisan yang senantiasa menjadi referensi jati diri dan pijakan permanen bagi pembangunan berkelanjutan.

Berangkat dari isu-isu strategis itu, maka —seperti juga ketika Eropa berhasil keluar dari the dark age dengan diawali oleh pengkajian atas elemen-elemen modernitas dalam kebudayaan klasik Yunani dan Romawi di era renaisans—  pendekatan pertama semestinya dimulai dengan kajian atas hasil-hasil kebudayaan Banten dalam keseluruhan ruang dan waktunya. Pendekatan itu diperlukan mengingat masyarakat senantiasa berkembang sesuai dengan kemampuan adaptasinya dalam proses interaksi berkesinambungan dengan kebudayaan-kebudayaan lain.

Dengan begitu, studi kebudayaan Banten harus didasari asumsi bahwa peradaban mana pun senantiasa terbangun dari ‘dalam’, sebagai wujud nyata dari élan vitalmasyarakatnya, sedangkan elemen-elemen ‘eksternal’ hanya terbatas pada perangsangan terjadinya transformasi budaya: apakah itu menstimulasi perubahan budaya, perubahan sosial ataukah sekaligus keduanya.

Dari sudut pandang ini, kebudayaan Banten dapat dikonsepsikan sebagai idealisasi cita pikir dan karya masyarakat yang diperoleh melalui proses belajar dan pewarisan antar-generasi dari setiap titik waktu sejarah (historical juncture). Proses itulah yang telah membentuk kebudayaan Banten sekarang; sebuah pot-pourri atau melting potberbagai unsur budaya. Soalnya, sejauhmanakah berbagai elemen masyarakat Banten telah mengenali kembali tahapan-tahapan perubahan kebudayaan itu, yang sudah pasti berlangsung sejak zaman nirleka, kemudian berlanjut ke masa sejarah: mengalami apa yang dikategorikan sebagai zaman Klasik Hindu-Budha, zaman perkembangan kerajaan-kerajaan Islam, sampai masa kolonial Belanda, atau Inggris dan Jepang yang singkat?

Tampaknya masih terlalu dini untuk mengukur tingkat pengetahuan masyarakat tentang sejarah dan kebudayaan. Fakta-fakta di lapangan telah memberi peluang untuk melakukan pengujian secara akademis. Bahwa pengalaman-pengalaman sejarah itu masih hidup dalam kenangan masyarakat Banten, setidaknya penggalan-penggalan peristiwa sejarah tetap terpelihara dalam ingatan kolektif orang Banten sekarang. Jika kita berangkat dari asumsi bahwa colective memory selalu menjadi referensi setiap tatanan masyarakat tradisional dan juga komunitas modern tertentu, bukankah sekarang penting artinya merevitalisasi kesadaran sejarah itu dalam upaya mengadopsi dan mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kepentingan pembangunan sosial dan budaya.          

Namun, berbagai peristiwa yang terekam, baik dalam bentuk abstraksi nilai-nilai, perilaku sosial maupun hasil-hasil budaya material, kebudayaan Banten mempunyai dimensi bentuk, ruang dan waktu yang berbeda-beda, dan sekarang tercampur dalam strata yang sama di awal Milenium ketiga ini. Transformasi dan komposisi tahapan-tahapan budaya yang kompleks itu sudah tentu bukan sesuatu yang mudah untuk diidentifikasi, direkonstruksi, dan dipresentasikan kembali dalam format kekinian baik secara sinkronis maupun diakronis.

Maka bukan tanpa alasan apabila di tengah-tengah percepatan pembangunan fisik-material di Provinsi Banten, sebuah lembaga independen yang mengkhususkan tugas pokok dan fungsinya untuk mengkaji, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan Banten, bukan saja  sangat diperlukan keberadaannya melainkan juga relevan dengan kondisi-kondisi sosial dan budaya yang sedang berubah ke suatu tujuan yang belum jelas arahnya.

                 

Nama Lembaga

Banten Heritage

 

Tempat dan Tanggal Pendirian

Pandeglang, 31 Desember 2002

 

Tempat Kedudukan

Kantor Pusat di Pandeglang

 

Asas

Pancasila dan nilai-nilai humanitas

Akta Notaris Syahruddin, S.H., M.Kn. tentang Pernyataan Keputusan Rapat Perkumpulan BANTEN HERITAGE Nomor 66, tanggal 28 Desember 2015.

Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-0006100.AH.01.07. Tahun 2016, tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkumpulan BANTEN HERITAGE, tanggal 18 Januari 2016.

Struktur organisasi ”Banten Heritage” adalah sebagai berikut:

  • Pendiri terdiri dari: seorang Ketua dan tujuh anggota pendiri;
  • Dewan Pengawas tediri dari: Seorang Ketua dan lima anggota Dewan Pengawas;
  • Badan Eksekutif terdiri dari:  Direktur selaku Ketua, Sekretaris Jenderal, Bendahara yang membawahi beberapa devisi teknis yang menjalankan tugas bidang tertentu dengan anggota masing-masing, yang jumlahnya tidak disesuaikan dengan kebutuhan.

 

 

Pendiri:

  1. Moh. Ali Fadillah, DEA
  2. Dadan Sujana, M.Pd.                
  3. Uri M. Rachmawiana, S.Pd.
  4. Budi Prakoso, S.H.
  5. Yudi Deni Mulyadi, S.S.                
  6. Saepul Hidayat, S.T.                
  7. Asep Hilmi
  8. Maman Fathurohman, S.E.

 

Dewan Pengawas:

  1. Moh. Ali Fadillah, DEA
  2. Dadan Sujana, M.Pd.
  3. Uri M. Rachmawiana, S.Pd.
  4. Budi Prakoso, S.H.
  5. Saepul Hidayat, S.T.
  6. Asep Hilmi

                                               

 

SUSUNAN BADAN PENGURUS BANTEN HERITAGE

PERIODE 2019-2022

Direktur : Haodudin
Co. Direktur    : Hilmi Hudaya
Sekretaris : Badarudin Riyanto
Bendahara : Mumu Mustofa
     
Koordinator Data, Informasi & Multimedia  : Rian Fauzi
  : Candra Wiguna
  : Ariyanto Permana
     
Koordinator SDM & Kelembagaan  : Choirul Anam
  : Windi Aris Rusdiana
     
Koordinator Pemberdayaan masyarakat  : Firman Gempur Amir
   : Ahmad Dimyati
  : Sumanta Wiria

  

 

Banten Heritage pernah dipimpin oleh:

  1. Moh. Ali Fadillah periode 2002-2005
  2. Budi Prakoso periode 2005-2005
  3. Wachyudin periode 2005-2013
  4. Dadan Sujana periode 2013-2018
  5. Uri Rahmawiana 2018-2018
  6. Haodudin peroide 2019-2022

Anggota Banten Heritage

No. Anggota

Nama

1002.001

MOH. ALI FADILLAH

1002.002

DADAN SUJANA

1002.003

URI M. RACHMAWIANA

1002.004

BUDI PRAKOSO

1002.005

YUDI DENI MULYADI

1002.007

SAEPUL HIDAYAT

1002.008

ASEP HILMI

1003.009

NELI WACHYUDIN

1003.010

MOHAMMAD SHOLEH

1003.011

KUN MARDIONO

1004.012

NURWARTA WIGUNA

1004.013

SAMSUL BAHRI

1005.018

SUHADA

1005.019

CECEP SUTANTO

1010.022

MUFTI ALI

1010.020

HUMAEDI HASAN

1013.023

WANDI S. ASSAYID

1013.024

HAODUDIN

1013.025

AMIR

1017.026

ERIS SALMAN ALFARIZI

1017.027

MUMU MUSTOPA KAMAL     

1017.028

HILMI HUDAYA 

1017.029

RIAN FAUZI

1017.030

AHMAD DIMYATI

1018.031

CHOIRUL ANAM

1018.032

SUMANTA WIRIA

1018.033

ARIYANTO PERMANA

 

Berkembangnya kebudayaan dan peradaban Banten yang dilandasi kearifan lokal, kreativitas, dan inovasi dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat

  1. Mengkaji kebudayaan Banten sebagai upaya meningkatkan pemahaman nilai-nilai sejarah, budaya, dan ilmu pengetahuan dalam rangka perluasan dan peningkatan mutu kebudayaan;
  2. Membina dan mengembangkan kebudayaan Banten sebagai upaya memperteguh jati diri dalam mencapai kemajuan peradaban dan martabat bangsa;
  3. Melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Banten sebagai bagian dari kebudayaan nasional;
  4. Meningkatkan pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya kebudayaan Banten sebagai rujukan pembangunan dalam bidang ekonomi, politik dan sosial budaya.
  1. Mendokumentasikan hasil-hasil kebudayaan Banten mencakup seluruh potensi budaya yang berupa tinggalan budaya material, adat istiadat, sejarah, kesenian, bahasa, religi dan dan teknologi masyarakat;
  2. Mengkaji, melestarikan dan mengembangkan seluruh potensi budaya Banten baik berupa died monumentmaupun living monument dari seluruh periode sejarah;
  3. Mendalami, memperluas dan memberi makna baru terhadap warisan budaya Banten agar sesuai dengan perkembangan zaman dan mampu mengikuti kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi;
  4. Merancang dan merealisasikan komunikasi antarbudaya baik dalam skala lokal, regional maupun internasional;
  5. Mengembangkan jaringan kerja pengkajian, pelestarian dan pemanfaatan warisan budaya dengan instansi pemerintah, lembaga non-pemerintah dan berbagai komponen masyarakat lainnya;
  6. Mengupayakan konsep dan implementasi pembangunan berwawasan budaya baik dalam skala daerah maupun nasional.
  1. Masyarakat adat dan / atau komunitas modern (rural & urban society).
  2. Sumber daya budaya (tinggalan arkeologi dan sejarah, karya-karya keagamaan, susastra, mitologi dan legenda, tradisi ritual dan atraksi kesenian, adat-istiadat dan konsep-konsep kepemimpinan tradisional dan kearifan teknologi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat;.
  3. Integrasi dan konflik antarbudaya dan antaretnik (elemen-elemen primordial dan instrumental etnisitas dalam diversitas budaya lokal);
  4. Kebijakan publik (perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di bidang agama dan sosial budaya, pendidikan dan pengajaran, politik ekonomi, tata ruang wilayah dan kependudukan;
  5. Kedudukan dan peranan wanita dan anak dalam perilaku budaya.
  1. Menggali, meneliti dan mengkaji kebudayaan bagi pemahaman, pendalaman, pengayaan dan pengembangan pengetahuan masyarakat;
  2. Melakukan pemantauan dan mengantisipasi kebijakan publik yang berdampak pada kebudayaan;
  3. Bekerjasama dengan berbagai lembaga atau organisasi kemasyarakatan yang sejalan dengan  visi dan misi lembaga;
  4. Memberdayakan masyarakat dengan membangun kesadaran akan nilai-nilai budaya positif-konstruktif dalam menghadapi berbagai tantangan internal dan eksternal baik di dalam maupun di luar lingkungan budayanya;
  5. Mengajukan penawaran dan promosi kebudayaan yang potensial bagi pengembangan pariwisata dalam berbagai bentuk aktivitas;
  6. Memberdayakan masyarakat agar ikut berperan serta dalam mengelola dan mengembangkan industri pariwisata yang berbasis budaya dan kearifan lokal.
  1. Penelitian dan pengkajian kebudayaan dari berbagai pendekatan dan disiplin keilmuan;
  2. Pendidikan dan pelatihan masyarakat agar menjadi tenaga-tenaga penggerak kebudayaan;
  3. Inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan dalam bentuk gambar, cetakan, fotografi dan audio-visual;
  4. Publikasi dan penerbitan hasil-hasil inventarisasi, dokumentasi, penelitian, pengkajian dan rekayasa teknologi informasi kebudayaan dalam bentuk leaflet, booklet, katalogus, buku, fotografi dan berbagai media massa (cetak dan elektronik).
  5. Seminar, diskusi dan sarasehan yang bertemakan seputar potensi dan hasil-hasil penelitian dan pengkajian kebudayaan serta mekanisme pengembangannya.
  6. Temu budaya, festival dan pameran kebudayaan.
  7. Jasa konsultasi dan advokasi di bidang kebudayaan dan masyarakat.
  8. Pendampingan masyarakat dalam konteks pengembangan kebudayaan yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas hidup.

 

 

Kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh “Banten Heritage”:

  1. Tahun 2003, menggagalkan pemasangan kanopi di Gedung eks Residen Banten
  2. Tahun 2004, menguak tradisi nusantara “Kincir Air” di Bayah Banten (31 Juni 2004)
  3. Tahun 2005, menggelar “Festival Banten” di Museum Bayt Al Quran
  4. Tahun 2006, turut dalam penggarapan film dokumenter “multatuli, aku pasti dibaca” bersama Gong Publishing.
  5. Tahun 2007, turut serta dalam penggarapan “asal usul” di Trans 7, mengenai “Regent Boncel”
  6. Tahun 2007, menggagalkan pembongkaran “water torn” di Pandeglang, Banten
  7. Tahun 2007, menggagalkan rehab “gedung eks kewedanaan” yang menjadi “gedung bale budaya” di Pandeglang
  8. Tahun 2009, membuat film dokumenter “Lebak Cibedug” (Dinas Pendidikan Prov. Banten)
  9. Tahun 2010, membuat film dokumenter “Tangerang” (Dinas Pendidikan Prov. Banten)
  10. Tahun 2015, mengadakan MoU dengan STKIP Setia Budhi Rangkasbitung
  11. Serta kegiatan-kegiatan lainnya.

Kegiatan penerbitan buku yang pernah dilakukan oleh “Banten Heritage”:

  1. Tahun 2003 menerbitkan buku “Tapak Peradaban Purba di Lereng Gunung Pulasari”, kerjasama dengan Disparsenibud Kab. Pandeglang, ISBN 979-98161-0-6.
  2. Tahun 2005 menerbitkan buku “Banten dalam Perjalanan Jurnalistik”. ISBN .
  3. Tahun 2008 turut dalam penerbitan buku “Banten Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII”, penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, ISBN 978-979-91-0144-0
  4. Tahun 2015 menerbitkan buku “Toponimi Nama-nama Daerah di Kota Serang”, kerjasama dengan Disbudpar Prov. Banten, ISBN. 978-602-70226-8-3
  5. Tahun 2015 menerbitkan buku “Bahasa Sunda Banten di Pandéglang”, kerjasama dengan Disbudpar Prov. Banten, ISBN. 978-602-70886-9-0.
  6. Tahun 2015 menerbitkan buku “Kearifan Lokal di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten (Kajian terhadap Syair Puji-pujian/Shashalawatan di Masjis, Mushola, atau Majlis)”, kerjasama dengan Disbudpar Prov. Banten, ISBN: 978-602-6966-00-1.

Lambang Lembaga Banten Heritage disebut

“Ketupat Banten Heritage”

 

 

Lambang tersebut mengandung arti sebagai berikut:

Warna kuning pada lambang “Belah Ketupat” adalah representasi rekayasa manusia untuk warna emas, logam mulia, tidak mengalami korosi dan lentur siap dikreasikan ke dalam bentuk apapun. Makna:

  1. melambangkan keindahan semesta, keabadian, perhiasan penguasa jagad dan manusia,
  2. alat tukar (commercial balance) yang resisten dari fluktuasi,
  3. dalam khazanah sifusme, kuning adalah simbol warna Nabi Yusuf Alaihisalam, representasi kejujuran, keindahan dan belas kasih (humanisme), Jadi warna kuning emas adalah simbol kemulyaan dan keindahan seni dan adab.

 

Dasar putih, memberi warna netral, lambang kesucian, kebersihan dan ketulusan untuk berbakti, bekerja, dan berkarya bagi umat manusia. Makna: dalam sufisme, putih adalah simbol warna Nabi Muhammad SAW; al-amin, rendah hati, pemikir besar. Jadi: putih adalah simbol kesucian batin, yang hanya bekerja sebagai bagian dari ibadah, amar ma’ruf nahi mungkar, rahmatin lil-alamin.

Belah ketupat merepresentasikan benda (artefak) tradisional dunia Melayu (Nusantara). Makna:

  1. instrumen pengikat persaudaraan, silaturahmi, hospitality, friendship,
  2. kreasi anyaman sangat yang sangat familiar dikerjakan dari generasi ke generasi (warisan), dibuat dalam rangka memperingati hari-hari yang patut dikenang dan dirayakan dengan berbagai modifikasi. Jadi: belah ketupat adalah simbol kreativitas dalam semangat kekeluargaan, religius, dan kearifan.

Persegi empat dengan garis proyeksi pada keempat sudut adalah sebuah simpul saling mengikat kuat ke dalam inti, mengkonsolidasikan diri pada cita pikira dan laku menuju berbagai tujuan (multipurpose), menghasilkan gaya sentrifugal yang memancarkan energi ke luar berupa kekuatan transformatif bagi kemajuan budaya, adab yang dilandasi kreativitas dan inovasi secara berkesinambungan. Jadi: persegi empat yang mengikat belah ketupat melambangkan bahwa kekuatan bersumber dari kebudayaan sendiri yang siap beradaptasi dan memainkan peran dalam dinamika budaya universal.