<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Banten Heritage</title>
	<atom:link href="http://bantenheritage.org/id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bantenheritage.org/id</link>
	<description>Memajukan Kebudayaan dan Peradaban Banten</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Aug 2010 08:52:14 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Lebak Cibedug : Sebuah Catatan Perjalanan</title>
		<link>http://bantenheritage.org/id/lebak-cibedug-sebuah-catatan-perjalanan/</link>
		<comments>http://bantenheritage.org/id/lebak-cibedug-sebuah-catatan-perjalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 08:52:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anis Faisal Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>
		<category><![CDATA[cibedug]]></category>
		<category><![CDATA[dokumenter]]></category>
		<category><![CDATA[lebak]]></category>
		<category><![CDATA[punden berundak]]></category>
		<category><![CDATA[situs]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bantenheritage.org/id/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[
Sejumlah orang yang penulis tanya mengenai Cibedug hampir semua balik bertanya dimanakah Cibedug. Sisanya menjawab ngawur.

Cibedug adalah nama sebuah kampung yang masuk dalam wilayah Desa Citorek Barat, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Keterkenalan kampung ini tak dapat dipisahkan dari keberadaan sisa peninggalan zaman megalitik berupa menhir dan punden berundak yang berada dalam satu kompleks [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Sejumlah orang yang penulis tanya mengenai Cibedug hampir semua balik bertanya dimanakah Cibedug. Sisanya menjawab ngawur.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Cibedug adalah nama sebuah kampung yang masuk dalam wilayah Desa Citorek Barat, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Keterkenalan kampung ini tak dapat dipisahkan dari keberadaan sisa peninggalan zaman megalitik berupa menhir dan punden berundak yang berada dalam satu kompleks yang kini diisolasi dan dinamai situs Lebak Cibedug.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesempatan untuk berkunjung ke sana akhirnya datang saat penulis mendapat kepercayaan untuk memimpin pembuatan film dokumenter tentang situs tersebut. Setelah melalui berbagai diskusi penyusunan bahan dan rekrutmen crew produksi, penulis mencoba mendiskusikan persiapan perjalanan ke sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun berada di wilayah Kecamatan Cibeber, namun rute menuju Cibedug ternyata lebih enak ditempuh melalui jalur Pandeglang &#8211; Rangkasbitung – Cipanas – Citorek &#8211; Cibedug, dibanding menempuh jalur Pandeglang – Bayah – Cibeber – Citorek – Cibedug. Jika dibandingkan dalam hitungan jarak dari Pandeglang, maka rute pertama ini berjarak ± 80 Km sedangkan rute kedua berjarak 2 kali lipatnya. Menghadapi pilihan ini tentu saja kami memilih rute pertama.<span id="more-93"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Menggunakan 2 buah mobil, kami berangkat kala mentari baru saja menyembul di ufuk timur. Udara pagi Pandeglang yang dingin bersih menerobos masuk jendela pintu mobil yang kami buka lebar. Segar. Begitu pun yang kami rasakan ketika mobil telah berada di rute menuju Cipanas.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://bantenheritage.org/id/wp-content/uploads/2010/08/DSC_0463.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-94" title="DSC_0463" src="http://bantenheritage.org/id/wp-content/uploads/2010/08/DSC_0463-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Jalanan mulai terasa tidak nyaman ketika kami mulai masuk ke rute perbukitan Cipanas – Citorek. Namun rerimbunan hutan yang tampak hijau yang kadang diselingi oleh areal persawahan luas dalam suasana pedesaan di sepanjang jalanan menuju Cipanas membawa kami pada nuansa yang tidak akan kami peroleh jika berada di kota.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah hampir tiga jam berada di mobil, kami tiba di Desa Citorek Barat. Kami berhenti dan mulai menurunkan ransel serta barang bawaan lainnya. Setelah menitipkan mobil pada penduduk dan mengambil beberapa stock shot kami mulai menyeberangi jembatan gantung pertanda dimulainya rute terberat menuju Cibedug.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://bantenheritage.org/id/wp-content/uploads/2010/08/DSC_0464.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-95" title="DSC_0464" src="http://bantenheritage.org/id/wp-content/uploads/2010/08/DSC_0464-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Jarak dari Citorek ke Cibedug sebenarnya dekat, sekitar 9 Km. Namun karena Cibedug berada di balik perbukitan, maka rute jalan kaki ini kami rasakan berat. Melewati kebun-kebun tradisional, menyusuri pematang sawah, dan menerobos hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun kami terseok-seok memanggul barang-barang. Sesekali kami mengaso sambil menikmati pemandangan dari atas bukit, menikmati suara kolecer, menyapa penduduk yang berpapasan, memandangi gagahnya elang yang terbang berkeliling mencari mangsa sambil mereguk nira segar yang kami peroleh dari petani yang baru saja memanennya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://bantenheritage.org/id/wp-content/uploads/2010/08/DSC_0471.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-96" title="DSC_0471" src="http://bantenheritage.org/id/wp-content/uploads/2010/08/DSC_0471-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menempuh kurang lebih dua pertiga perjalanan, kami akhirnya sampai di puncak bukit yang dipenuhi pohon-pohon besar. Tak jauh dari situ terdapat sebuah situ (danau). Danau di puncak bukit? Nyatanya memang ada.Andai saja danau itu ditata rapi dan tidak dipenuhi gulma, tentu danau itu akan menjadi pesona tersendiri pengobat kelelahan yang kami rasakan. Namun kami tetap dapat menikmati keeksotikannya, terlebih saat serangga hutan dan binatang lain yang saling bersahutan terdengar bagaikan alunan ragam instrumen orkestra yang harmonis. Di tempat itu kami kembali mengambil beberapa adegan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jalur yang kami tempuh setelah danau itu adalah jalan setapak yang menurun. Gerimis yang turun ketika kami beranjak dari danau membuat kami harus menghadapi licinnya jalan setapak menuju Cibedug. Tinggal beberapa saat lagi, namun karena kami tidak ingin terpeleset, sekali lagi kami harus berjalan lambat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika lamat-lamat kami dengar suara anak kecil di kejauhan rombongan pun tersenyum karena akhirnya kami sampai di Cibedug.</p>
<p style="text-align: justify;">Lingkungan situs Lebak Cibedug menjadi gerbang pertama ke perkampungan. Terletak di sisi sebelah kiri jalan, situs itu tampak asri dan cukup terawat. Umar, kontak kami, yang datang menyongsong segera menyilakan kami beristirahat di pondoknya. Keramahan yang ditawarkannya membuat kami nyaman beristirahat.</p>
<p style="text-align: justify;">Umar yang telah paham maksud kedatangan kami rupanya telah mengagendakan pertemuan kami dengan kasepuhan yang menjadi pemimpin disana. Selepas magrib, kami pun berkesempatan bertatap muka dengan kasepuhan dimaksud. Rupanya beliau sekeluarga telah bersiap menyambut sehingga ketika kami masuk ke pondoknya, mereka telah tampak berkumpul dan segera menyilakan kami untuk duduk.</p>
<p style="text-align: justify;">Kopi panas yang diberi pemanis gula kawung sedikit mengobati dinginnya udara yang kami rasakan. Pak tersenyum mengerti dan membuka percakapan. Kami sampaikan maksud kedatangan kami padanya dengan tak lupa memperkenalkan masing-masing anggota rombongan..</p>
<p style="text-align: justify;">Esok harinya, dengan dipandu langsung oleh Kasepuhan, kami memulai aktivitas utama kami di lokasi situs. Situs yang menjadi obyek film kami memang menakjubkan. Situs ini secara geografis terletak di lereng Pasir Manggu dengan luas areal sekitar 2 hektar. Secara garis besar situs memperlihatkan suatu kompleks bangunan yang terdiri atas 3 bagian halaman, dengan pembagian halaman yang semakin meninggi dari sisi sebelah timur ke barat. Halaman pertama merupakan bagian sebelah timur dan merupakan bagian ruang yang paling rendah dibandingkan dengan halaman kedua dan ketiga. Halaman kedua terletak di bagian tengah, dan halaman ketiga  yang merupakan bagian inti terletak di bagian paling barat dan merupakan bagian halaman yang paling tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://bantenheritage.org/id/wp-content/uploads/2010/08/SDC10183.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-97" title="SDC10183" src="http://bantenheritage.org/id/wp-content/uploads/2010/08/SDC10183-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Pintu masuk menuju kompleks bangunan ini terletak di sebelah barat, bersisian langsung dengan aliran  Kali Cibedug. Jalan masuk ke situs Lebak Cibedug melalui tangga yang terbuat dari susunan batu andesit dan bongkahan batu lempung yang terdiri dari 33 anak tangga. Pada bagian tengah pintu masuk terdapat menhir dengan ukuran besar dalam posisi tegak. Menhir ini adalah satu-satunya menhir terbesar dibandingkan dengan beberapa temuan menhir lainnya yang terdapat di situs ini. Ukuran tinggi menhir adalah 236 sentimeter dengan diameter 336 sentimeter.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan pengamatan bentuk bangunan secara keseluruhan, tampak bahwa kompleks megalitik Lebak Cibeduk merupakan perpaduan bentuk bangun batur-batur punden yang kadangkala dilengkapi dengan menhir, batu datar, dan batu kursi dengan punden berundak sebagai bagian yang paling sakral.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://bantenheritage.org/id/wp-content/uploads/2010/08/DSC_0506.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-98" title="DSC_0506" src="http://bantenheritage.org/id/wp-content/uploads/2010/08/DSC_0506-199x300.jpg" alt="" width="199" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan informasi pustaka disebutkan bahwa tinggalan bangunan megalitik yang tersebar di kawasan Lebak Cibeduk secara lokasional semua tinggalan didirikan tidak jauh dari aliran sungai. Bahan-bahan yang digunakan untuk menyusun bangunan megalitik baik berupa bangunan berundak atau batur punden yang disebut masyarakat lokal dengan isitilah batu tukuh yang hampir semuanya menggunakan dua jenis batuan yaitu batu andesit dan tufa yang berbentuk bongkahan. Kedua jenis bahan batuan itu terdapat pada aliran sungai yang berada tidak jauh dari situs. Para peneliti menarik kesimpulan bahwa bahan untuk pendirian bangunan-bangunan megalitik yang banyak ditemukan di kawasan Lebak Cibeduk diperoleh dari bongkahan-bongkahan yang tersingkap di aliran-aliran sungai yang ada disekitar situs.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari-hari kami habiskan di Cibedug tanpa sinyal ponsel. Pun jangan berharap dapat santai menonton acara di stasiun televisi karena meskipun terdapat aliran listrik yang dihasilkan dari pembangkit listrik tradisional, alirannya tak dapat memasok listrik yang dibutuhkan peralatan besar seperti televisi. Walau begitu, kami sangat menikmati suasana di sana. Empat hari kami berada di sana dan tak terasa telah sampai saatnya kami kembali ke basecamp produksi film di Pandeglang.</p>
<p style="text-align: justify;">So long Cibedug… semoga kami dapat kembali berkunjung.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bantenheritage.org/id/lebak-cibedug-sebuah-catatan-perjalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Budaya</title>
		<link>http://bantenheritage.org/id/budaya/</link>
		<comments>http://bantenheritage.org/id/budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 06:12:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wahyu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian]]></category>
		<category><![CDATA[perspektif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bantenheritage.org/id/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Budaya</strong> atau <strong>kebudayaan</strong> berasal dari <a title="Bahasa Sansekerta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sansekerta"><span style="color: windowtext;">bahasa Sansekerta</span></a> yaitu <em>buddhayah</em>, yang merupakan bentuk jamak dari <em>buddhi</em> (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam <a title="Bahasa Inggris" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris"><span style="color: windowtext;">bahasa Inggris</span></a>, kebudayaan disebut <em>culture</em>, yang berasal dari kata <a title="Latin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Latin"><span style="color: windowtext;">Latin</span></a> <em>Colere</em>, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata <em>culture</em> juga kadang diterjemahkan sebagai &#8220;kultur&#8221; dalam bahasa Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah <em>Cultural-Determinism</em>. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai <em>superorganic</em>. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Unsur-unsur"></a><strong><span style="font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Unsur-unsur</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Melville J. Herskovits      menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu: </span>
<ul type="circle">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">alat-alat teknologi</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">sistem ekonomi</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">keluarga</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">kekuasaan politik</span></li>
</ul>
</li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Bronislaw Malinowski mengatakan      ada 4 unsur pokok yang meliputi: </span>
<ul type="circle">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">sistem norma sosial yang       memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan       diri dengan alam sekelilingnya</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">organisasi ekonomi</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">alat-alat dan lembaga-lembaga       atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan       utama)</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">organisasi kekuatan (politik)</span></li>
</ul>
</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Wujud_dan_komponen"></a><strong><span style="font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Wujud dan komponen</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Wujud"></a><strong><span style="font-size: 13.5pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Wujud</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Menurut <strong>J.J. Hoenigman</strong>, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Gagasan (Wujud ideal)</span></strong></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, </span><a title="Nilai sosial" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai_sosial"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">nilai-nilai</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="Norma sosial" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Norma_sosial"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">norma-norma</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya </span><a title="Abstrak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abstrak"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">abstrak</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran </span><a title="Masyarakat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">warga masyarakat</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Aktivitas (tindakan)</span></strong></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan <strong>sistem sosial</strong>. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling </span><a title="Interaksi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Interaksi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">berinteraksi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, mengadakan kontak, serta bergaul dengan </span><a title="Manusia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">manusia</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya </span><a title="Konkret (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Konkret&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">konkret</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Artefak (karya)</span></strong></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 35.45pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Artefak adalah wujud kebudayaan </span><a title="Fisik" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fisik"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">fisik</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Komponen"></a><strong><span style="font-size: 13.5pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Komponen</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Kebudayaan material</span></strong></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Kebudayaan nonmaterial</span></strong></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Kebudayaan nonmaterial adalah      ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi,      misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Hubungan_antara_unsur-unsur_kebudayaan"></a><strong><span style="font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Hubungan antara unsur-unsur kebudayaan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Komponen-komponen atau unsur-unsur utama dari kebudayaan antara lain:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Peralatan_dan_perlengkapan_hidup_.28tekn"></a><strong><span style="font-size: 13.5pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a title="Teknologi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Teknologi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari </span><a title="Pertanian" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pertanian"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">pertanian</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu:</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">alat-alat produktif</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a title="Senjata" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Senjata"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">senjata</span></a></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">wadah</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">alat-alat menyalakan </span><a title="Api" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Api"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">api</span></a></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a title="Makanan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Makanan"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">makanan</span></a></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a title="Pakaian" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pakaian"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">pakaian</span></a></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">tempat berlindung dan perumahan</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">alat-alat </span><a title="Transportasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Transportasi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">transportasi</span></a></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Sistem_mata_pencaharian_hidup"></a><strong><span style="font-size: 13.5pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Sistem mata pencaharian hidup</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalah-masalah mata pencaharian tradisional saja, di antaranya:</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a title="Berburu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berburu"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">berburu</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dan meramu</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a title="Beternak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Beternak"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">beternak</span></a></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">bercocok tanam di </span><a title="Ladang (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ladang&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">ladang</span></a></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">menangkap </span><a title="Ikan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">ikan</span></a></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Sistem_kekerabatan_dan_organisasi_sosial"></a><strong><span style="font-size: 13.5pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Sistem kekerabatan dan organisasi sosial</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. </span><a title="Meyer Fortes (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Meyer_Fortes&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Meyer Fortes</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu </span><a title="Masyarakat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Masyarakat"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">masyarakat</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Kekerabatan adalah unit-unit </span><a title="Sosial" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sosial"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">sosial</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. Dalam kajian </span><a title="Sosiologi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">sosiologi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">-</span><a title="Antropologi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Antropologi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">antropologi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar seperti </span><a title="Keluarga ambilineal (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keluarga_ambilineal&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">keluarga ambilineal</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="Marga" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Marga"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">klan</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="Fatri (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Fatri&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">fatri</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, dan </span><a title="Paroh masyarakat (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Paroh_masyarakat&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">paroh masyarakat</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">. Di masyarakat umum kita juga mengenal kelompok kekerabatan lain seperti </span><a title="Keluarga inti" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keluarga_inti"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">keluarga inti</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="Keluarga luas (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keluarga_luas&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">keluarga luas</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="Keluarga bilateral (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keluarga_bilateral&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">keluarga bilateral</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, dan </span><a title="Keluarga unilateral (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keluarga_unilateral&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">keluarga unilateral</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Sementara itu, organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan </span><a title="Hukum" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">hukum</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan </span><a title="Negara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Negara"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">negara</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">. Sebagai </span><a title="Makhluk" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Makhluk"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">makhluk</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk </span><a title="Organisasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">organisasi sosial</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Bahasa"></a><strong><span style="font-size: 13.5pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Bahasa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a title="Bahasa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Bahasa</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling </span><a title="Komunikasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">berkomunikasi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, </span><a title="Komunikasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">berkomunikasi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, dan alat untuk mengadakan </span><a title="Integrasi sosial" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Integrasi_sosial"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">integrasi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dan </span><a title="Adaptasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Adaptasi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">adaptasi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan </span><a title="Seni" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Seni"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">seni</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi </span><a title="Ilmu pengetahuan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_pengetahuan"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">ilmu pengetahuan</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dan </span><a title="Teknologi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">teknologi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Kesenian"></a><strong><span style="font-size: 13.5pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Kesenian</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat </span><a title="Manusia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">manusia</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> akan keindahan yang dinikmati dengan </span><a title="Mata" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mata"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">mata</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> ataupun </span><a title="Telinga" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Telinga"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">telinga</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Sistem_kepercayaan"></a><strong><span style="font-size: 13.5pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Sistem kepercayaan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik </span><a title="Manusia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">manusia</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dalam menguasai dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan, muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem </span><a title="Alam semesta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Alam_semesta"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">jagad raya</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari </span><a title="Agama" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Agama"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">religi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama (</span><a title="Bahasa Inggris" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggris"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">bahasa Inggris</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">: <em>Religion</em>, yang berasar dari </span><a title="Bahasa Latin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Latin"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">bahasa Latin</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> <em>religare</em>, yang berarti &#8220;menambatkan&#8221;), adalah sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia. <em>Dictionary of Philosophy and Religion</em> (Kamus Filosofi dan Agama) mendefinisikan Agama sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">&#8230; sebuah institusi dengan keanggotaan yang diakui dan biasa berkumpul bersama untuk beribadah, dan menerima sebuah paket doktrin yang menawarkan hal yang terkait dengan sikap yang harus diambil oleh individu untuk mendapatkan kebahagiaan sejati.</span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya#cite_note-0"><sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">[1]</span></sup></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Agama biasanya memiliki suatu prinsip, seperti &#8220;10 Firman&#8221; dalam agama Kristen atau &#8220;5 rukun Islam&#8221; dalam agama Islam. Kadang-kadang agama dilibatkan dalam sistem pemerintahan, seperti misalnya dalam sistem </span><a title="Teokrasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Teokrasi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">teokrasi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">. Agama juga mempengaruhi kesenian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Agama_Samawi"></a><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Agama Samawi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a title="Agama Samawi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Samawi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Agama Samawi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> atau agama Abrahamik meliputi </span><a title="Islam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Islam</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="Kristen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kristen"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Kristen</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> (</span><a title="Protestan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Protestan"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Protestan</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dan </span><a title="Katolik" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Katolik"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Katolik</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">) dan </span><a title="Agama Yahudi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Yahudi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Yahudi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Agama Yahudi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Yahudi adalah salah satu agama yang —jika tidak disebut sebagai yang pertama— tercatat sebagai agama </span><a title="Monotheisme" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Monotheisme"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">monotheistik</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dan salah satu agama tertua yang masih ada sampai sekarang. Nilai-nilai dan sejarah umat </span><a title="Yahudi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yahudi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Yahudi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> adalah bagian utama dari agama Ibrahim lainnya, seperti </span><a title="Kristen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kristen"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Kristen</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dan </span><a title="Islam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Islam</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Agama Kristen</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Kristen adalah salah satu agama penting yang berhasil mengubah wajah kebudayaan Eropa dalam 1.700 tahun terakhir. Pemikiran para filsuf modern pun banyak terpengaruh oleh para filsuf </span><a title="Kristen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kristen"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Kristen</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> semacam </span><a title="St. Thomas Aquinas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/St._Thomas_Aquinas"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">St. Thomas Aquinas</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dan </span><a title="Desiderius Erasmus" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Desiderius_Erasmus"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Erasmus</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Agama Islam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Agama Islam merupakan agama monotheime/atau monotheistik pertama dan tertua<sup>[</sup></span><a title="Wikipedia:Mengutip sumber" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Mengutip_sumber"><em><sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">rujukan?</span></sup></em></a><sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">]</span></sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">. Agama lain merupakan modifikasi manusia dari agama islam<sup>[</sup></span><a title="Wikipedia:Mengutip sumber" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Mengutip_sumber"><em><sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">rujukan?</span></sup></em></a><sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">]</span></sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">. kita bisa lihat dari perkembangan agama dari nabi-nabi terdahulu. &#8212;&gt; pendapat yang sangat subyektif dan tanpa dukungan fakta yang jelas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Agama Islam telah berhasil merubah cara pandang orang-orang eropa terhadap kebudayaan, seperti ilmu-ilmu fisika, matematika, biologi, kimia dan lain-lain<sup>[</sup></span><a title="Wikipedia:Mengutip sumber" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Mengutip_sumber"><em><sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">rujukan?</span></sup></em></a><sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">]</span></sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> oleh para fislsuf barat yang kemudian hal itu diubah dan diakui oleh orang-orang eropa bahwa hal itu merupakan hasil karya orang eropa asli, Terutama oleh kalangan para filsafat.<sup>[</sup></span><a title="Wikipedia:Mengutip sumber" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Mengutip_sumber"><em><sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">rujukan?</span></sup></em></a><sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">]</span></sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> Sementara itu, nilai dan norma agama Islam banyak mempengaruhi kebudayaan </span><a title="Timur Tengah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Timur_Tengah"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Timur Tengah</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dan </span><a title="Afrika Utara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Afrika_Utara"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Afrika Utara</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, dan juga sebagian wilayah </span><a title="Asia Tenggara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Asia_Tenggara"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Asia Tenggara</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Filosofi_dan_Agama_dari_Timur"></a><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Filosofi dan Agama dari Timur</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Filosopi dan Agama seringkali saling terkait satu sama lain pada kebudayaan Asia. Agama dan filosofi di Asia kebanyakan berasal dari India dan China dan menyebar disepanjang benua Asia melalui difusi kebudayaan dan </span><a title="Migrasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Migrasi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">migrasi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a title="Hinduisme" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hinduisme"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Hinduisme</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> adalah sumber dari </span><a title="Buddhisme" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buddhisme"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Buddhisme</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, cabang </span><a title="Mahayana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mahayana"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Mahāyāna</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> yang menyebar di sepanjang utara dan timur </span><a title="India" href="http://id.wikipedia.org/wiki/India"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">India</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> sampai </span><a title="Tibet" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tibet"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Tibet</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, China, Mongolia, Jepang dan Korea dan China selatan sampai Vietnam. </span><a title="Theravada" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Theravada"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Theravāda</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> Buddhisme menyebar di sekitar </span><a title="Asia Tenggara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Asia_Tenggara"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Asia Tenggara</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, termasuk Sri Lanka, bagian barat laut China, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Thailand.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Agama </span><a title="Hindu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hindu"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Hindu</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dari </span><a title="India" href="http://id.wikipedia.org/wiki/India"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">India</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, mengajarkan pentingnya elemen nonmateri sementara sebuah pemikiran India lainnya, </span><a title="Carvaka (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Carvaka&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Carvaka</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, menekankan untuk mencari kenikmatan di dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Konghucu dan Taoisme, dua filosofi yang berasal dari </span><a title="Cina" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cina"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Cina</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, mempengaruhi baik religi, seni, politik, maupun tradisi filosofi di seluruh Asia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Pada abad ke-20, di kedua negara berpenduduk paling padat se-Asia, dua aliran filosofi politik tercipta. </span><a title="Mahatma Gandhi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mahatma_Gandhi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Mahatma Gandhi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> memberikan pengertian baru tentang </span><a title="Ahimsa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ahimsa"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Ahimsa</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, inti dari kepercayaan Hindu maupun </span><a title="Jainisme" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jainisme"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Jaina</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, dan memberikan definisi baru tentang konsep antikekerasan dan antiperang. Pada periode yang sama, </span><a title="Maoisme" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Maoisme"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">filosofi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> </span><a title="Komunisme" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Komunisme"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">komunisme</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> </span><a title="Mao Zedong" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mao_Zedong"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Mao Zedong</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> menjadi sistem kepercayaan sekuler yang sangat kuat di China.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Agama_tradisional"></a><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Agama tradisional</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Agama tradisional, atau terkadang disebut sebagai &#8220;agama nenek moyang&#8221;, dianut oleh sebagian suku pedalaman di </span><a title="Asia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Asia"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Asia</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="Afrika" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Afrika"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Afrika</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, dan </span><a title="Amerika" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Amerika</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">. Pengaruh bereka cukup besar; mungkin bisa dianggap telah menyerap kedalam kebudayaan atau bahkan menjadi agama negara, seperti misalnya agama </span><a title="Shinto" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Shinto"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Shinto</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">. Seperti kebanyakan agama lainnya, agama tradisional menjawab kebutuhan rohani manusia akan ketentraman hati di saat bermasalah, tertimpa musibah, tertimpa musibah dan menyediakan ritual yang ditujukan untuk kebahagiaan manusia itu sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name=".22American_Dream.22"></a><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">&#8220;American Dream&#8221;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a title="American Dream (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=American_Dream&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">American Dream</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, atau &#8220;mimpi orang Amerika&#8221; dalam bahasa Indonesia, adalah sebuah kepercayaan, yang dipercayai oleh banyak orang di </span><a title="Amerika Serikat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Amerika Serikat</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">. Mereka percaya, melalui kerja keras, pengorbanan, dan kebulatan tekad, tanpa memedulikan </span><a title="Status sosial (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Status_sosial&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">status sosial</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, seseorang dapat mendapatkan </span><a title="Mobilitas sosial" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mobilitas_sosial"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">kehidupan yang lebih baik</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">. </span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya#cite_note-1"><sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">[2]</span></sup></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> Gagasan ini berakar dari sebuah keyakinan bahwa Amerika Serikat adalah sebuah &#8220;</span><a title="Kota di atas bukit (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kota_di_atas_bukit&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">kota di atas bukit</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">&#8221; (atau <em>city upon a hill&#8221;</em>), &#8220;cahaya untuk negara-negara&#8221; (<em>&#8220;a light unto the nations&#8221;</em>),</span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya#cite_note-2"><sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">[3]</span></sup></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> yang memiliki nilai dan kekayaan yang telah ada sejak kedatangan para penjelajah Eropa sampai generasi berikutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Pernikahan"></a><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Pernikahan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Agama sering kali mempengaruhi pernikahan dan perilaku seksual. Kebanyakan gereja Kristen memberikan pemberkatan kepada pasangan yang menikah; gereja biasanya memasukkan acara pengucapan janji pernikahan di hadapan tamu, sebagai bukti bahwa komunitas tersebut menerima pernikahan mereka. Umat Kristen juga melihat hubungan antara Yesus Kristus dengan gerejanya. </span><a title="Gereja Katolik Roma" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Katolik_Roma"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Gereja Katolik Roma</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> mempercayai bahwa sebuah perceraian adalah salah, dan orang yang bercerai tidak dapat dinikahkan kembali di gereja. Sementara Agama Islam memandang pernikahan sebagai suatu kewajiban. Islam menganjurkan untuk tidak melakukan perceraian, namun memperbolehkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Sistem_ilmu_dan_pengetahuan"></a><strong><span style="font-size: 13.5pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Sistem ilmu dan pengetahuan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Secara sederhana, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. </span><a title="Pengetahuan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pengetahuan"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Pengetahuan</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, intuisi, wahyu, dan berpikir menurut logika, atau percobaan-percobaan yang bersifat empiris (<em>trial and error</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Sistem pengetahuan tersebut dikelompokkan menjadi:</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">pengetahuan tentang </span><a title="Alam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Alam"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">alam</span></a></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">pengetahuan tentang </span><a title="Tumbuh-tumbuhan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tumbuh-tumbuhan"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">tumbuh-tumbuhan</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dan </span><a title="Hewan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hewan"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">hewan</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> di sekitarnya</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">pengetahuan tentang tubuh </span><a title="Manusia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">manusia</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, pengetahuan tentang sifat dan tingkah laku sesama      manusia</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">pengetahuan tentang </span><a title="Ruang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ruang"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">ruang</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dan </span><a title="Waktu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Waktu"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">waktu</span></a></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Perubahan_sosial_budaya"></a><strong><span style="font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Perubahan sosial budaya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Perubahan sosial budaya dapat terjadi bila sebuah kebudayaan melakukan kontak dengan kebudayaan asing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. <strong>Hirschman</strong> mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi perubahan sosial:</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">tekanan kerja dalam masyarakat</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">keefektifan komunikasi</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">perubahan lingkungan alam.</span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya#cite_note-3"></a></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Perubahan budaya juga dapat timbul akibat timbulnya perubahan lingkungan masyarakat, penemuan baru, dan kontak dengan kebudayaan lain. Sebagai contoh, berakhirnya </span><a title="Zaman es" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Zaman_es"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">zaman es</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> berujung pada ditemukannya sistem </span><a title="Pertanian" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pertanian"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">pertanian</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, dan kemudian memancing inovasi-inovasi baru lainnya dalam kebudayaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Penetrasi_kebudayaan"></a><strong><span style="font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Penetrasi kebudayaan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Penetrasi damai <em>(penetration pasifique)</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh kebudayaan </span><a title="Sejarah Nusantara pada era kerajaan Hindu-Buddha" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Nusantara_pada_era_kerajaan_Hindu-Buddha"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Hindu</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dan </span><a title="Islam di Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Indonesia#Sejarah_masuknya_Islam"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Islam</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> ke Indonesia<sup>[</sup></span><a title="Wikipedia:Mengutip sumber" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Mengutip_sumber"><em><sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">rujukan?</span></sup></em></a><sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">]</span></sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">. Penerimaan kedua macam kebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat.<br />
Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan <em>Akulturasi</em>, <em>Asimilasi</em>, atau <em>Sintesis</em>. </span><a title="Akulturasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Akulturasi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Akulturasi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan India. </span><a title="Asimilasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Asimilasi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Asimilasi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan </span><a title="Sintesis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sintesis"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Sintesis</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Penetrasi kekerasan <em>(penetration violante)</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya kebudayaan </span><a title="Dunia Barat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dunia_Barat"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Barat</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat<sup>[</sup></span><a title="Wikipedia:Mengutip sumber" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Mengutip_sumber"><em><sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">rujukan?</span></sup></em></a><sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">]</span></sup><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Cara_pandang_terhadap_kebudayaan"></a><strong><span style="font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Cara pandang terhadap kebudayaan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Kebudayaan_sebagai_peradaban"></a><strong><span style="font-size: 13.5pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Kebudayaan sebagai peradaban</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan &#8220;budaya&#8221; yang dikembangkan di </span><a title="Eropa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eropa"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Eropa</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang &#8220;budaya&#8221; ini merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka menganggap &#8216;kebudayaan&#8217; sebagai &#8220;peradaban&#8221; sebagai lawan kata dari &#8220;</span><a title="Alam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Alam"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">alam</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">&#8220;. Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Pada prakteknya, kata <em>kebudayaan</em> merujuk pada benda-benda dan </span><a title="Aktivitas (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Aktivitas&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">aktivitas</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> yang &#8220;elit&#8221; seperti misalnya memakai </span><a title="Baju" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Baju"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">baju</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> yang berkelas, </span><a title="Seni" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Seni"><em><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">fine art</span></em></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, atau mendengarkan </span><a title="Musik klasik" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Musik_klasik"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">musik klasik</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, sementara kata <em>berkebudayaan</em> digunakan untuk menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika seseorang berpendendapat bahwa musik klasik adalah musik yang &#8220;berkelas&#8221;, elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah &#8220;berkebudayaan&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Orang yang menggunakan kata &#8220;kebudayaan&#8221; dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorang yang memiliki kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang &#8220;berkebudayaan&#8221; disebut sebagai orang yang &#8220;tidak berkebudayaan&#8221;; bukan sebagai orang &#8220;dari kebudayaan yang lain.&#8221; Orang yang &#8220;tidak berkebudayaan&#8221; dikatakan lebih &#8220;alam,&#8221; dan para pengamat seringkali mempertahankan elemen dari </span><a title="Kebudayaan tingkat tinggi (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kebudayaan_tingkat_tinggi&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">kebudayaan tingkat tinggi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> (<em>high culture</em>) untuk menekan pemikiran &#8220;</span><a title="Manusia alami (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Manusia_alami&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">manusia alami</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">&#8221; (<em>human nature</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Sejak abad ke-18, beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antara berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu -berkebudayaan dan tidak berkebudayaan- dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalaman sebagai perkembangan yang merusak dan &#8220;tidak alami&#8221; yang mengaburkan dan menyimpangkan sifat dasar manusia. Dalam hal ini, </span><a title="Musik tradisional" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Musik_tradisional"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">musik tradisional</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> (yang diciptakan oleh masyarakat kelas pekerja) dianggap mengekspresikan &#8220;jalan hidup yang alami&#8221; (<em>natural way of life</em>), dan musik klasik sebagai suatu kemunduran dan kemerosotan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Saat ini kebanyak ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan antara kebudayaan dengan alam dan konsep </span><a title="Monadik (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Monadik&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">monadik</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> yang pernah berlaku. Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang sebelumnya dianggap &#8220;tidak elit&#8221; dan &#8220;kebudayaan elit&#8221; adalah sama &#8211; masing-masing masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapat diperbandingkan. Pengamat sosial membedakan beberapa kebudayaan sebagai </span><a title="Kultur populer (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kultur_populer&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">kultur populer</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> (<em>popular culture</em>) atau <em>pop kultur</em>, yang berarti barang atau aktivitas yang diproduksi dan dikonsumsi oleh banyak orang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Kebudayaan_sebagai_.22sudut_pandang_umum"></a><strong><span style="font-size: 13.5pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Kebudayaan sebagai &#8220;sudut pandang umum&#8221;</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Selama </span><a title="Romantisisme" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Romantisisme"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Era Romantis</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, para cendekiawan di </span><a title="Jerman" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jerman"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Jerman</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, khususnya mereka yang peduli terhadap gerakan </span><a title="Nasionalisme" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nasionalisme"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">nasionalisme</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> &#8211; seperti misalnya perjuangan nasionalis untuk menyatukan </span><a title="Jerman" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jerman"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Jerman</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, dan perjuangan nasionalis dari etnis minoritas melawan </span><a title="Austria-Hongaria" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Austria-Hongaria"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Kekaisaran Austria-Hongaria</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> &#8211; mengembangkan sebuah gagasan kebudayaan dalam &#8220;sudut pandang umum&#8221;. Pemikiran ini menganggap suatu <strong>budaya</strong> dengan budaya lainnya memiliki perbedaan dan kekhasan masing-masing. Karenanya, budaya tidak dapat diperbandingkan. Meskipun begitu, gagasan ini masih mengakui adanya pemisahan antara &#8220;berkebudayaan&#8221; dengan &#8220;tidak berkebudayaan&#8221; atau kebudayaan &#8220;primitif.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Pada akhir abad ke-19, </span><a title="Antropologi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Antropologi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">para ahli antropologi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> telah memakai kata <em>kebudayaan</em> dengan definisi yang lebih luas. Bertolak dari teori </span><a title="Evolusi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Evolusi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">evolusi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, mereka mengasumsikan bahwa setiap manusia tumbuh dan berevolusi bersama, dan dari evolusi itulah tercipta kebudayaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Pada tahun 50-an, </span><a title="Subkebudayaan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Subkebudayaan"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">subkebudayaan</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> &#8211; kelompok dengan perilaku yang sedikit berbeda dari kebudayaan induknya &#8211; mulai dijadikan subyek penelitian oleh para ahli </span><a title="Sosiologi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">sosiologi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">. Pada abad ini pula, terjadi popularisasi ide </span><a title="Kebudayaan perusahaan (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kebudayaan_perusahaan&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">kebudayaan perusahaan</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> &#8211; perbedaan dan bakat dalam konteks pekerja </span><a title="Organisasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">organisasi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> atau tempat bekerja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Kebudayaan_sebagai_mekanisme_stabilisasi"></a><strong><span style="font-size: 13.5pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Kebudayaan sebagai mekanisme stabilisasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Teori-teori yang ada saat ini menganggap bahwa (suatu) kebudayaan adalah sebuah <em>produk</em> dari stabilisasi yang melekat dalam tekanan evolusi menuju kebersamaan dan kesadaran bersama dalam suatu masyarakat, atau biasa disebut dengan </span><a title="Tribalisme (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tribalisme&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">tribalisme</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Kebudayaan_di_antara_masyarakat"></a><strong><span style="font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Kebudayaan di antara masyarakat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Sebuah kebudayaan besar biasanya memiliki </span><a title="Sub-kebudayaan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sub-kebudayaan"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">sub-kebudayaan</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> (atau biasa disebut <em>sub-kultur</em>), yaitu sebuah kebudayaan yang memiliki sedikit perbedaan dalam hal perilaku dan kepercayaan dari kebudayaan induknya. Munculnya sub-kultur disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya karena perbedaan </span><a title="Umur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Umur"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">umur</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="Ras" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ras"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">ras</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="Suku bangsa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_bangsa"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">etnisitas</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="Kelas sosial" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kelas_sosial"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">kelas</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="Estetika" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Estetika"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">aesthetik</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="Agama" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Agama"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">agama</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="Pekerjaan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pekerjaan"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">pekerjaan</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, pandangan </span><a title="Politik" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Politik"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">politik</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dan </span><a title="Gender" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gender"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">gender</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Ada beberapa cara yang dilakukan masyarakat ketika berhadapan dengan imigran dan kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan asli. Cara yang dipilih masyarakat tergantung pada seberapa besar perbedaan kebudayaan induk dengan kebudayaan minoritas, seberapa banyak imigran yang datang, watak dari penduduk asli, keefektifan dan keintensifan komunikasi antar budaya, dan tipe pemerintahan yang berkuasa.</span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a title="Monokulturalisme" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Monokulturalisme"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Monokulturalisme</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">: Pemerintah mengusahakan terjadinya </span><a title="Asimilasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Asimilasi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">asimilasi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> kebudayaan sehingga masyarakat yang berbeda kebudayaan      menjadi satu dan saling bekerja sama.</span></li>
</ul>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a title="Leitkultur (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Leitkultur&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Leitkultur</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> (kebudayaan inti): Sebuah model yang dikembangkan oleh </span><a title="Bassam Tibi (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bassam_Tibi&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Bassam Tibi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> di </span><a title="Jerman" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jerman"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Jerman</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">. Dalam Leitkultur, kelompok minoritas dapat menjaga      dan mengembangkan kebudayaannya sendiri, tanpa bertentangan dengan      kebudayaan induk yang ada dalam masyarakat asli.</span></li>
</ul>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a title="Melting Pot (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Melting_Pot&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Melting Pot</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">:      Kebudayaan imigran/asing berbaur dan bergabung dengan kebudayaan asli      tanpa campur tangan pemerintah.</span></li>
</ul>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a title="Multikulturalisme" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Multikulturalisme"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Multikulturalisme</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">: Sebuah kebijakan yang mengharuskan imigran dan      kelompok minoritas untuk menjaga kebudayaan mereka masing-masing dan      berinteraksi secara damai dengan kebudayaan induk.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Kebudayaan_menurut_wilayah"></a><strong><span style="font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Kebudayaan menurut wilayah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi, hubungan dan saling keterkaitan kebudayaan-kebudayaan di dunia saat ini sangat tinggi. Selain kemajuan teknologi dan informasi, hal tersebut juga dipengaruhi oleh faktor </span><a title="Perdagangan internasional" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_internasional"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">ekonomi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="Migrasi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Migrasi"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">migrasi</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, dan </span><a title="Agama" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Agama"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">agama</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Afrika</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Beberapa kebudayaan di benua Afrika terbentuk melalui penjajahan Eropa, seperti kebudayaan Sub-Sahara. Sementara itu, wilayah Afrika Utara lebih banyak terpengaruh oleh kebudayaan Arab dan Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">an di benua </span><a title="Amerika" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Amerika</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dipengaruhi oleh suku-suku Asli benua Amerika; orang-orang dari Afrika (terutama di Amerika Serikat), dan para imigran </span><a title="Eropa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eropa"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Eropa</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> terutama </span><a title="Spanyol" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Spanyol"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Spanyol</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="Inggris" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Inggris"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Inggris</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="Perancis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Perancis"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Perancis</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="Portugis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Portugis"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Portugis</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="Jerman" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jerman"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Jerman</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, dan </span><a title="Belanda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Belanda</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Asia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a title="Asia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Asia"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Asia</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> memiliki berbagai kebudayaan yang berbeda satu sama lain, meskipun begitu, beberapa dari kebudayaan tersebut memiliki pengaruh yang menonjol terhadap kebudayaan lain, seperti misalnya pengaruh kebudayaan Tiongkok kepada kebudayaan </span><a title="Jepang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jepang"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Jepang</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="Korea" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Korea"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Korea</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, dan </span><a title="Vietnam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Vietnam"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Vietnam</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">. Dalam bidang agama, agama </span><a title="Budha" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Budha"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Budha</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dan </span><a title="Taoisme" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Taoisme"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Taoisme</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> banyak mempengaruhi kebudayaan di Asia Timur. Selain kedua Agama tersebut, </span><a title="Norma" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Norma"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">norma</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dan </span><a title="Nilai sosial" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai_sosial"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">nilai</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> Agama </span><a title="Islam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Islam</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> juga turut mempengaruhi kebudayaan terutama di wilayah </span><a title="Asia Selatan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Asia_Selatan"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Asia Selatan</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dan </span><a title="Asia Tenggara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Asia_Tenggara"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">tenggara</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Australia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Kebanyakan budaya di Australia masa kini berakar dari kebudayaan </span><a title="Eropa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eropa"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Eropa</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dan </span><a title="Amerika" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Amerika"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Amerika</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">. Kebudayaan Eropa dan Amerika tersebut kemudian dikembangkan dan disesuaikan dengan lingkungan benua </span><a title="Australia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Australia"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Australia</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, serta diintegrasikan dengan kebudayaan penduduk asli benua Australia, </span><a title="Aborigin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Aborigin"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Aborigin</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Eropa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Kebudayaan Eropa banyak terpengaruh oleh kebudayaan negara-negara yang pernah dijajahnya. Kebudayaan ini dikenal juga dengan sebutan &#8220;<em>kebudayaan barat</em>&#8220;. Kebudayaan ini telah diserap oleh banyak kebudayaan, hal ini terbukti dengan banyaknya pengguna bahasa Inggris dan bahasa Eropa lainnya di seluruh dunia. Selain dipengaruhi oleh kebudayaan negara yang pernah dijajah, kebudayaan ini juga dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani kuno, Romawi kuno, dan agama Kristen, meskipun kepercayaan akan agama banyak mengalami kemunduran beberapa tahun ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Timur Tengah dan Afrika Utara</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Kebudayaan didaerah </span><a title="Timur Tengah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Timur_Tengah"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Timur Tengah</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> dan </span><a title="Afrika Utara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Afrika_Utara"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Afrika Utara</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> saat ini kebanyakan sangat dipengaruhi oleh nilai dan norma agama </span><a title="Islam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Islam</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, meskipun tidak hanya agama Islam yang berkembang di daerah ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Referensi"></a><strong><span style="font-size: 18pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Referensi</span></strong></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a name="Daftar_pustaka"></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Arnold, Matthew. 1869. </span><a title="http://www.library.utoronto.ca/utel/nonfiction_u/arnoldm_ca/ca_titlepage.html" href="http://www.library.utoronto.ca/utel/nonfiction_u/arnoldm_ca/ca_titlepage.html"><em><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Culture and Anarchy.</span></em></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> New York: Macmillan. Third edition, 1882, available      online. Retrieved: 2006-06-28.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Barzilai, Gad. 2003. <em>Communities and Law: Politics      and Cultures of Legahkjkjl Identities.</em> University of Michigan Press.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Boritt, Gabor S. 1994. <em>Lincoln and the Economics of      the American Dream</em>. University of Illinois Press. </span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Istimewa:Sumber_buku/9780252064456"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">ISBN 978-0-252-06445-6</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Bourdieu, Pierre. 1977. <em>Outline of a Theory of      Practice.</em> Cambridge University Press. </span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Istimewa:Sumber_buku/9780521291644"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">ISBN 978-0-521-29164-4</span></a></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Cohen, Anthony P. 1985. <em>The Symbolic Construction of      Community.</em> Routledge: New York,</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Dawkiins, R. 1982. </span><a title="The Extended Phenotype (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=The_Extended_Phenotype&amp;action=edit&amp;redlink=1"><em><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">The Extended Phenotype: The Long Reach      of the Gene.</span></em></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> Paperback ed., 1999. Oxford      Paperbacks. </span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Istimewa:Sumber_buku/9780192880512"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">ISBN 978-0-19-288051-2</span></a></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Forsberg, A. </span><a title="http://fog.ccsf.cc.ca.us/~aforsber/ccsf/culture_defined.html" href="http://fog.ccsf.cc.ca.us/%7Eaforsber/ccsf/culture_defined.html"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Definitions of culture</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> </span><a title="CCSF (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=CCSF&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">CCSF</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> Cultural Geography course notes. Retrieved: 2006-06-29.</span></li>
</ol>
<p class="MsoListParagraph" style="text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"><span>8.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Geertz, Clifford. 1973. <em>The Interpretation of Cultures: Selected Essays</em>. New York. </span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Istimewa:Sumber_buku/9780465097197"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">ISBN 978-0-465-09719-7</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">.1957. &#8220;Ritual and Social Change: A Javanese Example&#8221;, <em>American Anthropologist</em>, Vol. 59, No. 1.</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Goodall, J. 1986. <em>The Chimpanzees of Gombe: Patterns      of Behavior.</em> Cambridge, MA: Belknap Press of Harvard University Press. </span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Istimewa:Sumber_buku/9780674116498"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">ISBN 978-0-674-11649-8</span></a></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Hoult, T. F., ed. 1969. <em>Dictionary of Modern      Sociology</em>. Totowa, New Jersey, United States: Littlefield, Adams &amp;      Co.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Jary, D. and J. Jary. 1991. <em>The HarperCollins      Dictionary of Sociology.</em> New York: HarperCollins. </span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Istimewa:Sumber_buku/0062715437"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">ISBN 0-06-271543-7</span></a></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Keiser, R. Lincoln 1969. <em>The Vice Lords: Warriors of      the Streets</em>. Holt, Rinehart, and Winston. </span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Istimewa:Sumber_buku/9780030803611"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">ISBN 978-0-03-080361-1</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Kroeber, A. L. and C. Kluckhohn, 1952. <em>Culture: A      Critical Review of Concepts and Definitions.</em> Cambridge, MA: Peabody      Museum</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Kim, Uichol (2001). &#8220;Culture, science and      indigenous psychologies: An integrated analysis.&#8221; In D. Matsumoto      (Ed.), <em>Handbook of culture and psychology.</em> Oxford: Oxford      University Press</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Middleton, R. 1990. <em>Studying Popular Music</em>.      Philadelphia: Open University Press. </span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Istimewa:Sumber_buku/9780335152759"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">ISBN 978-0-335-15275-9</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Rhoads, Kelton. 2006. </span><a title="http://www.workingpsychology.com/download_folder/Culture_And_Influence.pdf" href="http://www.workingpsychology.com/download_folder/Culture_And_Influence.pdf"><em><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">The Culture Variable in the Influence      Equation.</span></em></a></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Tylor, E.B. 1974. <em>Primitive culture: researches into      the development of mythology, philosophy, religion, art, and custom.</em> New York: Gordon Press. First published in 1871. </span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Istimewa:Sumber_buku/9780879680916"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">ISBN 978-0-87968-091-6</span></a></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">O&#8217;Neil, D. 2006. </span><a title="http://anthro.palomar.edu/tutorials/cultural.htm" href="http://anthro.palomar.edu/tutorials/cultural.htm"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Cultural Anthropology Tutorials</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, Behavioral Sciences Department, Palomar College, San      Marco, California. Retrieved: 2006-07-10.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><a title="Ronald Reagan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ronald_Reagan"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Reagan, Ronald</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">. </span><a title="http://www.reagan.utexas.edu/archives/speeches/1989/011489a.htm" href="http://www.reagan.utexas.edu/archives/speeches/1989/011489a.htm"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">&#8220;Final Radio Address to the Nation&#8221;</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="January 14 (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=January_14&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">January 14</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="1989" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1989"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">1989</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">.      Retrieved </span><a title="June 3 (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=June_3&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">June 3</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="2006" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2006"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">2006</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">.</span></li>
</ol>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"><span>20.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Reese, W.L. 1980. <em>Dictionary of Philosophy and Religion: Eastern and Western Thought.</em> New Jersey U.S., Sussex, U.K: Humanities Press.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"><span>21.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">UNESCO. 2002. </span><a title="http://www.unesco.org/education/imld_2002/unversal_decla.shtml" href="http://www.unesco.org/education/imld_2002/unversal_decla.shtml"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Universal Declaration on Cultural Diversity</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, issued on </span><a title="International Mother Language Day (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=International_Mother_Language_Day&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">International Mother Language Day</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="February 21 (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=February_21&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">February 21</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">, </span><a title="2002" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2002"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">2002</span></a><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">. Retrieved: 2006-06-23.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"><span>22.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">White, L. 1949. <em>The Science of Culture: A study of man and civilization.</em> New York: Farrar, Straus and Giroux.</span></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: normal;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"><span>23.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">Wilson, Edward O. (1998). </span><a title="Consilience: The Unity of Knowledge (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Consilience:_The_Unity_of_Knowledge&amp;action=edit&amp;redlink=1"><em><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">Consilience: The Unity of Knowledge</span></em></a><em><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;">.</span></em><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;;"> Vintage: New York. </span><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Istimewa:Sumber_buku/9780679768678"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;,&quot;serif&quot;; color: windowtext;">ISBN 978-0-679-768</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Tulisan bersumber dari: <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya"><span style="color: windowtext;">http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya</span></a>; 191009;1309</p>
<input id="gwProxy" type="hidden" />
<p><!--Session data--><br />
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
<input id="gwProxy" type="hidden"><!--Session data--></input>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bantenheritage.org/id/budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengembangan Sumber Daya Kultural Banten dan Aplikasinya</title>
		<link>http://bantenheritage.org/id/pengembangan-sumberdaya-kultural-banten-dan-aplikasinya/</link>
		<comments>http://bantenheritage.org/id/pengembangan-sumberdaya-kultural-banten-dan-aplikasinya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 06:05:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wahyu</dc:creator>
				<category><![CDATA[SDM & Pemberdayaan Masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Banten]]></category>
		<category><![CDATA[potensi]]></category>
		<category><![CDATA[proyeksi]]></category>
		<category><![CDATA[sumber daya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bantenheritage.org/id/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[
 
Oleh:
Prof. DR. H. Hasan  Muarif Ambary
(Pusat Penelitian  Arkeologi Nasional)
 
I. LATAR BELAKANG
Banyak negara  berhasil memberlakukan peraturan perundangan untuk melindungi peninggalan  sejarah dan purbakala yang terdapat di negara-negara bersangkutan. Berbagai  upaya dan usaha yang dilakukan secara sungguhsungguh serta secara sadar pula,  didasari oleh premis bahwa peninggalan-peninggalan masa lalu, baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color: #993300; font-size: 14pt;"></span></strong></p>
<p class="nomor" style="text-align: center;" align="center"><span> </span></p>
<p class="nomor" style="text-align: center;" align="center"><strong><span style="color: #993300;">Oleh:</span></strong></p>
<p class="nomor" style="text-align: center;" align="center"><strong><span style="color: #993300;">Prof. DR. H. Hasan  Muarif Ambary</span></strong></p>
<p class="nomor" style="text-align: center;" align="center"><strong><span style="color: #993300;">(Pusat Penelitian  Arkeologi Nasional)</span></strong></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="nomor"><strong><span style="color: navy;">I.<span> </span>LATAR BELAKANG</span></strong></p>
<p class="bt"><span>Banyak negara  berhasil memberlakukan peraturan perundangan untuk melindungi peninggalan  sejarah dan purbakala yang terdapat di negara-negara bersangkutan. Berbagai  upaya dan usaha yang dilakukan secara sungguhsungguh serta secara sadar pula,  didasari oleh premis bahwa peninggalan-peninggalan masa lalu, baik yang berasal  dari kurun pra sejarah maupun sejarah, merupakan salah satu sumberdaya nasional  yang tidak dapat dibaharui.</span></p>
<p class="bt"><span><span> </span>Motif-motif penyelenggaraan kegiatan  konservasi yang menyerap keuangan, waktu dan tenaga yang tidak kecil itu,  didasarkan pada sejumlah kepentingan, seperti: (a) kemanusiaan, (b) ilmiah, dan  (c) praktikal. Pengenalan secara mendasar terhadap budaya masa lalu, akan ikut  menentukan atau memaparkan identiti, kepribadian, kesatuan dan persatuan  nasional. Motif penting lainnya, juga tak kalah penting nilainya, ialah bahwa  upaya dan usaha tersebut dapat ikut memacu perkembangan dan pertumbuhan ekonomi  yang andal, melalui sektor pariwisata atau pelancongan baik yang berlingkup  nusantara (nasional) ataupun mancanegara (internasional).</span></p>
<p class="bt"><span><span> </span>Telah terbukti pula, bahwa objek-objek wisata  budaya seperti di Tetihuacan (Mexico), Persepolis (Iran) atau Williamsburgh (AS),  melalaui pengelolaan yang optimum menghasilkan ratusan juta dolar sebagai hasil  negara maupun penerimaan-penerimaan tak langsung lainnya pada setiap tahunnya  (Sharer &amp; Ashmore, 1979: 554-555). Pemerintah, rakyat dan para pakar  Indonesia mengalami dan memiliki  sejarah dan pengalaman yang cukup panjang mengenai masalah pemeliharaan dan  perlindungan peninggalan-peninggalan sejarah dan purbakala. Tetapi tampak jelas  dalam hal keupayaan memanfaatkan potensi dari warisan budaya nasional, masih  merupakan pengalaman yang baru.</span></p>
<p class="bt"><span><span> </span>Di masa lalu, pemanfaatan potensi warisan  budaya nasional, tampak berkembang melalui beberapa alur, sampai dicapainya  tahap pembangunan yang mantap dewasa ini. Aluralur tersebut  yaitu:</span></p>
<p class="no"><span>1. <span> </span><em>Pemanfaatan secara alamiah</em>; tahapan  dimana potensi-potensi warisan budaya nasional termanfaatkan secara sederhana,  sangat kurang koordinasi, dan pada umumnya pengunjung adalah para peziarah,  pengunjung yang sengaja datang, maupun pengunjung untuk sesuatu keperluan lain,  misalnya para pakar/pecinta bidang seni area, arsitektur, agama, sejarah,  arkeologi, lingkungan alam dan sebagainya. Selain para pakar, pengunjung  kelompok lainnya, nyaris tak dibekali informasi apapun yang dianggap memadai  mengenai objek yang mereka kunjungi. Pada tahap ini para pengunjung belum  dikenai biaya tanda masuk dan jika pun ada, nilainya  rendah.</span></p>
<p class="no"><span>2. <span> </span><em>Tahap awal kooordinasi</em>; pada tahap ini  mulai ditandai adanya promosi peninggalan sejarah dan purbakala (warisan budaya  nasional) yang lebih ditekankan semata pada upaya-upaya pelestarian, partisipasi  dan pencarian hasil keuangan. Dalam tahap ini, bila ternyata tujuan utama  sebagian besar telah tercapai, baru dilanjutkan upaya-upaya pemanfaatannya,  termasuk pengembangan bagi sektor kepariwisataan. Pemanfaatan secara sengaja dan  terkoordinasi merupakan hal kedua dan berikut serta lebih bersifat pelanjutan  tradisi pemanfaatan sebelumnya. Pada tahap ini, pengunjung objek pelancong mulai  diarahkan dan dikenai biaya tanda masuk. Beberapa kemudahan umum mulai  ditimbulkan.</span></p>
<p class="no"><span>3. <span> </span><em>Tahap pemanfaatan koordinasi</em>; pada  tahap ini, kegiatan, tujuan dan sasaran ilmiah maupun pelestarian peninggalan  sejarah dan purbakala terus berlangsung, tetapi secara serentak, dan sengaja  dilakukan, langkah koordinasi pemanfaatannya. Para pengunjung mulai diatur, dikendalikan dan diawasi,  serta dikenal biaya tanda masuk yang rasional bersamaan dengan dibangunnya pula  berbagai sarana umum (public ultilities) sebagai pendukung demi kemudahan dan  kenyamanan. Kemudahan mulai dikelas-kelaskan, mulai dari yang paling sederhana  dan murah sampai yang paling mahal dan mewah. Namun pada tahap ini, promosi  masih diarahkan pada &#8220;product&#8221; dan bukan &#8220;kecenderungan pasar &#8220;, walau usaha ke  arah itu sudah dimulai.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="bt"><span><span> </span>Penelitian, pemeliharaan, dan restorasi  peninggalan sejarah dan purbakala di <em>Tapak Banten Lama</em>, merupakan  peleburan yang menyerap tenaga, waktu dan keuangan serta kepakaran yang tidak  kecil. </span></p>
<p class="bt"><span>Corak khusus  nilai serta posisinya dalam alur sejarah lokal maupun nasional, menyebabkan  Tapak Banten Lama (BL) dikunjungi oleh berbagai kalangan dengan penerapan yang  cukup tinggi. Sementara itu pula, masih harus dikeluarkan perbelanjaan bagi  penelitian, pemeliharaan, pengamanan, perlindungan dan pemugaran. </span></p>
<p class="bt"><span>Sungguh disadari  bahwa setiap upaya mobilisasi dan realisasi keuangan, sebaliknya harus  menghasilkan nilai tambah dan kemanfaatan seluas-luasnya, baik segi ilmiah  maupun praktik. Suatu proses panjang telah dilalui oleh masyarakat dan budaya  Banten Lama, sejak kawasan ini tumbuh dan berkembang menjadi pusat &#8216;tamaddun&#8217;  berciri Islam pada masanya sampai kemudian lenyap dari panggung sejarah, menjadi  puing-puing dan tradisi yang kurang diperhitungkan. Anggapan-anggapan dasar  itulah, yang<span> </span>kemudian menjadi pendorong  kuat untuk berupaya secara maksimal, agar Tapak BL yang memiliki potensi  sumberdaya kultural, berupaya meningkatkan sektor ekonomi bagi penduduk/  masyarakat daerah maupun nasional. Tentunya pula, harus dihindari dengan  sungguh-sungguh, rancangan negatif yang dapat mencemari nilai dan tradisi  masyarakat Banten yang sangat kuat pegangan agamanya. </span></p>
<p class="bt" style="text-indent: 0cm;"><span><span> </span>Garis-garis Besar Haluan Negara (Ketetapan  Majelis Permusyawaran Rakyat RI N0. 111MPRI1988, tanggal 9 Maret 1988), yang  kemudian menjadi program kerja Kabinet Pembangunan V, secara tegas dan jelas  mengamanatkan: </span></p>
<p class="masuk"><span>&#8220;Tradisi dan  peninggalan sejarah yang memberi corak khas kepada kebudayaan bangsa serta  hasil-hasil pembangunan dan yang mempunyai nilai perjuangan bangsa, kebanggaan  dan kemanfaatan nasional perlu dipelihara dan dibina untuk menumbuhkan kesadaran  sejarah, semangat perjuangan dan cinta tanah air serta memelihara kelestarian  dan<span> </span>kesinambungan pembangunan  bangsa&#8221;</span></p>
<p class="masuk"><span><span> </span>“… sejarah dengan itu perlu terus ditingkatkan  kemampuan daerah untuk membangun antara lain dengan menghimpun secara wajar,  tertib termasuk penggalian sumber keuangan yang baru yang tidak bertentangan  dengan kepentingan nasional.&#8221;</span></p>
<p class="masuk"><span>&#8220;Pembangunan  kepariwisataan dilanjutkan dan ditingkatkan dengan mengembangkan, mendaya  gunakan sumber dan potensi kepariwisataan nasional menjadi kegiatan ekonomi yang  dapat diandalkan, untuk memperbesar penerimaan devisa, memperluas kesempatan  berusaha dan lapangan kerja, terutama bagi masyarakat setempat, mendorong  pembangunan daerah serta …&#8221;</span></p>
<p class="masuk"><span>&#8220;Usaha  pembinaan dan pengembangan kepariwisataan negeri ditujukan pula untuk  meningkatkan kuantitas kebudayaan bangsa, memperkenalkan kekayaan peninggalan  sejarah serta … &#8220;</span></p>
<p class="masuk"><span>&#8220;Dalam  pembangunan kepariwisataan harus dijaga tetap terpeliharanya kepribadian bangsa  serta kelestarian fungsi dan mutu lingkungan hidup. Kepariwisataan perlu ditata  secara menyeluruh dan terpadu dengan melibatkan sektor lain yang terkait  …&#8221;</span></p>
<p class="masuk"><span>&#8220;Pengembangan  pariwisata Nusantara dilaksanakan sejalan dengan upaya memupuk rasa cinta tanah  air dan bangsa, serta menanamkan jiwa, semangat dan nilai-nilai luhur bangsa  &#8230;.&#8221;</span></p>
<p class="masuk"><span>&#8220;Dayatarik  Indonesia sebagai negara tujuan  wisata mancanegara perlu ditingkatkan melalui upaya pemeliharaan benda khazanah  bersejarah yang menggambarkan ketinggian budaya dan kebesaran bangsa  &#8230;.&#8221;</span></p>
<p class="bt"><span>Dalam kerangka  pemikiran itulah maka pemerintah daerah masyarakat Dati II Kabupaten Serang dan  Banten Lama bertekad sepenuhnya untuk berupaya secara maksimum/optimum agar  sumberdaya kultural BL yang amat potensial itu, dapat dikembangkan menjadi  kegiatan ekonomi yang andal, memiliki kemanfaatan nasional dan membantu  peningkatan kuantiti budaya/nilai/tradisi baik dalam cakupan daerah maupun  nasional.</span></p>
<p class="bt"><span><span> </span>Pengkaitan program pengembangan Tapak BL  terhadap pembinaan dan pengembangan potensi-potensi kepariwisataan nasional,  secara lebih teknik lagi, memiliki sejumlah manfaat dan pemenuhan beberapa  sektor keperluan hidup, yakni:</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>1. <span> </span>memperluas kesempatan berusaha, misalnya  dalam bidang perhotelan, makanan dan minuman (food and beverages) atau rumah  makan (restaurant), biro perjalanan, pramuwisata, pengembangan prasarana /  sarana rekreasi / artshop / pusat perbelanjaan, pendorongan penghidupan  kelompok-kelompok kesenian dan sebagainya.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>2. <span> </span>memperluas lapangan kerja, yakni terserapnya  angkatan / tenaga kerja antara lain ke dalam bidang-bidang usaha tersebut di  atas.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>3.<span> </span>meningkatkan pendapatan masyarakat dan  pemerintah, khususnya pada masyarakat dan pemerintah setempat, baik melalui  pendapatan langsung (pajak-pajak / retribusi dan lain-lain) maupun yang tak  langsung.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>4.<span> </span>mendorong pelestarian dan pengembangan  budaya dan peninggalan sejarah dengan perkataan lain meningkatkan kuantiti  budaya daerah l nasional.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>5. mendorong terpeliharanya  lingkungan hidup , yaitu termasuk kedalamnya usaha-usaha pembuatan taman-taman ,  penghijauan restrukturisasi tata-ruang dan sebagainya , sebagai tindak lanjut  untuk menambah daya tarik objek-objek pelancongan.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>6. mendorong pertumbuhan dan  peningkatan pembangunan sektor-sektor lainnya sebagai akibat yang logikal untuk  memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi para pelawat serta komuniti di sekitar  objek-objek pelancongan.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>7.<span> </span>memperluas kawasan Nusantara, memperkokoh  persatuan dan kesatuan bangsa serta menumbuhkan rasa cinta tanah air,  penghargaan dan Baling pengertian regional maupun  internasional.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>8.<span> </span>pada akhirnya objek-objek pelancongan  (termasuk objek pelancongan budaya) terdorong untuk dapat membiayai dirinya  sendiri, baik bagi kepentingan pengamanan, pemeliharaan, konservasi maupun  restorasi, dan sebagainya.</span></p>
<p class="bt"><span>Saling  berpengaruh dan berkaitan di antara pembinaan dan pengembangan potensi  kesejarahan dan kepurbakalaan di satu sisi, serta pembinaan dan pengembangan  kepariwisataan pada sisi yang lain, telah terbukti memberikan nilai tambah, baik  secara lokal maupun nasional, seperti telah diperlihatkan melalui pengelolaan  terpadu di beberapa negara lain. Nilai tambah tersebut, baik berupa devisa yang  semakin meningkat, maupun dalam sektor-sektor kehidupan di sekitar objek-objek  pelancongan yang dikelola.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="nomor"><strong><span style="color: navy;">II. <span> </span>POTENSI WISATA BUDAYA WILAYAH  BANTEN</span></strong></p>
<p class="bt"><strong><span style="color: navy;">A. <span> </span>Geografi</span></strong></p>
<p class="bt"><span>Tapak Banten Lama  (BL) terletak ± 10 km di sebelah baratlaut kota Serang, Jawa Barat atau pada  koordinat/kedudukan 105°07&#8242; -106°22&#8242; BT dan OS°20&#8242; &#8211; 06°21&#8242; LS. Penduduk yang  sekarang menghuni kawasan BL tersebar pada kawasan-kawasan seluas ± 800 Ha, yang  secara fisiografis merupakan dataran pantai, relatif rata, berketinggian  rata-rata 6,0 meter di atas muka laut, dengan kemiringan kurang dari  8%.</span></p>
<p class="bt"><span>Pada saat ini,  jaringan jalan serta sarana transportasi dari BL, serta prasarana/sarana  pendukung lainnya sudah sangat memadai. Perkembangan ini diikuti oleh  perkembangan sektor ekonomi, yang antara lain diperlihatkan oleh kenaikan  pendapatan perkapita lebih dari Rp, 241.000,- pada setiap bulannya.  Cabang-cabang mata pencarian penduduk meliputi antara lain: bertani, nelayan,  pertukangan, perdagangan, jasa angkutan, pegawai negeri, guru, anggota ABRI dan  sebagainya. Angka penghasilan perkapita per bulan diatas merupakan angka umum  yang dapat dicapai oleh para petani.</span></p>
<p class="bt"><span><span> </span>Banten Lama dl masa lalu bermula dari desa  nelayan pada kurun logam awal (perundingan/ <em>earlymetal-stage</em>), kemudian  menjadi salah satu pelabuhan kerajaan Sunda, sampai akhirnya menjadi salah satu  pusat <em>tamaddun</em> Islam yang amat menonjol tidak hanya di Nusantara, tetapi  juga di kawasan Asia Tenggara. Tentu saja dengan dukungan sejumlah faktor  sumberdaya, maka Banten Lama pada abad XVI-XVII menjadi salah satu bandar ramai  yang penting di Asia Tenggara. Pada masanya pula, bandar ini dihuni oleh  penduduk jauh lebih padat daripada penduduk kota-kota besar Eropa dalam kurun  waktu yang setingkat.</span></p>
<p class="bt"><span>Bukti-bukti  kejayaan yang pernah dialami oleh Kesultanan Banten, kini tersebar hampir merata  di seluruh Banten Lama. Bukti-bukti tersebut antara lain berbentuk tapak,  monumen, artefak dan tradisi, baik yang telah runtuh atau rusak, setengah kekal  dan yang masih kekal. Keseluruhannya itu merupakan sumberdaya kultural  potensial, yang dapat terus dikembangkan pemanfaatannya bagi kepentingan umum  seluas-luasnya, termasuk sebagai pendorong kegiatan ekonomi yang  andal.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="masuk"><strong><span style="color: navy;">B. <span> </span>Data Objektif dan Nilai  Tambah</span></strong></p>
<p class="no"><span>1. <span> </span>Di Banten Lama sampai saat ini masih dijumpai  berlangsungnya berbagai sisa tradisi masa lalu, yang karena faktor waktu,  beberapa diantaranya, secara logik tentu tidak kekal lagi, dalam arti kata bahwa  tradisi-tradisi tersebut dianggap mengalami perubahan, penyusutan, penambahan  ataupun penyesuaian, baik secara kuantitatif ataupun  kualitatif</span></p>
<p class="masuk"><span>Secara umum,  seluruh sisa tradisi tersebut dapat memperkaya dan meningkatkan ketahanan kita  dalam bidang kebudayaan, sekaligus turut mewamai keseragaman unsur budaya dalam  konteks/sistem budaya Indonesia yang total. Selain sisa  tradisi, di Banten Lama juga tersebar sisa-sisa budaya masa lalu, yang pada  umumnya berkaitan dengan puncakpuncak kejayaan dan kewujudan Kesultanan Banten,  antara lain meliputi bidang-bidang politik, ekonomi, sosial, peraticangan,  pembangunan dan teknolgi.</span></p>
<p class="masuk"><span>Sebahagian  besar dari peninggalan tersebut, berciri Islam begitu kuat.  Peninggalan-peninggalan yang dapat disaksikan sampai sekarang antara lain:  benteng/istana Surosowan, Keraton Kaibon, Mesjid Agung, Meriam Ki Amuk,  instalasi penjernihan/ penampungan air Tasik Ardi dan pengindelan, menara dan  mihrab Mesjid Pecinan Tinggi, Vihara Budha (Klenteng Cina), Benteng Speelwijk,  Pelabuhan Karangantu dan sebagainya, serta belum termasuk peninggalan di  Kasunyatan, Sunan Mas, Odel dan seterusnya.</span></p>
<p class="masuk"><span>Itu pun belum  terhitung bukti-bukti kompleks tapak kehidupan masyarakat Banten dalam teknologi  peralatan, seperti tampak buktinya di Panjunan (teknologi gerabah), Sukadiri  (teknologi logam), Pamarican (pengolahan komoditas). Sebahagian kemampuan  teknikal masyarakat Banten di masa lalu, disajikan pada ruang-ruang pamer Museum  Banten Lama, Museum Negeri Jawa Barat, Museum Nasional (Jakarta), Pusat  Penelitian Arkeologi Nasional (Jakarta), serta berbagai tempat lain termasuk di  luar negeri.</span></p>
<p class="masuk"><span>Nilai penting  budaya Banten, mungkin sulit diabstraksikan secara sederhana, tetapi setidaknya,  dari Banten telah dihasilkan lebih dari 50 tesis sarjana (S1), 1 tesis magister  (S2) dan 3 disertasi doktor falsafah (S3), serta tak terhitung lagi laporan dan  himpunan naskah seminar dengan topik permasalahan Banten.</span></p>
<p class="no"><span>2.<span> </span><em>”Inisiatif Bersejarah&#8221;</em> dari  Pemerintah Daerah Tk.II Kabupaten Serang pada tahun 1964, yang menginginkan  pengungkapan dan penjelasan terperinci dan ilmiah dari pada ahli mengenai  sejarah Banten. Selanjutnya, berawal dari Seminar Sejarah Banten (1963),  berlanjut dengan dibentuknya Komando Purbakala, yang bertugas merawat dan  memperbaiki seluruh peninggalan keraton. Fase berikutnya dalam kurun waktu 25  tahun sesudahnya, Pemda Tk. II Kabupaten Serang, senantiasa lekat dan terlibat  terhadap permasalahan perkembangan pengelolaan arkeologi dan sejarah  Banten.</span></p>
<p class="masuk"><span>Selama hampir  25 tahun itu pula (196415-1990) terjadi `boom&#8217; kegiatan pembangunan di kawasan  Banten Lama, menjangkau hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk pembinaan,  pengembangan, penelitian dan pelestarian segi kesejarahan dan kepurbakalaannya.  Tentu harus dimasukkan pula, pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan  rakyat.</span></p>
<p class="masuk"><span>Sebagai akibat  dan hasil pembangunan dimaksud, kini tersedia fasilitas dan sejumlah kemudahan,  baik berupa prasarana/sarana fisikal, maupun sosial-ekonomi, yang sekarang  semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Banten dan  sekitarnya.</span></p>
<p class="masuk"><span>Kegiatan-kegiatan pembangunan dalam  bidang kearkeologian dan kesejarahan di Banten Lama, baik penelitian dan  perlindungan telah memperluas dan mengembangkan potensi sumberdaya kultural yang  terdapat di Banten Lama. Tanpa disadari, arus wisatawan baik wisatawan Nusantara  (nasional) maupun wisatawan mancanegara (internasional) yang datang ke Banten  Lama semakin hari, semakin memperlihatkan lonjakan angka yang mengesankan.  Berdasarkan data hasil penelitian, kunjungan ke Banten Lama paling tidak 1,5  juta setiap tahunnya.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="nomor"><strong><span style="color: navy;">III. <span> </span>PENGEMBANGAN WISATA  PANTAI</span></strong></p>
<p class="bt"><strong><span style="color: navy;">A. <span> </span>Potensi</span></strong></p>
<p class="bt"><span>Potensi wisata  pantai di wilayah Banten dan ex-karesidenan Banten, dapat dikelompokkan ke dalam  dua geografi, yakni;</span></p>
<p class="no"><span>1. <span> </span>Pantai dan pulau-pulau di kawasan Teluk  Banten, mulai dari Tanjung Pontang sampai ke Bojonegara. Pada kawasan pantai dan  hinterlandnya di wilayah ini sarat/penuh dengan potensi/obyek wisata sejarah dan  budaya.</span></p>
<p class="no"><span>2.<span> </span>Pantai barat di Selat Sunda pada wilayah  Serang/ Banten Selatan, yang kurang sekali potensi wisata budayanya. Di kawasan  ini terdapat pantai-pantai potensial untuk dikembangkan, seperti: Salira,  Pulorida, Merak, Anyer Lor, Anyer Kidul, Karangbolong, dan  Pasuruan.</span></p>
<p class="bt"><span>Pada kedua  kawasan geografis pantai tersebut, terdapat pula obyek-obyek wisata cagar alam  dan hutan lindung, yakni:</span></p>
<p class="bt"><span>1. Pulau Dua (P.  Burung) </span></p>
<p class="bt"><span>2. Pulau  Sanghyang</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="bt"><span><span> </span>Dari data tahun 1988, menunjukkan bahwa untuk  mendukung aliran wisatawan ke obyek-obyek tersebut di Serang, Merak, Anyer dan  lainnya telah terdapat setidaknya 5 buah hotel, 55 buah losmen/cottages, 62  rumah makan, 10 gedung bioskop dan sebagainya. Tentu saja fasilitas yang  tersebar ini masih jauh dari memadai, dan pula belum  terintegrasi.</span></p>
<p class="bt"><span><span> </span>Namun demikian, tampak gejala yang cukup  menggembirakan, mengingat ke wilayah Kabupaten Serang saja (belum ke seluruh  pelosok ex-Karesidenan Banten), yakni meningkatnya arus wisatawan baik wisatawan  mancanegara maupun wisatawan Nusantara dari tahun ke tahun seperti tampak pada  data berikut.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="bt"><span>Arus Kunjungan  Wisatawan ke Kabupaten Serang pada tahun 1985 -1988</span></p>
<table class="MsoTableGrid" style="border: medium none; border-collapse: collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 42.3pt;" rowspan="2" width="56">
<p class="bt"><span>No</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 56.55pt; border: 1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color;" rowspan="2" width="75">
<p class="bt"><span>Tahun</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 172.95pt; border: 1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color;" colspan="2" width="231">
<p class="bt"><span>Jumlah  Wisata</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 84.15pt; border: 1pt 1pt 1pt medium solid solid solid none windowtext windowtext windowtext -moz-use-text-color;" rowspan="2" width="112">
<p class="bt"><span>Jumlah</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 84.15pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="112" valign="top">
<p class="bt"><span>Nusantara </span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 88.8pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="118" valign="top">
<p class="bt"><span>Mancanegara</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 42.3pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid -moz-use-text-color windowtext windowtext;" width="56" valign="top">
<p class="bt"><span>1.</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 56.55pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="75" valign="top">
<p class="bt"><span>1984</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 84.15pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="112" valign="top">
<p class="bt"><span>965.309</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 88.8pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="118" valign="top">
<p class="bt"><span>17.597</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 84.15pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="112" valign="top">
<p class="bt"><span>982.906</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 42.3pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid -moz-use-text-color windowtext windowtext;" width="56" valign="top">
<p class="bt"><span>2.</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 56.55pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="75" valign="top">
<p class="bt"><span>1985</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 84.15pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="112" valign="top">
<p class="bt"><span>1.051.726</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 88.8pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="118" valign="top">
<p class="bt"><span>15.730</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 84.15pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="112" valign="top">
<p class="bt"><span>1.067.456</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 42.3pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid -moz-use-text-color windowtext windowtext;" width="56" valign="top">
<p class="bt"><span>3.</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 56.55pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="75" valign="top">
<p class="bt"><span>1986</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 84.15pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="112" valign="top">
<p class="bt"><span>3.096.056</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 88.8pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="118" valign="top">
<p class="bt"><span>6.863</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 84.15pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="112" valign="top">
<p class="bt"><span>3.102.919</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 42.3pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid -moz-use-text-color windowtext windowtext;" width="56" valign="top">
<p class="bt"><span>4.</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 56.55pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="75" valign="top">
<p class="bt"><span>1987</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 84.15pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="112" valign="top">
<p class="bt"><span>3.185.939</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 88.8pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="118" valign="top">
<p class="bt"><span>15.262</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 84.15pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="112" valign="top">
<p class="bt"><span>3.201.201</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 42.3pt; border: medium 1pt 1pt none solid solid -moz-use-text-color windowtext windowtext;" width="56" valign="top">
<p class="bt"><span>5.</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 56.55pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="75" valign="top">
<p class="bt"><span>1988</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 84.15pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="112" valign="top">
<p class="bt"><span>3.237.924</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 88.8pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="118" valign="top">
<p class="bt"><span>15.888</span></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 84.15pt; border: medium 1pt 1pt medium none solid solid none -moz-use-text-color windowtext windowtext -moz-use-text-color;" width="112" valign="top">
<p class="bt"><span>3.253.812</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="bt"><span>(Sumber: 464  Tahun Kabupaten Serang, 1990:83)</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="bt"><span>Pada kondisi  tahun 1993, tentu saja angka-angka tersebut harus direvisi, terutama dengan  mengingat pertumbuhan dan perkembangan pembangunan di Merak. Cilegon, Anyer dan  Carita.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="no"><strong><span style="color: navy;">IV. PERMASALAHAN</span></strong></p>
<p class="bt"><span>Selain  faktor-faktor positif dan potensi yang dijadikan pertimbangan dalam pengembangan  wisata budaya di wilayah Banten, tentunya harus diperhitungkan secara teliti dan  obyektif faktor-faktor kendala, atau setidaknya faktor yang kurang  mendukung/kondusif, sebelum semuanya menjadi tidak terkendali. Salah satu faktor  kendala tersebut ialah faktor sarana, termasuk mekanisme, prosedur, sistem,  motivasi, kesiapan, kinerja dan belum dilakukannya analisis resiko dan manfaat  dari lingkungan sosial budaya Banten. Dalam hal ini perlu penajaman masalah  untuk memperoleh prioritas pemecahan dan penyelesaiannya. Juga harus diyakinkan  kepada semua pihak bahwa proyek pengembangan wisata Banten sama sekali tak  bermaksud untuk mengkomersilkan segi-segi luhur, spiritual dan religiusitas  masyarakat Banten. Yang ingin dipromosikan adalah aspek-aspek budaya material  Banten yang mengandung unikum dan beragam.</span></p>
<p class="bt"><span><span> </span>Jikapun terdapat sejumlah program menyentuh  fisik bangunan-bangunan sakral yang tersebar di wilayah Banten, itu pun  dilakukan dengan segenap kesadaran, mengingat bahwa bangunan itu mutlak harus  dipelihara, dilindungi, diamankan dan jika perlu dipugar, agar terjaga dari  segala kemungkinan kerusakan, baik yang bersifat kultural maupun alami. Inipun  dilandasi kenyataan, bahwa pemeliharaan bangunan-bangunan tersebut amat mahal,  dan harus terjamin keteraturan dan kesinambungannya. Ini memerlukan biaya yang  tidak kecil. Sementara itu kemampuan pemerintah amat terbatas, begitu pula dari  masyarakat untuk sementara ini. Peta permasalahan utama dalam pengembangan  wisata budaya di wilayah Banten, antara lain:</span></p>
<p class="no"><span>1. <span> </span>Bagaimanapun, pengalaman pembangunan  menghasilkan pula kearifan, yakni munculnya kesadaran bahwa: (a) di Banten Lama  telah tertanam keuangan, waktu dan kepakaran yang demikian besar, (b) yang  secara kurang disadari pula telah menghasilkan asset tidak ternilai, seperti:  monumen yang dipugar, tapak yang dilindungi, hasil kegiatan analisis, publikasi  ilmiah/populer, tersedianya sejumlah prasarana/sarana pelayanan umum yang  dibangun oleh institusi-institusi terkait dan sebagainya.</span></p>
<p class="no"><span>2.<span> </span>Yang seluruhnya ternyata belum dioptimasikan  sepenuhnya, sehingga daya dan hasil guna asset-asset tersebut secara relatif  masih rendah.</span></p>
<p class="no"><span>3. <span> </span>Dan sementara itu belum tercipta suasana yang  mendukung (kondusif), khususnya dari aspek perilaku sosial, misalnya kebersihan,  ketertiban, keindahan, termasuk struktur tata-letak tempat penjemuran cucian  pakaian, areal gerak pedagang, arus penyebaran pengunjung dan sebagainya, yang  pada dasarnya merupakan ketidaksiapan aspek-aspek perilaku sosial dalam  menghadapi berbagai perubahan atau kemajuan.</span></p>
<p class="no"><span>4. <span> </span>Selain itu, tingginya frekuensi kunjungan ke  Banten Lama, karena berbagai hal belum nampak pengaruhya pada segi kegiatan  ekonomi yang dapat diandalkan, sehingga outcome/output yang dihasilkannya masih  sangat rendah. Sebaliknya prasarana/sarana yang telah dibangun memerlukan  biaya-biaya pemeliharaan dan masih harus ditingkatkan serta diperluas. Biaya  besar lainnya, juga masih harus dikeluarkan bagi penelitian, perlindungan,  pembinaan dan pengembangan nilai-nilai dan sisa tradisi, arkeologi dan  kesejarahan.</span></p>
<p class="bt"><span>Bersamaan itu  pula, perlu dicegah sejak kini, hal-hal yang diperkirakan akan merugikan proyek  pengembangan tersebut, atau sebaliknya perlu diupayakan langkah pengamanan dan  penangkalan segala dampak negatif proyek pengembangan beserta hasil-hasilnya.  Dampak negatif tesebut misalnya:</span></p>
<p class="no"><span>1. <span> </span>meningkatnya harga-harga barang jasa di  pusat-pusat pelancongan Banten Lama tidak wajar dan tidak proporsional, yang  pada akhirnya akan merugikan lapangan usaha masyarakat itu sendiri, meskipun  pada awalnya akan memberatkan pelancong.</span></p>
<p class="no"><span>2. <span> </span>terganggunya keseimbangan lingkungan hidup,  akibat pertumbuhan dan perkembangan pengembangan prasarana/sarana fisikal yang  tidak serasi, termasuk gangguan atau pencemaran terhadap keindahan, keutuhan dan  kelestarian obyek pelancongan serta isinya.</span></p>
<p class="no"><span>3. <span> </span>ketidaksiapan kultural dari komunitas  masyarakat Banten Lama menerima proyek pengembangan berikut hash-hasilnya,  akibat kurang terencananya pengelolaan aspek-aspek sosio-kultural  setempat.</span></p>
<p class="no"><span>4.<span> </span>meningkatnya. tindak pidana, akibat kurang  terpantaunya lintas orang, barang dan jasa sebagai akibat langsung dari dorongan  pertumbuhan dan perkembangan pusat-pusat obyek pelancongan Banten  Lama.</span></p>
<p class="bt"><span>Proyek  pengembangan Tapak Banten Lama yang direncanakan ini, memperhatikan pula  cadangan yang dikeluarkan dalam seminar <em>The Ford Foundation Project for the  Conservation and Development of Site Museum of Banten</em> (Ikhtisar Rekomendasi  terlampir), sebagai usaha menekan, mengulangi dan menangkal permasalahan  potensial, yang diperkirakan kemungkinan terjadinya. Cadangan dimaksud pada  dasarnya diarahkan pada aspek-aspek integratif, meliputi: tapak dan  lingkungannya, kepentingan penelitian dan perlindungan, pengembangan tarikan  pelancong dan pertimbangan-pertimbangan lainnya.</span></p>
<p class="bt"><span>Sosok  permasalahan, yang barangkali dapat dikemukakan dalam karakteristik kawasan  pantai (di utara dan barat-selatan), misalnya:</span></p>
<p class="no"><span>1. <span> </span>Kawasan pantai utara cenderung kumuh, belum  tertata serta belum tersedia fasilitas-fasilitas rekreasi kelautan yang memadai,  apalagi yang ideal. Termasuk dalam kendala tersebut, ialah belum tersedianya  fasilitas angkutan dan pelabuhan yang nyaman, baik di Karangantu, Pontang maupun  Bojonegara. Sebaliknya di kawasan ini dari segi sejarah dan budaya yang memiliki  asset potensial. Untuk menyebut contoh saja, di kawasan ini antara lain terdapat  obyek wisata peziarahan (makam, keraton, klenteng, dll), danau buatan Tasikardi,  Mesjid Banten, Museum, Benteng Spelwijk, Vihara dan sebagainya. Termasuk potensi  seni-seni tradisional, seperti: <em>debus, patingtung, ubrug, terbang gede,  rudat, hadrah</em> dan sebagainya, yang nyata-nyata menarik animo  wisatawan.</span></p>
<p class="no"><span>2. <span> </span>Sementara itu di kawasan pantai  barat-selatan, pantai dan kawasan cagar alamnya tidak memiliki potensi wisata  kultural yang dapat disajikan, kecuali misalnya penyajian seni-seni  tradisional.</span></p>
<p class="no"><span>3.<span> </span>Aspek sosial yang belum kondusif bagi usaha  menumbuhkan dan mengembangkan potensi kepariwisataan, khususnya wisata  pantai/resort.</span></p>
<p class="no"><span>4. <span> </span>Penyebaran fasilitas sosial, umum dan wisata  belum merata, misalnya sarana perhotelan/losmen hanya terkonsentrasi di Serang,  Merak dan Anyer. Ini tentunya berpengaruh terhadap lama tinggal di lokasi-lokasi  potensial, sekalipun dari segi transportasi hampir dapat dikatakan tidak ada  masalah yang berarti.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="nomor"><strong><span style="color: navy;">V. <span> </span>PENDEKATAN</span></strong></p>
<p class="bt"><span>Beranjak dari  penalaran, fenomena, struktur permasalahan, serta tanggapan mengenai potensi  sumberdaya kultural Banten Lama, yang diusulkan pengembangannya itu, berikut ini  beberapa pertimbangan, yang diharapkan dapat dijadikan sebagai urutan prioriti  implementasi rencana pengembangan, antara lain;</span></p>
<p class="no"><span>1. <span> </span>untuk dapat mewujudkan upaya optimasi, maka  diperlukan sejumlah faktor pendukung, agar optimasi yang akan dilaksanakan itu  berdaya dan berguna.</span></p>
<p class="no"><span>2. <span> </span>salah satu faktor penunjang yang  dipersyaratkan misalnya dikeluarkannya sebuah peraturan setingkat peraturan  daerah (perda) sebagai upaya untuk mengawasi/mengendalikan kawasan Tapak Banten  Lama terhadap perubahan dan pembangunan fisikal baru, baik dalam kualiti maupun  kuantiti, sehingga dengan demikian Banten Lama dapat dinyatakan berstatus  tertutup, kecuali atas saran atau persetujuan dari purbakala dan pemerintah  daerah.</span></p>
<p class="no"><span>3. <span> </span>tindak lanjut dari kebijakan dasar tersebut,  ialah perlu dibentuk / ditunjuknya sebuah badan pengelola tunggal, badan otoriti  atau wadah lain yang sejenis, yang berasal dari gabungan unsur pemerintah,  masyarakat usaha (BUMD, semi BUMD, atau swasta tulen).</span></p>
<p class="no"><span>4.<span> </span>kewenangan pembentukan/penunjukan badan  pengelola, sepenuhnya berada pada pihak Pemda Tk. II Kabupaten Serang dengan  persetujuan dari lembaga perwakilan rakyat setempat, yang akan menentukan pula:  ruang lingkup, kewenangan, program umum, kebijaksanaan pendanaan serta tingkat  tanggung jawab badan pengelola/otoriti dimaksud.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="bt"><span>Obyek dan  justifikasi pertimbangan-pertimbangan tersebut, dianggap dapat diarahkan untuk  dijadikan sebagai usaha yang meliputi:</span></p>
<p class="no"><span>1. <span> </span>realisasi pembentukan suatu badan pengelola  (otoriti) melalui suatu keputusan tingkat daerah, yang kemudian dikukuhkan  menjadi peraturan daerah (PERDA), yang lingkup tugasnya antara lain; menyebarkan  kebajikan, menyusun perencanaan, menjaga rancangan, melaksanakan seluruh muatan  teknik program, fisikal, pentadbiran dan tanggung jawab.</span></p>
<p class="no"><span>2. <span> </span>penetapan status Banten Lama sebagai kawasan  kewenangan badan otoriti, yang dibatasi dan diawasi pengubahan-pengubahan  fisikal baru (status-quo).</span></p>
<p class="no"><span>3.<span> </span>badan pengelola yang ditunjuk, yang  berkorporasi atau berasosiasi, dengan unit-unit usaha terkait, dan menetapkan  kontraktor/sub kontraktor sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku,  melalui perbincangan dengan pentadbir/pemerintah daerah  berwenang:</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>a. <span> </span>mengkoordinasikan, melaksanakan dan  meng-awasi seluruh kegiatan sesuai rencana.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>b. <span> </span>menyusun seluruh rencana pembiayaan serta  pencarian sumber-sumbernya, termasuk pembiayaan yang didukung oleh lembaga  keuangan pemerintah dan swasta, sekaligus rencana dan tahap pengembalian dalam  hal keuangan yang berasal dari pinjaman.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>c. <span> </span>menyusun jangkauan seluruh pemasukan sebagai  akibat dioperasikannya seluruh hasil proyek.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>d. <span> </span>melaksanakan/mematuhi kewajiban-kewajiban  penyewaan, termasuk pengajuan usul keringanan, penundaan ataupun pembebasan  penyewaan tertentu.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>e.<span> </span>mengurus seluruh urusan perijinan, mengatur  dan mengawasi agen-agen, para operator, tenaga kerja dan  sebagainya.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>f. <span> </span>mengelompokkan, mengatur, mendirikan dan  mengawasi hotel, kawasan (resort), restaurant, art/recreationl/nformation,  shopping centre, sarana pelayanan umum dan lain-lain dalam batas-batas  kewenangannya.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>g. <span> </span>menyusun dan menetapkan serta mengembangkan  standar jasa/pelayanan yang memadai, dan</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>h. <span> </span>menyusun serta menetapkan (dengan persetujuan  pemerintah/ DPRD) berbagai jenis pungutan (retribusi/ ongkos/biaya/harga tiket)  pelayanan yang, proporsional dan berpatutan (reasonable).</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="nomor"><strong><span style="color: navy;">VI. PROSPEK  PENGEMBANGANNYA</span></strong></p>
<p class="bt"><strong><span style="color: navy;">1.<span> </span>Kawasan Wisata Budaya Banten  Lama</span></strong></p>
<p class="bt"><span>Tindak lanjut  setelah dikeluarkannya peraturan dan ditetapkannya Badan Pengelola/Otoriti  kawasan wisata Banten Lama meliputi langkah dasar, yakni:</span></p>
<p class="nomor"><span>A. <span> </span>Evaluasi Asset Banten  Lama</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>1. <span> </span>Monumen/bangunan yang telah dipugar dan  senantiasa ramai dikunjungi para pelancong/peziarah.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>2. <span> </span>Hasil-hasil penelitian yang tersaji dalam  sejumlah besar publikasi maupun yang digambarkan pada ruang-ruang pamer Museum  Situs Kepurbakalaan Banten Lama.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>3. <span> </span>Bangunan Museum Situs Kepurbakalaan Banten  Lama itu sendiri, beserta isi, koleksi, alat/sarana kerja, tenaga dan kepakaran  pengelolaannya.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>4. <span> </span>Masyarakat Banten Lama berikut tradisi dan  agamanya.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>5.<span> </span>Posisi `tengah&#8217; (secara geografi) kawasan  Banten Lama terhadap kawasan lawatan alam, seperti P. Dua (konservasi alam untuk  satwa burung), Batukuwung (sumber air panas), pantai Carita, Pulorida, kawasan  lawatan industri (modern: Cilegon, tradisional: Cikande) dan  sebagainya.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>6.<span> </span>Prasarana/sarana yang telah dibangun oleh  institusi-institusi berkait/teknikal, yang amat menambah dukungan daya tarik dan  pertumbuhan kawasan Banten Lama, layanan bank, pos, kesehatan, pendidikan,  pasar, kedai, medan letak kereta dan lain-lain.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>7. <span> </span>Infrastruktur dan struktur pemerintahan  daerah sebagai baris pelayanan masyarakat di Banten Lama dan  sebagainya.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="nomor"><span>B. <span> </span>Program Pengelolaan</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>1. <span> </span>Pada tingkat paling awal yang dapat dilakukan  oleh Badan Otoriti, bersama institusi terkait melakukan penilaian secara  komprehensif terhadap antara lain: asset, kendala dan  pemecahannya.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>2. <span> </span>Berdasarkan itu, maka disusun rencana program  kegiatan dengan urutan prioritinya, yakni:</span></p>
<p class="masuk-1" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 59.55pt;"><span>a. <span> </span>penataan kembali dan pemanfaatan bangunan  sejarah dan purbakala serta prasarana/sarana penunjangnya, antara lain dengan  membenahi dan mengatur kembali perparkiran, kios-kios, sarana sanitasi, pasar  dan pembuatan gerbang masuk utama (the main toll-gate) dan lain-lain. Dalam peta  rencana, kawasan ini diplot dengan wama merah.</span></p>
<p class="masuk-1" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 59.55pt;"><span>b. <span> </span>menata kembali dan membangun lingkungan,  memperluas prasrana/sarana peziarah, pembangunan kios makan-minum, pembangunan  art/handicraft/ information centres, perluasan sarana sanitasi/urinoir, dan  lain-lain, yang diarahkan pula bagi pengembangan pelabuhan Karangantu dan Pabean  untuk dioptimasikan sebagai kelengkapan sarana pendukung. Kawasan tahapan ini  diplot dengan warna kuning.</span></p>
<p class="masuk-1" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 59.55pt;"><span>c.<span> </span>membangun, mengembangkan dan memanfaatkan  Waduk Tasik Ardi menjadi pusat rekreasi air maupun kegunaan praktis sebagai  pemasok/ pengatur air bersih/irigasi, kawasan tahap program ini diplot warna  hijau, tetapi realisasinya simultan dengan kawasan merah.</span></p>
<p class="masuk-1" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 59.55pt;"><span>d. <span> </span>Pengembangan berikutnya mencakup: (d.l )  pengurugan dan pemanfaatan empang pantai menjadi taman atau kawasan hijau, (d.2)  pembangunan kawasan rekreasi balita/anak-anak dengan sarana yang sesuai, (d.3)  perluasan pembangunan restaurant, kios, sarana baru yang lebih memadai, (d.4)  penataan pantai bagi penyediaan sarana olah raga kelautan (surving, diving,  shipping, dan lain-lain), atau bagi kepentingan ilmiah (underwater archeology),  (d.5) terkait, dan (d.6) pembangunan prasarana/sarana umum lebih lanjut  (advanced program). Kawasan ini diplot warna biru.</span></p>
<p class="bt"><span>Rencana  pengembangan dan pemanfaatan potensi kultural Banten Lama, mengacu pada  pendayagunaan potensi kesejarahan serta kepurbakalaan. Karena itu dan  bagaimanapun, pengembangan program arkeologi merupakan komponen pengembangan  yang utama dan pertama, yang didukung oleh komponen-komponen pengembangan yang  lain:</span></p>
<p class="no"><span>1. <span> </span>komponen pengembangan lingkungan dan  restruktur tataguna lahan/ruang.</span></p>
<p class="no"><span>2. <span> </span>komponen pengembangan, masyarakat, tradisi  dan<span> </span>budaya di Banten  Lama.</span></p>
<p class="no"><span>3. <span> </span>komponen pengembangan musim tapak yang secara  keseluruhan merupakan komponen pengembangan yang dioperasikan secara  terkoordinasi, terpadu, berdaya dan berhasilguna.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="masuk"><strong><span style="color: navy;">2.<span> </span>Pengembangan Wisata  Pantai</span></strong></p>
<p class="masuk-1"><span style="color: navy;">* <span> </span>Perspektif  Pengembangan</span></p>
<p class="bt"><span>Agaknya dan  pertama-tams, setiap upaya pengembangan potensi wisata pantai perlu diarahkan  untuk mengintegrasikan baik potensi pantai di utara maupun di selatan. Integrasi  tersebut akan saling mengisi dan melengkapi, lebih-lebih apabila pada tingkat  operasional dilembagakan paket-paket tour terpadu dan  keterkaitan.</span></p>
<p class="bt"><span><span> </span>Berikutnya adalah mengarahkan pertumbuhan dan  perkembangan potensi di kedua kawasan tersebut dengan  strategi:</span></p>
<p class="no"><span>a <span> </span>pembangunan secara simultan dan  berkaitan</span></p>
<p class="no"><span>b <span> </span>pembangunan masing-masing namun berkaitan  selanjutnya adalah upaya-upaya bagaimana meningkatkan:</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span><span> </span>1) <span> </span>kepedulian sosial kawasan pengembangan terhadap aspek-aspek kebersihan,  keindahan, kesehatan, dalam arti sempit dan dalam arti luas adalah bagaimana  meningkatkan kesejahteraan mereka.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>2) <span> </span>meningkatkan dan menumbuhkan harmonisme di  kalangan penduduk kawasan pengembangan, dengan menanamkan pengertian serta  apresiasi bahwa penduduk kawasan pengembangan merupakan bagian integral  sekaligus subyek pengembangan itu sendiri.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>3) <span> </span>meningkatkan dan menumbuhkan daya tahan  masyarakat untuk tetap mempertahankan nilai-nilai luhur tradisi, sehingga tidak  perlu terjadi benturan ataupun kesenjangan budaya (cultural lag) di  komponen-komponen kawasan pengembangan. Ini tentunya memerlukan sosialisasi  program menurut kebutuhannya.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="nomor"><strong><span style="color: navy;">VII.<span> </span>PENUTUP</span></strong></p>
<p class="bt"><span>Dari uraian  terdahulu, dapat kami simpulkan beberapa hal sebagai  berikut:</span></p>
<p class="no"><span>I. <span> </span>Indonesia secara relatif masih baru  dan sedang menguji kegiatan mengintegrasikan pembinaan dan pengembangan warisan  budaya nasional di satu sisi, dan pemanfaatannya bagi kepentingan dan  pengembangan kepariwisataan di sisi lain.</span></p>
<p class="no"><span>2.<span> </span>Pengalaman menunjukkan adanya berbagai tahap  pengembangan, mulai dari yang paling sederhana (alamiah) sampai pada tahap  integratif-koordinatif dewasa ini seperti yang sedang diterapkan pada  pengelolaan Banten Lama.</span></p>
<p class="no"><span>3.<span> </span>Kawasan Banten Lama memiliki potensi dan  asset yang tertanam, baik dalam mewujud hasil penelitian/pemugaran maupun  hasil-hasil pembangunan sektor lainnya.</span></p>
<p class="no"><span>4. <span> </span>Potensi tersebut, setidaknya sampai akhir  1988, belum dimanfaatkan secara optimum, padahal disadari memiliki kemungkinan  dan kelayakan tinggi.</span></p>
<p class="no"><span>5. <span> </span>Model pendekatan yang ditetapkan dalam  menangani/mengelola potensi kultural di Banten Lama, masih terbuka untuk  pengujian.</span></p>
<p class="no"><span>6. <span> </span>Animo dan antusiasme dari kalangan yang  begitu luas, setidaknya menggambarkan bahwa model pendekatan tersebut dapat  diprediksikan menekan secara maksimal pengeluaran uang dari  pemerintah.</span></p>
<p class="no"><span>7.<span> </span>Penekanan secara maksimal itu dimungkinkan  oleh keterlibatan banyak pihak, sejak tahap perancangan, pelaksanaan dan operasi  pemanfaatannya, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang  berlaku.</span></p>
<p class="no"><span>8.<span> </span>Pengembangan arkeologi (dan kesejarahan)  merupakan komponen utama dalam keseluruhan sasaran poyek.</span></p>
<p class="no"><span>9. <span> </span>Selanjutnya perlu diantisipasi suatu pola  pengembangan prasarana/ sarana, yang didasarkan pada asumsi bahwa para wisatawan  baik nusantara maupun mancanegara itu berasal dari kalangan-kalangan berbeda  (atas, menengah dan bawah). Hal tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap  tipologi prasarana/sarana wisata, termasuk hotel, restaurant dan sarana rekreasi  serta hiburan lainnya. Penyediaan secara pukul rata hanya akan berekor dengan  complain yang tak habis-habisnya.</span></p>
<p class="no"><span>10. Agaknya perlu diuji kembali sejauh manakah  selama ini dalam pengembangan wisata pantai, telah berlangsung semangat kerja  yang dilandasi oleh kooordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplifikasi.  Sehingga setiap komponen pengembangan baru memang secara langsung diintegrasikan  terhadap komponen-komponen lama yang telah ada maupun yang akan  datang.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="nomor"><span>DAFTAR  PUSTAKA</span></p>
<p class="nomor"><span>Ambary, Hasan  Muarif,</span></p>
<p class="pus-2"><span>1980,  &#8220;Tinjauan tentang Penelitian Perkotaan<span> </span>Banten Lama&#8221;, Pertemuan Ilmiah ArkeoIogi I I -1977, Jakarta. Depdikbud,  443-469.</span></p>
<p class="pus-2"><span>1982, &#8220;Prospek  Penelitian Arkeologi Islam&#8221;,<span> </span>Arkeologi  1978, Jakarta:  Depdikbud, 75-82.</span></p>
<p class="nomor"><span><span> </span>&#8212;&#8211;, Halwany Michrob &amp; John N.  Miksic,</span></p>
<p class="pus-2"><span>1988,  Catalogue of Sites, Monument and Artifacts of Banten, Jakarta:  Depdikbud.</span></p>
<p class="nomor"><span>Aspiras, Jose  D.,</span></p>
<p class="pus-2"><span>1973,  &#8220;Realigning Government Efforts Towards Trade Promotion and Tourism Development  for Greater Effectiveness&#8221;, The Manila Guide, Vol. VII/No. 6, Manila:Kalayan Publish. Co,  6-9.</span></p>
<p class="nomor"><span>Direktorat  Jendral Pariwisata,</span></p>
<p class="pus-2"><span>1990,  Pariwisata dan Sapta Pesona, Jakarta: Deparpostel.</span></p>
<p class="nomor"><span>Hartono,  Hari,</span></p>
<p class="pus-2"><span>1974,  &#8220;Perkembangan Pariwisata &amp; Kesempatan<span> </span>Kerja, PRISMA No.lIThn.III/Februari,<span> </span>Jakarta.  LP3ES, 45-55.</span></p>
<p class="nomor"><span>Indraningsih,  Joyce Ratna,</span></p>
<p class="pus-2"><span>1986,  &#8220;Pemukiman Prasejarah di Sepanjang Daerah Aliran Sungai Cibanten Hilir: Sebuah  Kajian Awal&#8221;, Pertemuan llmiah Arkeologi IV &#8211; 1986, Jilid II-a, Jakarta:  Depdikbud.</span></p>
<p class="nomor"><span>Michrob,  Halwany,</span></p>
<p class="pus-2"><span>1990, 464  Tahun Kabupaten Daerah Tingkat II<span> </span>Serang, Serang: Pemda Dati II Kab. Serang. </span></p>
<p class="nomor"><span>MPR RI<span> </span></span></p>
<p class="pus-2"><span><span> </span>1988, Ketetapan MPR-RI No. IIIMPR/I988 &#8221;  tentang Garis-garis Besar Haluan Negara, Jakarta: Departemen Penerangan RI.<span> </span></span></p>
<p class="nomor"><span><span> </span>Nurhadi,</span></p>
<p class="pus-2"><span><span> </span>1988, &#8220;Penelitian Arkeologi Banten: Kemarin,  Kini dan Nanti&#8221;, Rapat Evaluasi Hasil<span> </span>Penelitian<span> </span>Arkeologi  ll1-1986,<span> </span>Jakarta:  Depdikbud,1204-1219.</span></p>
<p class="nomor"><span><span> </span>Sharer, Robert, J &amp; Wendy  Ashmore,</span></p>
<p class="pus-2"><span><span> </span>1979, Fundamentals of Archeology, California: The  Benjamin/Cummings Publ.Coy.</span></p>
<p class="nomor"><span><span> </span>Soediman, R,</span></p>
<p class="pus-2"><span><span> </span>1985, &#8220;Peranan Arkeologi dalam Pembangunan  Nasional&#8221;, Pertemuan Ilmiah Arkeologi lll 1983, Jakarta:  Depdikbud,1204-1219.</span></p>
<p class="nomor"><span><span> </span>Soemarjan, Selo,</span></p>
<p class="pus-2"><span>1974,  &#8220;Pariwisata dan Kebudayaan&#8221;, PRISMA No.lITahun III/Februari, Jakarta;LP3ES,56-60.</span></p>
<p class="nomor"><span>Tjandrasasmita,  Uka,</span></p>
<p class="pus-2"><span>1982,  &#8220;Usaha-usaha Pemugaran dan Perlindungan Peninggalan<span> </span>Sejarah dan Purbakala. Permasalahan serta  Usaha Pemantapannya&#8221;, Laporan Seminar Pemugaran dan Perlindungan Peninggalan  Sejarah dan Purbakala-1981, Jakarta: Depdikbud.</span></p>
<p class="pus-2"><span>1986,  &#8220;Freliminary Concept of the Masterplan on Archeological Park of Banten&#8221;, Final Report.&#8217; Seminar on  Preservation of Historic Sites ofBanten, Jakarta. Depdikbud,49-53.</span></p>
<p class="pus-2"><span>1989, Himpunan  Peraturan Perlindungan Benda Cagar Budaya, Jakarta: Depdikbud</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="nomor">
<input id="gwProxy" type="hidden"><!--Session data--></input>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bantenheritage.org/id/pengembangan-sumberdaya-kultural-banten-dan-aplikasinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bandar Banten</title>
		<link>http://bantenheritage.org/id/bandar-banten/</link>
		<comments>http://bantenheritage.org/id/bandar-banten/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 06:01:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wahyu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arkeologi, Sejarah & Etnografi]]></category>
		<category><![CDATA[bandar banten]]></category>
		<category><![CDATA[Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Hasan Muarif Ambary]]></category>
		<category><![CDATA[Jejak Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[kajian arkeologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bantenheritage.org/id/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[BANDAR  BANTEN:Penduduk dan  Golongan Masyarakatnya

&#8221; Kajian Historis  dan Arkeologis serta Prospek Masyarakat Banten ke Masa Depan &#8220; &#8216;
Hasan Muarif Ambary  dan Halwany Michrob
(Pusat Penelitian Arkeologi  Nasional)
 
I. Pengantar
Bandar Banten  sebagai salah satu bandar internasional abad 16-19 M, terletak di ujung barat  bagian utara Pulau Jawa. Bukti-bukti sejarah dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="nomor" style="text-align: center;" align="center"><strong><span style="color: #993300; font-size: 16pt;">BANDAR  BANTEN:</span></strong><strong><span style="color: #993300;">Penduduk dan  Golongan Masyarakatnya</span></strong></p>
<p class="nomor" style="text-align: center;" align="center"><strong><span style="color: #993300;"></span></strong></p>
<p class="nomor" style="text-align: center;" align="center"><strong><span style="color: #993300;">&#8221; Kajian Historis  dan Arkeologis serta Prospek Masyarakat Banten ke Masa Depan &#8220;</span></strong><span style="color: #993300;"> &#8216;</span></p>
<p class="nomor" style="text-align: center;" align="center"><span style="color: navy;">Hasan Muarif Ambary  dan Halwany Michrob</span></p>
<p class="nomor" style="text-align: center;" align="center"><span>(Pusat Penelitian Arkeologi  Nasional)</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="no"><strong><span style="color: navy;">I.<span> </span>Pengantar</span></strong></p>
<p class="bt" style="text-align: left;"><span>Bandar Banten  sebagai salah satu bandar internasional abad 16-19 M, terletak di ujung barat  bagian utara Pulau Jawa. Bukti-bukti sejarah dan arkeologi yang banyak terdapat  di Situs Banten memberikan petunjuk kuat bahwa Bandar itu memegang peran cukup  besar dalam dunia perniagaan masa silam.</span></p>
<p class="bt"><span>Keletakannya yang  secara geografis terletak antara Malaka dan Gresik, menjadikannya salah satu  bandar internasional yang membawa berbagai pengaruh baik dari segi sosial,  politik, ekonomi, kebudayaan maupun agama. Kapal-kapal yang berlabuh di bandar  Banten berasal dari berbagai daerah di Indonesia, maupun dari negara asing, terutama  Cina, India, Arab, dan pada masa yang lebih  kemudian Eropa. Kapal-kapal itu tidak semata-mata membawa barang niaga dari  negara atau daerahnya masing-masing untuk diperdagangkan di situ, tetapi mereka  juga membeli komoditi yang berasal dari kerajaan Banten atau daerah lain yang  diantarpulaukan melalui bandar Banten. Dapat dipastikan Banten memiliki hubungan  dengan daerah pedalamannya sehingga berperan sebagai &#8220;pintu&#8221; bagi kerajaan  Banten dengan dunia luar.</span></p>
<p class="bt"><span>Di bandar Banten  itulah terjadi interaksi sosial sehingga memperlancar kontak budaya yang berawal  dari kegiatan ekonomi dan berkembang ke bidang-bidang sosial, politik, agama,  seni dan kebudayaan dalam arti luas.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="no"><strong><span style="color: navy;">II. <span> </span>Pokok Bahasan</span></strong></p>
<p class="bt"><span>Keberadaan Banten  dan peranan sejarahnya dalam panggung sejarah telah banyak diungkapkan dari  berbagai sumber. Penelitian arkeologi yang telah dilaksanakan di Situs Banten  sejak tahun 1968 sampai sekarang juga telah banyak memberikan informasi data  baru tentang struktur kota serta aktifitas masyarakatnya dalam kronologi  perkembangan kota dan lapisan masyarakatnya.</span></p>
<p class="bt"><span>Dari kajian  historic dan arkeologis ini kami ingin mengangkat beberapa bahasan sebagai  berikut:</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>1.<span> </span>Rekonstruksi struktur masyarakat Banten abad  16-19 M berdasarkan informasi cumber tertulis dan temuan data  arkeologis.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>2.<span> </span>Rekonstruksi kota dan masyarakat Banten dalam suatu  &#8220;out-door dan in-door&#8221; museum.</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>3.<span> </span>Prospek perkembangan kota lama Banten untuk  perkembangan di masa depan.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="no"><strong><span style="color: navy;">III. <span> </span>Rekonstruksi Struktur Masyarakat Banten abad  1619 M</span></strong></p>
<p class="bt"><span>Informasi tertua  yang memberikan deskripsi agak rinci tentang masyarakat Banten dan struktur kota  Banten diperoleh dari catatan Yans Karel, seorang anggota armada Belanda yang  datang dan berlabuh di pelabuhan Banten di bulan November tahun 1596 dibawah  pimpinan Cornellius de Houtman.</span></p>
<p class="bt"><span>Catalan yang  dibuat Yans Karel menyebutkan bahwa Kota Banten dikelilingi oleh tembok  kota. Kota  Banten cukup besar hampir sama dengan kota  Amsterdam saat  itu. Catalan Comellius de Houtman tahun 1596 memberi keterangan kepada kita  bahwa kapal-kapal asing yang bersandar di pelabuhan Banten harus dapat ijin  Syahbandar. Untuk masuk dalam kota Banten dari pelabuhan terlebih dahulu  harus melalui <em>tolhuis</em> atau tempat pungut pajak (Rouffaer dan Ijzerman  1915 : 201).</span></p>
<p class="bt"><span>Dari catatan  tahun 1600 terdapat uraian bahwa istana menghadap ke utara dan dikelilingi parit  serta rumah-rumah kecil; disebelah kanan gerbang utama terdapat rumah jaga, dan  setelah melalui pintu masuk istana terlihat ada tempat terbuka, dengan tiang dan  permadani ( Chijs 1881 : 30; Gelder 1900 : 769 Groenhof 1919 : 4; Wertheim 1956  : 147). Orang lainnya yang berkunjung ke Banten ialah Wouter Schouten (1664 ).  la telah membuat catatan deskriptif mengenai istana, mesjid, menara, dan  bangunan lainnya yang dihuni oleh para bangsawan, serta keraton yang berbenteng  ( 1676 : 138 &#8211; 40, Siswandi,1980; 9 ).</span></p>
<p class="bt"><span>Mengenai luas  kota Surosoan  mungkin dapat diperkirakan dari catatan yang ditulis Valentijn. Menurut  Valentijn, kota  Surosoan akan selesai dijelajahi dengan jalan kaki dalam waktu 2 jam ( Chijs  1881 :15 ).</span></p>
<p class="bt"><span>Orang asing  lainnya yang menulis tentang Banten ialah Stavorinus (1798 : 35 ), ketika ia  mengunjungi Banten sekitar akhir abad ke-18. Dari catatan tersebut dapat  diperoleh gambaran tentang benteng Speelwijk dan keadaan sungai waktu itu. yang  bagian muaranya sudah menjadi dangkal, sehingga kapal-kapal sukar memasuki  pelabuhan.</span></p>
<p class="bt"><span>Di pelabuhan  Banten berlabuh puluhan kapal dari berbagai kebangsaan antara lain Cina, Keling,  Pagu (sekarang Mianmar). Di kota Banten terdapat beberapa pasar dan yang  terbesar ialah pasar Karangantu. Di pasar Karangantu selain pedagang setempat  terdapat pedagang asing termasuk barang dagangan impor seperti kain sutera,  porselin (keramik) Cina, dan lain sebagainya (Roufvaer dan ljzerman 1915 :  201).</span></p>
<p class="bt"><span>Selama masa  pemerintahan Sultan Abul Mahasin Zainul Abidin di tahun 1694 telah dilakukan  pencatatan (sensus) penduduk kota: Kota Banten saat itu jumlah penduduknya  adalah 31848 dan tahun 1708 dilakukan sensus lagi, penduduk Kota Banten  berjumlah 36302 (Pergeaud 1968: 1564 &#8211; 4).</span></p>
<p class="bt"><span>Yang menarik  perhatian sampai dengan akhir abad 19, Scrrurier yang datang ke Kota Lama Banten  walaupun Kota Banten telah ditinggal penduduknya tetapi di Kota Lama Barat masih  dapat dicatat adanya 33 pemukiman penduduk Islam. la kemudian mendatanya dan  ke-33 pemukiman Islam sebagaimana peta Serrurier terlampir adalah sebagai  berikut:</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>1. <span> </span>Kepakihan<span> </span>:<span> </span>pernukiman kaum  ulama.</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>2. <span> </span>Pamarican<span> </span>:<span> </span>tempat penyimpanan  lada</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>3. <span> </span>Pabean<span> </span>:<span> </span>tempat menarik pajak</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>4. <span> </span>Kaloran<span> </span>:<span> </span>pemukiman Pangeran  Lor</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>5. <span> </span>Kawangsan<span> </span>:<span> </span>pemukiman Panoeran  Wangsa</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>6. <span> </span>Kapurban<span> </span>:<span> </span>pemllkiman Pangeran  Purba</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>7. <span> </span>Panjaringan<span> </span>:<span> </span>pemukiman tukang &#8216;aril  h)</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>8. <span> </span>Pakojan<span> </span>: <span> </span>pemukiman orang asing (Benggala, Gujarat, Habsi, Arab. dal Turki)</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>9.<span> </span>Pratok<span> </span>:<span> </span>pusat kerajinan. </span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>10.<span> </span>Pasulaman<span> </span>;<span> </span>pertukangan sulam</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>11.<span> </span>Karangantu<span> </span>:<span> </span>pemukiman orang asing (Cina, Malaya, Portugis dan Belanda)</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>12.<span> </span>Pamaranggen<span> </span>:<span> </span>pertukangan keris</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>13. Pawilahan<span> </span>:<span> </span>pertukangan bambu</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>14. Pakawatan<span> </span>:<span> </span>pertukangan jala</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>15. Karoya<span> </span>:<span> </span>pemukiman orang  pribumi</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>16. Kamandalikan<span> </span>:<span> </span>pemukiman Pangeran Mandalika</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>17. Cemara<span> </span>:<span> </span>tidak diketahui</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>18. Tambak<span> </span>:<span> </span>tidak diketahui</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>19. Kajoran<span> </span>:<span> </span>tidak diketahui</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>20. Kebalen <span> </span>:<span> </span>pemukiman orang Bali</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>21. Kasemen<span> </span>:<span> </span>pemukiman orang  pribumi</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>22. Kawiragunan <span> </span>:<span> </span>pemukiman pejabat keraton</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>23. Pajatran<span> </span>:<span> </span>pertukangan tenun</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>24. Kepandaian<span> </span>:<span> </span>pertukangan logam</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>25. Kesatrian<span> </span>:<span> </span>pemukiman tentara</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>26. Karang Kepalen<span> </span>:<span> </span>tidak diketahui</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>27. Keraton<span> </span>:<span> </span>pemukiman raja dan  keluarganya</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>28. Pasar Anyar<span> </span>:<span> </span>pasar</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>29. Pagebangan<span> </span>:<span> </span>tidak diketahui</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>30. Kebantenan<span> </span>:<span> </span>pemukiman pejabat  keraton</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>31. Langgeng Malta<span> </span>:<span> </span>tidak diketahui</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>32. Kesunyatan<span> </span>:<span> </span>tempat orang suci</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>33. Kagongan<span> </span>:<span> </span>pertukangan logam</span></p>
<p class="masuk" style="margin: 0cm 0cm 0pt 19.85pt;"><span>(Ronny Siswanndi,  1980 : 21)</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="bt"><span>Berdasarkan ke-33  pemukiman tersebut dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat) kelompok.  yaitu:</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>1.<span> </span>Pengelompokkan atas dasar ras dan suku.  terdiri dari Kcbalen (pemukiman orang Bali).  Karoya (pemukiman orang Koga dari India), dan Karangantu (pemukiman  orang asing lainnya);</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>2.<span> </span>Pengelompokkan atas dasar keagamaan, terdiri  dari Kapakihan (pemukiman kaum ulama), dan Kasunyatan (pemukiman orang  suci);</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>3.<span> </span>Pengelompokkan dasar sosial ekonomi, terdiri  dari Pamarican (tempat penyimpanan lada), Pabean (tempat menarik pajak),  Panjaringan (pemukiman nelayan), Pasulaman (tempat kerajinan sulam), Kagongan  (tempat pembuatan gong), Pamaranggen (tempat pembuatan keris), Pawilahan (tempat  kerajinan bambu), Pakawatan (tempat pembuatan jala), Pratok (tempat pembuatan  obat), Kepandean (tempat pembuatan alat-alat senjata), dan Pajatran (tempat  kerajinan tenun),</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>4.<span> </span>Pengelompokkan atas dasar status dalam  pemerintahan dan masyarakat, terdiri dari Kawangsan (tempat pemukiman Pangeran  Wangsa), Kaloran (tempat pemukiman Pangeran Lor), Kawiragunan (tempat pemukiman  Pangeran Wiraguna). Kapurban (pemukiman Pangeran Purba), Kabantenan (pemukiman  pejabat pemerintah), Kamandalikan (pemukiman Pangeran Mandalika), Keraton  (pemukiman Sultan dan keluarganya), dan Kesatrian (pemukiman tentara)  (Mundarjito; 1980, Siswandi;1980)</span></p>
<p class="bt"><span>Selain nama-nama  yang disebutkan tadi, terdapat pula sejumlah nama yang tidak diketahui  fungsinya, yaitu Kasemen, Tambak, Kajoran, Cemara, Karang Kapaten, Pasar Anyar,  Pagebangan, dan Langgeng Maita.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="nomor"><strong><span style="color: navy;">IV. Rekonstruksi Fisik dan Arsitektur Kota Lama  Banten I6-19 M</span></strong></p>
<p class="masuk"><span style="color: navy;">1  . <span> </span>Uraian Fisik dan Arsitektur Kota Lama  Banten</span></p>
<p class="masuk-1"><span>Dari  peninggalan bekas kota lama Banten khususnya yang bernilai  arsitektur dan memiliki nilai historis yang dapat menyiratkan riwayat tertentu,  baik kejayaan maupun kesuraman suatu masa dalam sejarah, kita dapat mengacu pada  pendapat H. William Saner (1984). la mengatakan bahwa reruntuhan/sisa-sisa  bangunan dalam kota Itu mungkin akan memperlihatkan suatu  kualitas khusus yang kukuh menandai masanya, atau kualitas keterampilan manusia  pembuatnya atau dalam rinciannya, biasanya berupa bentuk-bentuk yang amat langka  ditentukan pada bentuk umum.</span></p>
<p class="masuk-1"><span>Kevin Lynch  (1984: 73-74) menyatakan ada beberapa teori normatif mengenai bentuk kota-kota  kuno serta alasan-alasannya. Teori-teori normatif tersebut pada dasarnya  merupakan metafora mengenai apa sebenarnya definisi sebuah kota dan bagaimana cara bekerjanya komponen-komponen  kota  tersebut.</span></p>
<p class="masuk-1"><span>Lynch  melihat kecenderungan bahwa kota-kota pertama yang tumbuh pada mulanya berakar  dari pertumbuhan pusat-pusat seremoni atau tempat-tempat suci yang dapat  dijelaskan kaitannya terhadap kekuatan-kekuatan alam, serta mengendalikan bagi  keuntungan manusia para petani desa memberikan sumbangannya kepada kota secara sukarela.  Redistribusi kekuatan dan sumber-sumber daya material dilakukan oleh  komponen-komponen kelas penguasa/kekuasaan dari tangan yang satu ke tangan yang  lain seiring dengan pertumbuhan kota yang semula berasal dari pusat-pusat  keagamaan. Konsekuensi teori normatif yang diajukan oleh Lynch membuat kenyataan  bahwa kota  adalah: pemukiman permanen yang harus berwujud model magis dari jagatraya dan  Tuhan.</span></p>
<p class="masuk-1"><span>Dari  peninggalan Banten Lama, dapat diperoleh gambaran mengenai perkembangan  kota tersebut  sebagai obyek arsitektur yang senantiasa berubah. Perkembangan kota terutama ditinjau dari  latar belakang non fisik.</span></p>
<p class="masuk-1"><span>Obyek ini  dapat dimanfaatkan untuk mempelajari pola perkembangan kota dan unsur yang  mempengaruhinya. Semuanya itu tidak terlepas dari pengaruh &#8220;luar&#8221; terutama  kebudayaan Islam yang menjadi landasan ideologi kerajaan Banten, pada waktu  itu.</span></p>
<p class="masuk-1"><span>Apabila  dilihat dari nilai sejarah dan arkeologi, Banten Lama memiliki kedudukan sebagai  pusat kota  maupun sebagai bandar utama. Kerajaan Banten mulai berkembang sejak abad XII  hingga akhir abad XIX Masehi. Pada permulaan abad XIX Banten ditinggalkan  penduduknya karena faktor politik, yakni kerasnya sikap penguasa Belanda di  Batavia terhadap  elit dan rakyat Banten, bahkan sampai membakar habis Surusowan. Selama lebih  dari satu setengah abad Banten Lama kehilangan identitasnya dari sebuah  kota metropolitan menjadi kota yang tidak berarti.  Banten Lama kemudian berfungsi menjadi tempat peziarahan (Halwany Michrob,  1984).</span></p>
<p class="masuk-1"><span>Situs  arkeologi Banten Lama, memiliki arsitektur yang merupakan produk &#8220;tamadun&#8221;  Banten Islam. Semula kerajaan ini berpusat di Banten Girang, kemudian berpindah  ke kawasan pantai dan mengalami puncak keemasannya pada masa pemerintahan Sultan  Ageng Tirtayasa. Pada awal pendiriannya kota Banten Lama dirintis oleh Sultan  Hasanuddin dan puteranya Maulana Yusuf</span></p>
<p class="masuk-1"><span>Di dalam  mengamati fenomena arsitektur Islam pada umumnya dan di Asia Tenggara khususnya  dan lebih khusus lagi fenomena yang ada di situs Banten Lama. muncul sejumlah  kajian arkeo-arsitektural. yang dalam analisa nantinya akan diupayakan  penyelesaian permasalahannya melalui penerapan teknik pemaduan pelbagai jenis  peta, mulai yang sederhana sampai dengan yang paling  rumit.</span></p>
<p class="masuk-1"><span>Pengamatan  Banten Lama sebagi bekas kota kuno terulama dilihat dari data historic  dan hasil penelitian arkeologis, secara kronologis dapat kami perinci sebagai  berikut:</span></p>
<p class="masuk-1"><span>1. <span> </span>1527 -1570</span></p>
<p class="masuk-2"><span>Menurut  kronik-kronik masa itu tahun 1526 kota dipindahkan dari Banten Girang ke  Surosowan (13 km ke arah selatan), di masa pemerintahan Maulana Hasanuddin atas  saran ayahnya yakni Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Sultan Maulana  Yusuf (sultan yang kedua) memimpin pembangunan kota dan dinding-dinding kota Banten yang dibuat dari bata-bata dan batu  karang. Fisik kota Banten dilengkapi dengan mesjid, keraton,  lapangan, pasar, dan pelabuhan. Telaga Tasik Ardi pun dibangun oleh Maulana  Yusuf.</span></p>
<p class="masuk-1"><span>2. <span> </span>1570 -1596</span></p>
<p class="masuk-2"><span>Banten telah  dikelilingi dinding batu dan di bagian dalamnya terbagi dalam kampung-kampung.  Telah dibuat sebuah kanal untuk mengalirkan air sungai Banten ke dalam  kota. Selama  periode ini pertumbuhan kota masih terus berlanjut. Menurut Cornelis de  Houtman (tiba di Banten pada tanggal 23 Juni 1596), kota tersebut besarnya seperti kota Amsterdam.</span></p>
<p class="masuk-1"><span>3.<span> </span>1596 -1659</span></p>
<p class="masuk-2"><span>Kota Banten  tumbuh terus dan memerlukan perluasan kanal-kanal dan tembok-tembok keliling  dinding kota  Banten menghadap ke arah laut dan telah diperkuat dengan bastion-bastion serta  kubu pertahanan. Lokasi pasar Karangantu terletak (masih di luar dinding  kota) di sebelah  muara sungai Banten dan telah diberikan tembok keliling. Di sebelah barat  didirikan perkampungan bertembok yang diperuntukkan bagi orang asing.  Berdasarkan peta yang dibuat oleh Cotemunde, di sebelah barat kota terdapat penginapan orang-orang Eropa dan kompleks  orang-orang Cina; beberapa kanal dinding kota dan jalan  dipindahkan.</span></p>
<p class="masuk-1"><span>4. <span> </span>1659 -1725</span></p>
<p class="masuk-2"><span>Setelah  berjalan dua abad pertumbuhan kota Banten masih terus berlanjut. Sekarang  kanal-kanal telah ditambah, salah satunya yang tertua diantaranya digunakan  untuk perkampungan orang asing (kota baru) dan di sebelah timurnya pasar yang  juga berkembang. Perbentengan keliling sekarang telah disempurnakan. Meskipun  tidak digambarkan peta Valentijin, Belanda telah mendirikan perbentengan yang  kuat di sudut utara berhadapan dengan laut. Benteng tersebut dibangun atas  permintaan Gubernur Jendral VOC waktu itu, yakni Cornelis Speelman dan sekarang  dikenal dengan sebutan Benteng Speellwijk.</span></p>
<p class="masuk-1"><span>5. <span> </span>1725 -1759</span></p>
<p class="masuk-2"><span>Perluasan  jalan dan sistem kanal telah dibuat dengan membuat parit-parit di sekeliling  keraton Surosowan dan perbentengan Belanda. Kanal yang melintasi Jembatan Rantai  telah diluruskan ke arah timur sampai ke bagian selatan pasar Karangantu. Dari  peta Heydt terdapat gambar proses perpindahan dan perubahan rencana kota meliputi aspek dan arsitektur, kanal-kanal,  jalan-jalan, dan tembok-tembok kota. Dengan menganalisis peta-peta kuno dan  penginderaan jauh, kita dapat menelusuri perpindahan dan penafsiran kota lama Banten. Pada  tahun 1750 terjadi pemberontakan terbesar di Banten, di dalam perluasan  bangunan-bangunan Belanda, menurut sejarah tahun 1751 revolusi dapat ditindas.  Situasi ini telah memperkokoh kedudukan Kompeni Belanda dan menjadikan makin  lemahnya Banten.</span></p>
<p class="masuk-1"><span>6.<span> </span>1759 -1902</span></p>
<p class="masuk-2"><span>Setelah  kunjungan Stavorinus hingga 1787, tidak dapat sumber-sumber lain mencatat  perkembangan kota ini. Menurut Breughel, yang menulis  catatan tentang banten tahun 1787, terdapat beberapa gudang dan penjara juga  sebuah pendopo dengan sebuah platform setinggi 10 &#8211; 12 kaki memenuhi permukaan  alun-alun. Bagian-bagian pemukiman penduduk asli kota itu tampak tidak terlalu banyak berubah,  hanya beberapa rumah yang beratap genteng pada masa itu. Pada tahun 1795 cacah  jiwa distrik Banten diperkirakan sebanyak 90.000, di luar cacah jiwa di seluruh  Jawa yaitu 3,5 juta jiwa. Di sana masih terdapat kampung Arab yang terletak  diantara keraton Surosowan dan Karangantu, tetapi dikatakan pada waktu itu bahwa  4/5 rumah-rumah Cina sudah kosong (tidak dihuni). Kekuatan ekonomi Batavia terlalu kuat dan  Banten menurut statusnya menjadi pemukiman propinsi (daerah).  Peristiwa-peristiwa politik dan militer, perang Napoleon, pendudukan oleh  Inggris, serta kembalinya pendudukan oleh Belanda, menyebabkan pemukiman Banten  perlahan-lahan menurun dan kedudukannya menjadi desa. Banten kemudian terbakar  pada tahun 1808-1809. Sesudah tahun Itu berita tentang kota Banten hanya tercatat  bahwa Kaibon sebagai keraton didirikan tahun 1815 untuk Ibu Sultan  Rafiudin.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="masuk"><span style="color: navy;">2. <span> </span>Kota Banten lama sebagai `open  museum&#8217;</span></p>
<p class="masuk-1"><span>Banten Lama  juga memiliki beberapa ciri yang secara umum ditemukan pula pada kota-kota Islam  yang sejaman di bagian-bagian lain di dunia. Sebagian besar pusat-pusat kegiatan  yang terkemuka, sebagaimana kota Islam di Indonesia maupun Afrika, dan juga  negara-negara Arab, memiliki istana, pasar-pasar dan mesjid-mesjid. Pemukiman  dibagi menurut pekerjaan dan etnik, sebagaimana halnya kota-kota pada abad  pertengahan tahun akhir di kota-kota Islam di dunia. Bahkan kota Banten sebagai kota muslim terbesar di Indonesia, tidak hanya  pada masanya, tetapi mungkin dalam seluruh sejarahnya telah menjadi ciri umum  pada kota-kota berciri Islam pada akhir abad 16 M.</span></p>
<p class="masuk-1"><span>Jika muncul  kota-kota di Jawa itu berkoinsidensi dengan penyebaran Islam, dan unsur-unsur  komponen kota-kota menjadi umum pada banyak kota dalam dunia Islam, seseorang  mungkin dapat meramalkan pahwa pola-pola pemukiman di dalam kota-kota di Jawa  tentunya merupakan tiruan dari bentuk baku kota-kota Islam. Bagaimanapun  informasi sejarah menunjukkan bahwa asumsi ini tidaklah benar. Distribusi fisik  dari tempat-tempat umum dan perseorangan di Banten Lama dan juga di manapun,  bentuk fisik kota melanjutkan tata letak tradisional  sebagaimana halnya kompleks-kompleks orang Jawa pada masa sebelum Islam. Jawa  dapat dikatakan telah memiliki pola sendiri di dalam urbanisasi, dengan beberapa  unsur yang serupa dengan kota-kota yang sejaman pada bagian-bagian lain di Asia  Tenggara. Kita memperoleh gambaran bahwa kota-kota tersusun dari  kegiatan-kegiatan individu-individu dan Jika kita menyimpulkan bahwa pengenalan  Islam bukanlah merupakan hasil satu perubahan yang revolusioner di dalam tata  hidup orang Jawa, tetapi hanyalah proses evolusi secara  bertahap.</span></p>
<p class="masuk-1"><span>Sumber-sumber sejarah tidak  memungkinkan bagi kita untuk merekonstruksikan tingkat-tingkat ini di dalam  setiap rincian. Begitu penelitian arkeologi diselenggarakan, bagaimanapun, kita  lebih banyak memperoleh informasi mengenai hubungan-hubungan antara  perubahan-perubahan aspek-aspek budaya yang lainnya. Ketika pada tahun 1596  terinci pemukiman dan kehidupan penduduknya, kota tersebut telah mengalami berbagai  perubahan. Gambaran pertama yang kita lihat pada penduduk yang telah diresapi  agama Islam, tetapi alam kota di mana mereka tinggal, masih menunjukkan gejala  yang berasal dari masa yang lebih tua, dan mungkin lebih merupakan setting suatu  pedalamaan agraris yang sangat berbeda daripada sebagai pusat komersil yang  sibuk di tepi jalur pelayaran ke beberapa negara. Apa yang kita lihat sekarang  merupakan antiklimaks dari apa yang telah kita peroleh dari gambaran seperti  yang disebutkan di alas.</span></p>
<p class="masuk-1"><span>Banten kini  tidak lebih dari sisa sebuah runtuhan. Hanya sistem kanal, tembok-tembok  keraton, keraton Kaibon, Speelwijk serta beberapa sarana pelabuhan miskin yang  masih ada.</span></p>
<p class="masuk-1"><span>Banten  dipugar dari tahun 1915 sampai 1930 oleh pemerintah Belanda, tetapi tidak  mencatat setiap peralihan secara kronologis, khususnya kanal-kanal dan  tembok-tembok kota. Restorasi dan pemeliharaan Banten Lama dilanjutkan oleh  pemerintah Indonesia dari tahun 1945 sampai  sekarang. Masalah utama ialah bahwa beberapa runtuhan dan situs rusak  berhamburan. Sejak Pelita II upaya pelestarian terhadap situs Banten telah mulai  digarap secara sistematis dan berkesinambungan. Penelitian arkeologi sudah mulai  dilaksanakan tahun 1976 dan pemugaran kota Banten Lama sudah dimulai sejak tahun  1978. Hasilnya kini sudah mulai nampak misalnya dari hasil penelitian berbagai  publikasi hasil penelitian telah diterbitkan dan artefaknya telah terkumpul dan  terklasifikasi. Ciri-ciri kota Banten sebagai  kota  metropolitan yang informasinya diperoleh dari sumber sejarah telah didukung pula  oleh hasil penelitian arkeologi. Hasil penelitian tersebut antara lain dengan  ditemukannya situs industri logam serta industri gerabah, temuan barang  perdagangan dan sebagainya. Berbagai temuan artefak berupa barang impor seperti  keramik asing yang berasal dari berbagai negara dan ditemukan hampir di setiap  jengkal tanah di situs Banten ini menunjukkan bahwa Banten memang pernah menjadi  bandar yang cukup besar. Pemugaran sisa bangunan kota seperti keraton Surosowan,  Kaibon, jembatan Rante, benteng Spelwijk, menara Pacinan lama dan bangunan  lainnya telah berhasil memberi citra kehadiran reruntuhan bangunan itu sebagai  saksi sejarah eksistensi kota lama Banten. Dari hasil penelitian dan pemugaran  tersebut ada satu cara menyelesaikannya ialah merancang kota lama Banten dengan  mengembangkannya sebagai `taman purbakala&#8217;.</span></p>
<p class="masuk-1"><span>Satu  masterplan (rencana induk) taman arkeologi Banten telah dibuat dan situs ini  telah dilakukan pemugaran secar sistematis dan terencana. Rencana ini dapat  membantu mengidentifikasi area-area yang harus dipelihara secara terbuka. Situs  ini, secara umum masih terpelihara, dan beberapa dari sisa-sisa fondasi  bangunan, masih terpendam dalam tanah. Untuk ekskavasi berjangka panjang, dan  beberapa area yang memiliki desa-desa khusus dapat dihuni terus (dengan ijin  dari Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan  Purbakala).</span></p>
<p class="masuk-1"><span>Menurut peta  geologi, situs ini berketinggian sekitar 0-25 meter di atas muka laut, dengan  kemiringan 2 %. Dari daerah lain yaitu Banten Girang ke arah selatan terdapat  daerah perbukitan yang berketinggian antara 25-100 meter di atas muka laut.  Curahan hujannya tinggi setiap tahun sekitar 1840 mm, dan temperaturnya sekitar  26-27 °C, dengan kelembaban sekitar 70%. Permukaan tanah daerah Banten Lama dan  Tirtayasa (kira-kira 15 km ke arah timur) semakin rata, keduanya adalah zona  alluvial (beting pantai, daerah luapan banjir, dan sekitar aliran sungai).  Seringkali terjadi banjir besar setelah hujan yang sangat deras. Jenis lempung  Banten Lama seperti alluvial, hidromorf dan gleihumus. Proses pengubahan oleh  air sungai berasal dari sedimentasi lempungan, sungai dangkal kurang 0,5 meter  dalamnya, begitu pula air muka tanah begitu dangkal yaitu pada kedalaman sekitar  0,5-3 meter, dan sungai berair sepanjang tahun. Hal ini membuat lumpur dari hulu  yang terbawa sepanjang aliran sungai setelah turun hujan lebat, akan membentuk  tanah baru sepanjang tepi laut (disebabkan oleh pengendapan alami). Kenyataan  ini menjadi masalah bagi kita ialah: bagaimana menggali situasi di sekeliling  kotam ikan.</span></p>
<p class="masuk-1"><span>Dari apa  yang telah kita uraikan ini jelaslah sudah kota Banten Lama dengan peninggalan  sejarahnya kini merupakan sebuah `museum terbuka&#8217; atau `open museum&#8217;. Dalam  museum besar ini terefleksikan sebuah `bayangan masa silam kota dan masyarakat  Banten&#8217; sedangkan beberapa artefak dari hasil penelitian dan pemugaran yang  tersimpan di museum situs Banten merupakan `gambaran&#8217; ciri kehidupan masyarakat  kota Banten di masa lampau.</span></p>
<p class="masuk-1"><span>Berbondong-bondongnya para peziarah  yang datang dan berkunjung ke Banten untuk berziarah ke makam Sultan Banten dan  para ulama Banten yang jumlah peziarahnya itu mencapai lebih dari 1 juta orang  setiap tahunnya menunjukkan bahwa Sultan Banten dan para ulama Banten telah  berhasil mengislamkan daerah Banten dan Nusantara. Karenanya mereka dengan  berziarah itu ingin menunjukkan rasa hormat mereka kepada para sultan dan  ulamanya. Ini juga suatu fenomena dari suatu `life museum&#8217; atau `museum hidup&#8217;  berupa para peziarah dan obyek peziarahan.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="no"><strong><span style="color: navy;">V. <span> </span>Prospek Perkembangan Kota Lama Banten untuk  Perkembangan di Masa Depan</span></strong></p>
<p class="bt"><span>Penelitian,  preservasi, konservasi dan restorasi peninggalan sejarah dan purbakala di Situs  Banten Lama, merupakan investasi yang menyerap tenaga, waktu dan dana serta  kepakaran yang tidak kecil. Corak khusus, nilai serta posisinya dalam alur  sejarah lokal maupun nasional, menyebabkan Situs Banten Lama (BL) dikunjungi  oleh berbagai kalangan dengan frekuensi yang cukup tinggi.</span></p>
<p class="bt"><span>Sementara itu  pula, masih harus dikeluarkan dana-dana bagi penelitian, pemeliharaan,  pengamanan, perlindungan dan pemugaran. Sungguh disadari bahwa setiap mobilisasi  dan realisasi dana, sebaliknya, harus menghasilkan nilai tambah dan kemanfaatan  seluas-luasnya, baik bagi segi ilmiah maupun praktis. Suatu prows panjang telah  dilalui oleh masyarakat dan budaya Banten Lama, sejak kawasan ini tumbuh dan  berkembang menjadi pusat &#8216;tamaddun&#8217; berciri Islami pada masanya, sampai kemudian  lenyap dari panggung sejarah, menjadi puing-puing dan tradisi yang kurang  diperhitungkan.</span></p>
<p class="bt"><span>Anggapan-anggapan  dasar itulah, yang kemudian menjadi pendorong kuat untuk berupaya secara  maksimal, agar situs BL, yang memiliki potensi sumber daya kultural, berdampak  meningkatkan sektor ekonomi bagi penduduk/masyarakat daerah maupun nasional.  Tentunya pula, harus dihindari dengan sungguh-sungguh dampak negatif yang dapat  mencemari nilai dan tradisi masyarakat Banten yang sangat  religius.</span></p>
<p class="bt"><span>Dalam kerangka  pemikiran itulah maka pemerintah daerah dan masyarakat Dati II Kabupaten Serang  dan Banten Lama bertekad sepenuhnya untuk berupaya secara maksimum/ optimum agar  sumber daya kultural BL yang amat potensial itu, dapat dikembangkan menjadi  kegiatan ekonomi yang handal, memiliki kemanfaatan nasional dan mambantu  peningkatan kualitas budaya nilai/ tradisi baik dalam cakupan daerah maupun  nasional.</span></p>
<p class="bt"><span>Pengkaitan  program pengembangan situs BL terhadap pembinaan dan pengembangan  potensi-potensi kepariwisataan nasional, secara lebih teknis lagi, memiliki  sejumlah manfaat dan pemenuhan beberapa sektor kebutuhan hidup,  yakni:</span></p>
<p class="no"><span>1.<span> </span>Memperluas kesempatan berusaha, misalnya  dalam bidang perhotelan, makanan dan minuman (food and beverages) atau rumah  makan (restaurant), biro perjalanan, pramuwisata, pengembangan prasarana/ sarana  rekreasi art shop/pusat perbelanjaan, pendorong penghidupan kelompok-kelompok  kesenian dan sebagainya;</span></p>
<p class="no"><span>2.<span> </span>Memperluas lapangan kerja, yakni terserapnya  angkatan/tenaga kerja antara lain ke dalam bidang-bidang usaha tersebut di  atas;</span></p>
<p class="no"><span>3.<span> </span>Meningkatkan pendapatan masyarakat dan  pemerintah, khususnya pada masyarakat dan pemerintah setempat, baik melalui  pendapatan langsung (pajak-pajak/ restribusi dll) maupun yang tak  langsung;</span></p>
<p class="no"><span>4.<span> </span>Mendorong pelestarian dan pengembangan  budaya dan peninggalan sejarah dengan perkataan lain meningkatkan kualitas hidup  budaya daerah/ nasional;</span></p>
<p class="no"><span>5.<span> </span>Mendorong terpeliharanya lingkungan hidup,  yaitu termasuk kedalamnya usaha-usaha pembuatan taman-taman, penghijauan,  restrukturisasi tata ruang dan sebagainya, sebagai tindak lanjut untuk menambah  daya tarik obyek-obyek wisata;</span></p>
<p class="no"><span>6.<span> </span>Mendorong pertumbuhan dan peningkatan  pembangunan sektor-sektor lainnya sebagai konsekuensi logis untuk memberikan  kemudahan dan kenyamanan bagi para wisatawan serta komunitas di sekitar  obyek-obyek wisata;</span></p>
<p class="no"><span>7.<span> </span>Memperluas wawasan Nusantara, memperkokoh  persatuan dan kesatuan bangsa serta menumbuhkan rasa cinta tanah air,  penghargaan dan saling pengertian regional maupun  internasional;</span></p>
<p class="no"><span>8.<span> </span>Pada akhirnya obyek-obyek wisata (termasuk  obyek wisata budaya) terdorong untuk dapat membiayai dirinya sendiri, baik bagi  kepentingan pengamanan, pemeliharaan, konservasi maupun  restorasi;</span></p>
<p class="no"><span>9.<span> </span>dan sebagainya.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="bt"><span>Saling pengaruh  dan keterkaitan antara pembinaan dan pengembangan potensi kesejarahan dan  kepurbakalaan di satu sisi, serta pembinaan dan pengembangan kepariwisataan pada  sisi yang lain, telah terbukti memberikan nilai tambah, baik secara lokal maupun  nasional, seperti telah diperlihatkan melalui pengelolaan terpadu di beberapa  negara lain. Nilai tambah tersebut, baik berupa devisa yang semakin meningkat,  maupun dalam sektor-sektor kehidupan di sekitar obyek-obyek wisata yang  dikelola.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="no"><strong><span style="color: navy;">VI. Penutup dan Kesimpulan</span></strong></p>
<p class="bt"><span>Berdasarkan itu,  maka perlu disusun rencana program kegiatan dengan urutan prioritasnya,  yakni;</span></p>
<p class="no"><span>a.<span> </span>Penataan kembali dan pemanfaatan bangunan  sejarah dan purbakala serta prasarana/sarana penunjangnya, antara lain dengan  membenahi dan mengatur kembali perparkiran, kios-loos, sarana sanitasi, pasar  dan pembuatan gerbang masuk utama (the main tollgate) dll. Dalam peta rencana,  kawasan ini diplot dengan warna merah,</span></p>
<p class="no"><span>b.<span> </span>Menata kembali dan membangun lingkungan,  memperluas prasarana/sarana pendukung seperti; lapangan parkir, tempat istirahat  para wisatawan/ peziarah, pembangunan art/handicraft/information centres,  perluasan sarana sanitasi / urinior, dll, yang diarahkan pula bagi pengembangan  pelabuhan Karangantu dan Pabean untuk dioptimasikan sebagai kelengkapan sarana  pendukung. Kawasan tahapan ini diplot dengan warna kuning,</span></p>
<p class="no"><span>c.<span> </span>Membangun, mengembangkan dan memanfaatkan  waduk Tasik Ardi menjadi pusat rekreasi air maupun kegunaan praktis sebagai  pemasok, pengatur air bersih/ irigasi, kawasan tahap program ini diplot warna  hijau, tetapi realisasinya simultan dengan kawasan merah,</span></p>
<p class="no"><span>d.<span> </span>Pengembangan berikutnya mencakup: (d.1)  pengurugan dan pemanfaatan empang pantai menjadi taman atau kawasan hijau; (d.2)  pembangunan kawasan rekreasi balita/anak-anak dengan sarana yang sesuai; (d.3)  perluasan pembangunan restaurant, kios, sarana baru yang lebih memadai; (d.4)  penataan pantai bagi penyediaan sarana olah raga kelautan (surving, diving,  shipping, dll); atau bagi kepentingan ilmiah (under-water archeology); (d.5)  pembangunan pusat studi kelautan bekerjasama dengan instansi terkait; dan (d.6)  pembangunan prasarana/sarana umum lebih lanjut (advanced program). Kawasan ini  diplot warna biru.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="bt"><span>Rencana program  dan pemanfaatan potensi kultural Banten Lama, mengacu pada pendayagunaan potensi  kesejarahan serta kepurbakalaan. Karma itu dan bagaimanapun, pengembangan  program arkeologi merupakan komponen pengembangan yang utama dan pertama, yang  didukung oleh komponen-komponen pengembangan yang lain;</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>1,<span> </span>komponen pengembangan lingkungan dan  restrukturisasi tataguna lahan/ruang;</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>2.<span> </span>komponen pengembangan, masyarakat, tradisi  dan budaya di Banten Lama;</span></p>
<p class="masuk" style="text-indent: -19.85pt; margin-left: 39.7pt;"><span>3.<span> </span>komponen pengembangan museum situs; yang  secara keseluruhan merupakan komponen pengembangan yang dioperasikan secara  terkoordinasi, terpadu, berdaya dan berhasil guna.</span></p>
<p class="bt"><span> </span></p>
<p class="nomor"><strong><span style="color: navy;">Kesimpulan</span></strong></p>
<p class="no"><span>1.<span> </span>Kawasan BL memiliki potensi dan asset yang  ternama, baik dalam wujud hasil penelitian/pemugaran maupun hasil-hasil  pembangunan sektor lainnya;</span></p>
<p class="no"><span>2.<span> </span>Potensi tersebut, setidaknya sampai pada  tahun 1988, belum dimanfaatkan secara optimum, padahal disadari memiliki  kemungkinan dan kelaikan yang tinggi-,</span></p>
<p class="no"><span>3.<span> </span>Model pendekatan yang diterapkan dalam  menangani/ mengelola potensi kultural di BL masih terbuka untuk  pengujian;</span></p>
<p class="no"><span>4.<span> </span>Animo dan antusiasme dari kalangan yang  begitu luas, setidaknya menggambarkan bahwa model pendekatan tersebut, dapat  diprediksikan menekan secara maksimal pengeluaran dana dari  pemerintah;</span></p>
<p class="no"><span>5.<span> </span>Penekanan secara maksimal itu, dimungkinkan  oleh keterlibatan banyak pihak, sejak tahap perencanaan, perancangan,  pelaksanaan dan operasionalisasi pemanfaatannya, sesuai dengan peraturan  perundang-undangan yang berlaku;</span></p>
<p class="no"><span>6.<span> </span>Pengembangan arkeologi (dan kesejarahan)  merupakan komponen utama dalam keseluruhan sasaran proyek.</span></p>
<input id="gwProxy" type="hidden"><!--Session data--></input>
<input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bantenheritage.org/id/bandar-banten/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Study of Hasan Mustafa’s Fatwa: ‘It is a duty Incumbent upon the Indonesian Muslims to be Loyal to the Dutch East Indies Government’</title>
		<link>http://bantenheritage.org/id/a-study-of-hasan-mustafa%e2%80%99s-fatwa-%e2%80%98it-is-a-duty-incumbent-upon-the-indonesian-muslims-to-be-loyal-to-the-dutch-east-indies-government%e2%80%99/</link>
		<comments>http://bantenheritage.org/id/a-study-of-hasan-mustafa%e2%80%99s-fatwa-%e2%80%98it-is-a-duty-incumbent-upon-the-indonesian-muslims-to-be-loyal-to-the-dutch-east-indies-government%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2009 13:15:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anis Faisal Reza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arkeologi, Sejarah & Etnografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bantenheritage.org/id/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Oleh  : Mufti Ali, Ph.D


As a Muslim scholar adapted to the system of colonial administration and a judge, a Penghulu, often faced a dilemma. On the one hand, he had to act professionally and, on the other, he was urged to satisfy the political interest of his ‘employer.&#8217; Professionally speaking, the duty of a Penghulu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Oleh  : Mufti Ali, Ph.D</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<blockquote style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">As a Muslim scholar adapted to the system of colonial administration and a judge, a Penghulu, often faced a dilemma. On the one hand, he had to act professionally and, on the other, he was urged to satisfy the political interest of his ‘employer.&#8217; Professionally speaking, the duty of a Penghulu was that of a qadi who had to determine facts and pass the judgement as well as that of a mufti who had to give ‘legal&#8217; advice in accordance with the interest of the people, corresponding to the sense of justice in the Muslim community. In his position within the colonial administration, the Penghulu may have been compelled sometimes to give legal advice against the interest of the people. When he became the Chief Penghulu in Aceh, Hasan Mustafa compiled a treatise of questions and answers in which he dealt with among others, the duty of Acehnese people, who were waging war against the Dutch East Indies soldiers, to be loyal to the Dutch East Indies Government.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">
This paper will try to clarify the context of this view. Contextually speaking, it seems that this view is a reflection of his participation in the effort to end the Acehnese war, so one tends to judge him as a loyal rather than a professional Penghulu. That assumption can also be based on his correspondence and relation with Snouck Hurgronje to whom Mustafa gave information about the socio-political situation in Aceh. Thus, there might be, at least, two factors which urged him to issue such a fatwa; one was his being Penghulu, within the system of the Colonial administration, and the other was his being a friend, if not to say ‘informant,&#8217; of the great Dutch Islamicist Snouck Hurgronje. This paper will try to prove the assumption that these two factors urged him to issue the fatwa rather than a certain method of legal reasoning.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasan Mustafa&#8217;s fatwa is not the only fatwa which dealt with the relationship between European colonial powers and the Muslims who were colonized. In fact, there were many discussions about this issue which are reflected in a number of legal opinions of Muslim scholars. Being eager to get deeper into this topic, the position of Hasan Mustafa&#8217;s fatwa will be placed within the context of classical and contemporary views of Muslim scholars.</p>
<p style="text-align: justify;">This paper will try to answer: (1) what was the historical background of this fatwa?, (2) what were the internal factors, apart from the Acehnese war as external factor, which urged the Mufti to issue this kind of fatwa?</p>
<p style="text-align: justify;">Apart from the introduction and the conclusion, the present paper consists of three parts. The first part which discusses the Mufti and his fatwa will be divided into three sections. The first section contains a biographical sketch of Haji Hasan Mustafa, the second section contains an analysis of Haji Hasan Mustafa&#8217;s unpublished manuscript, Kashf al-Sara&#8217;ir fi Haqiqat Atjeh wa Fidr (Revealing the Secrets about the Reality of Aceh and Pidir) in which the fatwa under discussion is found, and the third section contains a translation and discussion of the fatwa. The second part which concerns the historical background of this fatwa will be divided into four sections. The first section contains a brief description of the Aceh war; the second contains a brief description of the establishment of a civil government, the third one contains an outline of Snouck Hurgronje&#8217;s role in ending the Aceh war, while the fourth section describes the position of Hasan Mustafa between Penghulu and Snouck&#8217;s informant. The third part of this paper contains a brief analysis of a number of legal views of some Muslim scholars of the similar issues and a comparison of Hasan Mustafa&#8217;s view with them. Finally, after the conclusion, a general bibliography of the materials which were used in this work will be provided.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>The Mufti and His Fatwa &#8211; A Biographical Sketch of Hasi Hasan Mustafa</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mustafa was born on 14th of Sha&#8217;ban 1268/the 3rd of June 1852 in Garut; a region in the eastern part of the Priangan region West Java. His full name is Hasan Mustafa. It is reported that the name Hasan was given by his father and the name Mustafa was given by his grandfather. His father was Sastramanggala and his mother was Nyi Mas Salpah.<br />
Mustafa&#8217;s father was a camat, a traditional official in the Cikajang district. He was the son of the regent of Parakanmuncang, Tumenggung Wiratanubaya. His ascendant was the famous Pajajaran prince, Prabu Kian Santang. After performing the hajj, Mustafa&#8217;s father changed is name to Uthman.</p>
<p style="text-align: justify;">His mother was the daughter of Dalem Sunan Pager Jaya of Suci, Garut. She had a very pious Muslim ancestry who devoted themselves to the propagation of Islamic teachings to the Sundanese people when their belief was still paganism.</p>
<p style="text-align: justify;">According to Holle (1829-1896), a Dutch government advisor who had a good relationship with Mustafa&#8217;s father, Mustafa was an intelligent and an attractive boy. Many people were impressed by his intelligence. Understandably, his father was given suggestion by a Dutch scholar to send Mustafa to a Dutch school. His father, however, insisted on his eight year old son to perform the hajj. After having been in Mecca for two years, he returned home to Garut and continued his basic education under the supervision of several religious teachers. He studied basic sciences as a prerequisite for further education such as fiqh, tawhid, hadith, Qur&#8217;an and Arabic. Having mastered the basic education, he continued his education at a higher level as a santri wandering from one Pesantren to another. He learned nawh, sarf, usul al-fiqh, fiqh, balagha, tafsir, mantiq, tasawwuf and tawhid under the supervision of various kyais. It was reported that among his kyais were Kyai Khalil of Bangkalan, Raden Haji Yahya of Garut, and Abdul Qahhar who belonged to the Shafi&#8217;ite in fiqh and to the Ash&#8217;arite doctrine in theology. Through those kyais, Mustafa was introduced to a discourse which is usually termed as the orthodox Islamic doctrines or the doctrinesof Ahl al-Sunna wa ‘l-Jama&#8217;a. In 1869 he was married to Nyi Mas Liut and went back to Mecca again. He studied there for about 4 years under the supervision of a number of shaykhs.</p>
<p style="text-align: justify;">First was Shaykh Muhammad. He was a very popular Alim and was surrounded by a dozen disciples from the Archipelago. He was an expert in almost every subject of the Islamic sciences. His greatest expertise, however, was in tafsir. Mustafa studied tafsir, nahw, and sarf with him for  more than eight years. Mustafa&#8217;s second teacher was Shaykh Abdul Hamid al-Daghestani. He was an expert in fiqh. He was popular and had a good reputation, not only among his Arab disciples but also among the Turks, the Yemenis, and the Javanese respectively. Al-Daghestani&#8217;s favourite book was the Tuhfa of al-Haitami and he wrote a hashiya (explanatory marginal notes) on it.</p>
<p style="text-align: justify;">Shaykh Abdullah al-Zawawi (1849-1924) was another favourite teacher of Mustafa. He was a pious man. At the age of twenty, Zawawi was appointed as a professor at the Haram. He was very famous among the Javanese students. According to Snouck&#8217;s description, Mustafa was one of the leading students. When he was approaching his thirties, he gave important lectures in his apartment and in the Haram. He also wrote an important book which dealt with Arabic poetry and it was published in Cairo. Unfortunately, there seems to be little known about it.<br />
Whether Snouck met Mustafa in this period is open to question. According to Snouck&#8217;s statement to the governor in his recommendation of Mustafa&#8217;s candidacy as a Penghulu in Aceh, when he resided in Mecca in 1885 to study the Jawa Hajj colony, he met Mustafa. This fact is confirmed by Van Koningsveld. According to him, Snouck met for the first time with Hasan Mustafa in Mecca in 1884. Jahroni, however, refuted this idea by referring to Mustafa&#8217;s Gendingan. He remarked that Mustafa did not say anything about this meeting.	According to him, Snouck&#8217;s statement to the governor that he had met Mustafa could be seen as a kind of legitimating that he really knew his candidate, since there was a discrepancy between Snouck&#8217;s residence in Mecca in 1885 and Mustafa&#8217;s return to his hometown around 1882. In my opinion, Van Koningsveld&#8217;s notion that Snouck Hurgronje met Hasan Mustafa in 1884 in Mecca is right, because Hasan Mustafa in his letter sent to Snouck Hurgronje datect October 14, 1913 explained himself about that meeting. In that letter, he described that he with Snouck have agreed to make a plan to make a journey in Indonesia. And then they met again in July, 1889.</p>
<p style="text-align: justify;">Having resided in Mecca for about 12 years, Mustafa returned to his hometown in 1882. He taught various Islamic subjects in the Mosque of Garut. In 1887, he participated in Snouck&#8217;s journey. After completing that journey, he went back to Garut and resumed his teaching.</p>
<p style="text-align: justify;">In 1892 he was appointed Chief-Penghulu of Kutaraja (Aceh) at the recommendation of Snouck. His new status as a Penghulu involved him in the Dutch colonial government. He had become now the official who was responsible for Islamic religious matters and, at the same time, he served as one of Snouck&#8217;s informants.<br />
In fact, as Van Koningsveld asserted, initially Mustafa had been steadfast in refusing any official position offered to him, including that of Penghulu in Kutaraja. After some encouregement by Snouck, he finally decided to accept it. Referring to Mustafa&#8217;s Gendingan, Jahroni adds to Koningsveld&#8217;s assertion that Mustafa&#8217;s decision was because he was determined to maintain his good relationship with Snouck. His salary, according to Van Koningsveld, was not bigger than that of a tradition scribe (juru tulis).</p>
<p style="text-align: justify;">According to Jahroni, Mustafa arrived in Aceh to take up his new job as the hoofd Penghulu of Kutaraja on February 22, 1893. His besluit was dated January 13, 1893, no. 23. He held this position for three years.<br />
Jahroni maintains that initially, Mustafa was able to easily adjust himself to the new environment which was dominated by the Dutch people. He could perform his official duties without being subjected to any suspicion or prejudice. The situation changed, Jahroni goes saying, when Mustafa, as a part of his duties, tried to develop a relationship with some of the particular groups among the Acehnese people. His attempts were very successful, but this achievement aroused some suspicions, and erupted as the major cause of his conflict with the Dutch officials. The latter, according to Van Koningsveld, considered that Mustafa was interfering inn issues which were beyond his authority. He was being stigmatized as being unable to co-operate with his Dutch counterparts. The upshot was that Mustafa was investigated by the Dutch supervisor (controleur).</p>
<p style="text-align: justify;">Mustafa, according to Van Koningsveld, complained about this investigation. Mustafa sometimes would have to wait a couple of days just to perform a small official duty. Snouck wrote to Van Langen about this treatment and tried to defend Mustafa.</p>
<p style="text-align: justify;">This harassment, however, did not last very long. In their meetings, the Assistant-Resident of Aceh Besar suggested Mustafa to understand that he really should limit his activities. Van Koningsveld maintains that the conflict between Mustafa and some particular Dutch officials had been the main reason that Mustafa had not been able to work to the top of his bent. He goes on maintaining that Mustafa claimed that the Dutch had ignored his kindness. The Governor of Aceh Besar deplored this, affirming that this prevented him from profiting from Mustafa&#8217;s expertise.<br />
During this period, Hasan Mustafa wrote a letter to one of the great Acehnese leaders, asking him to be loyal to the East Indies Government and to command his own people not to wage war with it. In the meantime he also wrote a book containing questions and their answers on social, political, cultural and religious matters, Kashf al-Sara&#8217;ir fi Haqiqat al-Atjih wa ‘l-Fidr (Revealing the Secrets about the Reality of Aceh and Pidir).</p>
<p style="text-align: justify;">Mustafa was appointed Chief-Penghulu in the third phase of the Aceh war which had already begun in 1873 and lasted until 1913. Based on the periodization of the Aceh war made by Ibrahim, his appointment took place in the period of the establishment of civil government which divided Aceh into three administrative areas: Great Aceh with Kutaraja as its centre of government, northern and eastern Aceh, Western Aceh. This period paved the way for the Dutch East Indies government to change its ‘relationship&#8217; with the Acehnese from the sitation of ‘war&#8217; into one in which the Acehnese were designated as ‘rebels,&#8217; based on the rejection of the sovereignty of the legal Acehnese Sultanate.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>An Analysis of Haji Hasan Mustafa&#8217;s unpublished Manuscript &#8211; Kashf al-Sara&#8217;ir fi Haqiqat al-Atjih wa ‘l-Fidr (Revealing the Secrets about the Reality of Aceh and Pidir) in which the Fatwa under Discussion is Found<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;">When Mustafa became a Penghulu in Kutaraja Aceh, he wrote the above-mentioned book. As he mentions in the introduction of this book, he finished writing it on Wednesday Muharram 21, 1312/July 25, 1894. The introduction of this book includes ony the information about the date in which this book was written and the status of the author when he wrote the book. The author acknowledges that his book is actually entitled in Malay Boekoe Rahajat Atjeh dan Pidir (the Book of the People from Aceh and Pidir). On Arabic, he entitles the book as Kashf al-Sara&#8217;ir fi Haqiqat al-Atjih wa Fidr.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasan Mustafa puts forward his motive of writing this book in questions number 69 and 82. He describes in those two questions that he wrote this book to prove that he had been in Aceh. He wrote the book to help the Kompeni ‘cure&#8217; the disease of the Acehnese. Since the book contains the description of the disease of the Acehnese, he supposes that the book is read by the Great People (Dutch East Indies Government) as the doctors who were treating the disease. According to him, the doctors could  not cure the disease  if they would not know the disease well. Unfortunately, no further information about the publication or circulation of the book can be found. In all of Hasan Mustafa&#8217;s letters sent to Snouck Hurgronje, which are kept in the Leiden University Library, no discussion between Hasan and Snouck can be found around the issuance of this book.</p>
<p style="text-align: justify;">This book is presented in classical Malay with hard-to-understand sentences; the punctuation is not clear; it contains complicated-subject-object-predicate relations; long sentences; a paragraph often contains only one sentence which sometimes may take more than one page. The numbering of the questions is carelessly written, especially in the last one third of the book. The book contains scribal errors, handled by crossing them out. Besides, the author of the book does not use any systematical method in explaining the subject matter. He describes, for instance, the Acehnese people in a number of questions. So if one wants to know his reflection on Acehnese people, one has to read questions no. 11, 12, 13, 7, 37, 52, 51, 53, 43, and 78. It is true that he acknowledges that in writing this book he just follows his mind haphazardly. Therefore, one may feel it very difficult to understand the contents and the ideas of the author, except after having read the whole book several times.</p>
<p style="text-align: justify;">This book contains the author&#8217;s reflection on political, social, cultural and religious subject matters. In describing his reflections, the author uses the method of questions and answers. There are in all 154 questions with their answers occupying 190 pages. In this question-and-answer book, he overviews the Acehnese character and their view toward the Dutch East Indies soldiers. He explains the role and duty of the sultan, uleebalang, and raja and their mutual relationship. A number of figures such as Tuanku Hashim, Muhammad Da&#8217;ud, Teungku Ci di Tiro, Teuku Umar and Muhammad Zahir are under his discussion in this book. The discussion on Kompeni, Dutch East Indies Government, its role and advantage for the Acehnese is paid much attention by Hasan Mustafa while the war between the Acehnese and the Kompeni is summarized in a brief discussion.  In the following paragraphs, I will describe Hasan Mustafa&#8217;s explanation of the above mentioned matters and I will prove that the whole explanation comes to one conclusion, viz., the exhortation to the Acehnese to be loyal to the Kompeni.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasan Mustafa maintains that the word Aceh is derived from hantjee wich means ‘there is no end&#8217;. Aceh in the past was a wild grass plain when it was burned, the thorn of the grass of th plain came forth again. Aceh is divided into two regions: Great Aceh and Aceh Pidir. The Great Aceh comprises three sagis (sides) and seventy-two mukims (districts) while Aceh Pidir comprises Eleboe, Oenjoeng and Pante-Radja. Uleebalang is a man of authority in the mukim while the sultan become the possessor of an endowed mukim (mukim wakaf). Hasan Mustafa does not explain who is the man of authority of the sagis and those three regions which are part of Aceh Pidir.</p>
<p style="text-align: justify;">Generally speaking, Hasan Mustafa had a bad impression about the Acehnese people. Aceh is described as a country whose people always deceive each other. According to him, one can see many examples of deceits such as between the kings, brothers, and even between sons or daughters in law and their parents. Hasan Mustafa maintains that it is difficult for them to refrain from such a bad habit as deciet. The Acehnese share a stubborn and firm character; they are easy to forget the goodness and the favour of others and always refuse an understanding and good advice. Once they are annoyed by others, they will be angry forever.</p>
<p style="text-align: justify;">Mustafa goes on maintaining that this bad character and habit are due to a low level of cognition and literacy and also because of their indifference to the significance of being ruled and being loyal to the Dutch colonial rule. In another passage, Hasan Mustafa explains the reasons why it is difficult for the Kompeni to rule Aceh. He puts forward two reasons: First the stubborness of its kings and secondly the stupidity of the people.</p>
<p style="text-align: justify;">If one reads all the passages in this book, one finds similar titles which Hasan Mustafa ascribes to the Achehnese. The titles share negative meanings. In some passages, stupidity, sickness and lack of education are ascribed by the author to the Acehnese, while in some other passages stubborness, lies, meanness, deceitfulness and refusing the goodness and help of the others stand for the same purpose. Surprisingly, opposite qualities which contain appreciative as well as admiring meanings are attributed to the Kompeni, the rivals of the Acehnese people who want to establish justice,  a powerful people who rule the country cleverly,  and as infidels.</p>
<p style="text-align: justify;">Interestingly enough Hasan Mustafa also describes how the Kompeni is viewed by the Acehnese. According to Hasan Mustafa, the Acehnese have various names and titles which they ascribe to the Kompeni, their rival in war. A number of names will be given here. First, the Kompeni is considered by the Acehnese to be a very powerful king who wants to seize the country without obeying the rule of the Acehnese kingdom. The Kompeni is also considered to be very powerful and wealthy people who are difficult for the Acehnese to be faced in war. In another passage of his book, Hasan Mustafa maintains that the Acehnese are hoping in vain that the Kompeni will feel guilty with their coming to Aceh.</p>
<p style="text-align: justify;">In a number of passages, Hasan Mustafa puts forward his opinions concerning the ways to handle and manage the Acehnese. According to him, there are two difficulties one will face when one deals with Aceh: (1) the stubborness of its kings and (2) the stupidity of its people. Therefore if we propose an idea which deals with a religious matter, we should not mix it with an idea concerning a political matter. If we deal with an idea concerning trade, we should not discuss it at the same time as our dealing with an idea concerning religious matters.</p>
<p style="text-align: justify;">He goes on maintaining that we should not hope that the diseases of the Acehnese will be cured quickly because of the great number of diseases such as murdering, deceit, slander etc. Therefore  we should have a great quantity of medicines to cure those diseases. In another passage, Hasan Mustafa puts forward another tip to handle the Acehnese. According to him, when curing the disease of the Acehnese, one should cure it carefully in order that the medicine which is used becomes effective.  In describing the fact how difficult it is to handle the Acehnese, Hasan Mustafa compares the difficulty with that of teaching a student, one needs more than one teacher.&#8217; The tone of his hopelessness in handling the Acehnese is well-reflected in this passage: ‘One may destroy the Acehnese people, but they will emerge again.&#8217;  His last tip to handle the Acehnese is that if one wants to gain popularity and sympathy of the Acehnese, one should first speak about the excellence of one who was killed in the Way of God (mati sahid) and secondly one should obey the rule of the religious teachers which has become hukum adat (customary law).</p>
<p style="text-align: justify;">Even though Hasan Mustafa overviews briefly the position of the sultan among the Acehnese as well as the socio-political position of the raja and the uleebalang, he does not distinguish between the sultan, raja (the king) and uleebalang. Hence, reading his explanation about this matter, one may find it difficult to understand whether or not the sultan and raja are the same and whether or not there is any difference between the raja and uleebalang. According to Hasan Mustafa, the sultan resides in Great Ache and he speaks Malay and sometimes Arabic.  The people trust the sultan very much due to his spiritual loftiness and dignity. The Acehnese people take the water which the sultan uses for washing his foot. They use this water to cure the sick.  The Acehnese people love and appreciate the sultan very much. The proof of this love and appreciation is reflected in their considering the sultan to be a jewel (intan).  The loyalty of the people to the sultan is incomparable. When Said Abdurrahman Zahir almost became sultan, he was refuted by the people vehemently due to his nearness and goodness to the Kompeni.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasan Mustafa also overviews the position of the raja (king) and discusses the uleebalang briefly. Firstly, he divides the rajas into raja besar (bing king) and raja kecil (small king). He does not explain further the difference between these kings. He just mentions that some rajas are given a salary by Kompeni so due to that they are loyal to the Kompeni and will extinguish any rebellion against it in the area of their power. Some of them are not loyal to the Kompeni, because the latter could not compensate for the glory which they had before. Rajas are always attributed with kepala besar (stubbornness), one of the two factors which make it difficult for the Kompeni in handling the Acehnese, besides the stupidity of the Acehnese people. They have the bad (habit) of having feuds with each other and most of them are violent to the people. Rajas make use of ‘hard&#8217; language in their daily communication. To describe how bad the uleebalangs are, Hasa Mustafa refers to a Teungku&#8217;s saying that the heart of an uleebalang is like buah  mancang (a sort of fruit) whose smell is good and its colour is yellow. But its inside part is rotten. In another passage, Hasan Mustafa maintains that uleebalangs who have been loyal to the Kompeni still make use of the stamp of sultan&#8217;s cap sembilan in order to control the people under their authority.</p>
<p style="text-align: justify;">There was a complicated conflict, according to Hasan Mustafa, between the sultan and the uleebalang. The sultans considered the uleebalang&#8217;s submission and loyalty to the Dutch East Indies as a menace for their control of the Acehnese people as well as an insult. In the uleebalangs&#8217; perception, the Acehnese kings simply are concerned with their own dignity, power, wealth and self interest. In their perception, the Acehnese kings were indifferent to the people&#8217;s interest.</p>
<p style="text-align: justify;">A number of Acehnese figures are discussed briefly by Hasan Mustafa such as Muhammad Da&#8217;ud, Tuanku Hashim, Teungku Ci di Tiro, Teuku Umar and Muhammad Zahir. Apart from Muhammad Daud and Tuanku Hashim, the discussions of other figures mentioned above are too short to be summarized here.</p>
<p style="text-align: justify;">Muhammad Daud has the title P I. The title was given by the Acehnese as a symbol of their loyalty. The title will perish if Muhammad Daud violates the religious law or customary rule. In another passage, Hasan Mustafa suggests to the Kompeni to accept the idea of ‘goodness&#8217; of Muhammad Daud, because the Acehnese loyalty to him is quite strong. Muhammad Daud has a very learned relative namely Tuanku Hashim. According to Hasan Mustafa, Tuanku Hashim has the title Banta Muda Mangkoe Raja. He is prudent and wise man who exerts strong influence among the Acehnese. If the Kompeni wants to gain control over the whole Acehnese people, it should make peace with Tuanku Hashim who can speak Malay, Arabic and Hindustan (Urdu), and who is well versed in the history of ancient kings and the history of some European countries, Bombay and Sumatra.</p>
<p style="text-align: justify;">In another passage, Hasan Mustafa maintains that for the Acehnese, the cooperation with the Dutch East Indies soldiers is a shame that can cause their dignity and self esteem to go down. Teuku Umar as well as Tuanku Hashim&#8217;s cooperation with the Dutch East Indies&#8217;soldiers is merely a strategy to gain financial aid from the Kompeni. In fact, they used the financial aid for the interest of the Acehnese war. Their indifference to co-operate with the Dutch East Indies government causes the Acehnese kingdom to go down and become disintegrated.<br />
Hasan Mustafa maintains that the rule which is used by the Dutch East Indies and imposed upon the Acehnese  is essentially in accordance with the rule of Islam. Its main goal is to embody the welfare among the people. The Dutch East Indian government as the ruler is skillful and powerful while the Acehnese are in need to be ruled by a skillful and powerful ruler, in order to become developed and glorious. So, it is a duty incumbent upon Muslims to be loyal to the colonial government.</p>
<p style="text-align: justify;">The explanation about the Dutch East-Indies soldiers, the Kompeni, occupies a big part of his book. According to Hasan Mustafa, the arrival of the Dutch East Indies soldiers in Aceh is meaningful and necessary for ruling its own people and to enchance as well as develop the degree of welfare and dignity of the Acehnese people. According to him, the Kompeni is a ‘medicine&#8217; to cure and treat the stupidity, illiteracy and underdevelopment of the local people. Even though the Kompeni appropriated the natural resources, it is important for the Acehnese. At this point,he suggests to the Acehnese to keep a good relationship with the Dutch East Indies soldiers because the Kompeni is their ‘sultan&#8217; which also tried to embody the interest of the Acehnese people.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasan Mustafa does not overview the Perang Sabil, the holy war or the Aceh war extensively. He simply states that the Kompeni is able to halt and extinguish the Acehnese rebellion. According to Hasan Mustafa, the Aceh war is the embodiment of the Acehnese stubborness preventing them to be loyal to the Colonial government. This stubborness belongs to their carelessness, lack of education, stupidity and indifference to the importance of being ruled by the Colonial government.</p>
<p style="text-align: justify;">Bearing Mustafa&#8217;s explanation mentioned above in mind, one gets a strong impression of  his loyalty to the Colonial government. He legitimized the Dutch East Indies&#8217; effort to end the Acehnese war and enforcing civil rule. He tried to identify the Dutch East Indian Government as sultan who deserves obedience and loyalty from all the Acehnese people. Bearing Mustafa&#8217;s position as a Chief-Penghulu in mind, one may understand his view and idea about the Dutch Colonial Government. His position might have compelled him to play an active role in extinguishing the Acehnese rebellion.</p>
<p style="text-align: justify;">In a letter he sent to Teungku Moehammad Zen Bantara Paloe in Jumada Awwal 3, 1312 H., Mustafa requested him to halt the warfare of his soldiers with the Dutch East Indian soldiers. If Teungku Moehammad Zen could halt the rebellion of his own people, he might deserve wealth, power and whatever he looked for from the Dutch East Indian soldiers. As described in his letter, as a sign of his happiness about their friendship and of readiness to co-operate with the other, Mustafa sent a can of minyak sapi (butter) to Moehammad Zen.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>The Translation and the Discussion of the Fatwa</strong><br />
Question<br />
64. If I am asked about whether or not I see the goodness of the kings in the Great Aceh.<br />
71. I am asked whether or not that the stupidity in a country whose people are Muslims is because of the lack of education in Aceh (Negeri). Whereas I know the cleverness of the education in Aceh (Negeri).<br />
72. What are the indications of the stupidity of ulama of this country?</p>
<p style="text-align: justify;">Answer<br />
64. You have to see that the cleverest one among those kings is one who is close to the Dutch East (Indian) government.<br />
71. I know, but you have to know that those who hold the rule of this country are not religious teachers, or do I make a mistake?<br />
72. I will write that the religious books are of course in accordance with the ruling government. In order that the readers can read my view easily, here I write my answer in malay. First, the hadith stated that religion is an easy matter. Secondly, the Holy Qur&#8217;an states that it is incumbent upon Muslims to be loyal to the ruling government. Thirdly, it was stated in Nasa&#8217;ih al-Muluk that the ruler has to use a thousand ways in ruling his people. But all [those ways] serve two aims: the advancement of the country and the happiness of the people. Fourthly, Ibn Qayyim said that the proof of justice is embodied in the religion of God. He [God] does not establish justice in one exclusive form, and because of that most religious people think that religious law always changes. Whereas it does not change until they learn it in order that they understand that this sayingis true. Ibn Hajar in 700 H. stated that we are not allowed at all to say that the religious law changed. But we say that the change of law is because of the change of the legal case.</p>
<p style="text-align: justify;">I selected these three questions out of 154 Hasan Mustafa&#8217;s opinions in the mentioned book, because they seem to reflect his legal notion about the relationship between the Acehnese and the Dutch East Indian government. As we can see in his justification of the duty of the Acehnese to be loyal to the ruling government, Hasan Mustafa seeks to base his view on the legal traditional sources &#8211; the Qur&#8217;an, the Traditions, the consensus of the Muslim scholars and the view of a number of Muslim scholars. Nevertheless, analyzing the content of this fatwa cannot be separated from understanding the whole discussion undertaken by the author as mentioned above.</p>
<p style="text-align: justify;">In the first fatwa, the Mufti asserted that the cleverness of a king should be measured by his closeness to the Kompeni (Dutch East-Indian government). This fatwa implies that the closer relation a king has with the Kompeni, the cleverer he is. The use of the word ‘clever&#8217; may reflect the Mufti&#8217;s value judgment which may imply that the good king is the one who is close to the Kompeni and the bad one is the one who is not close to the Kompeni.</p>
<p style="text-align: justify;">In questions no. 47, 63, 64, 68, 71 and 75 of his Kashf, Mustafa maintains that the arrival of the Dutch East Indian Government in Aceh is meaningful and necessary for ruling the people and to enhance and develop the degree of welfare and dignity of the Acehnese people. In question no. 19, he suggest (to) the Acehnese people to keep good relationship with the Dutch East Indian government because it is their sultan which also tries to embody the interests of the Acehnese people.</p>
<p style="text-align: justify;">The third fatwa seems to reflect Mufti&#8217;s justification of his opinion that it is the duty of the Acehnese to be loyal to the Dutch East Indian government. Basing himself on the traditional texts &#8211; a passage of the hadith, a verse of the Qur&#8217;an and an opinion of the author of Nasa&#8217;ih al-Muluk as well as an influence of an opinion of Ibn al-Qayyim and Ibn Hajar, the Mufti legalizes the existence of the Dutch East Indian Government. He apparently believes that as long as the Kompeni is concerned with the two goals recommended, the Kompeni deserve the loyalty of the Acehnese, in line with a verse of the Qur&#8217;an abot loyalty to the ruling government as an obligation and of the hadith stating that religion is (an) easy matter.</p>
<p style="text-align: justify;">Apart from the three questions quoted above in a number of other questions on the relationship between the Dutch East Indies government and the Acehnese, such as 75, 76, 77, 151, Hasan Mustafa does not refer to any religious traditional legal sources as a basis of his legal argument. He simply mentions that the Dutch East-Indian government is a medical doctor who tries to cure the ‘disease&#8217; of the Acehnese people. He also maintains that the Kompeni consists of clever men who try to educate the Acehnese so as to eliminate the stupidity and to instruct hhow to  manage the country well.&#8217; Referring to Hasan Mustafa&#8217;s legal opinion in question no 72 as quoted above, one may understand the reason why Hasan Mustafa is so keen to convince the Acehnese people to be loyal to the Dutch East Indian government.</p>
<p style="text-align: justify;">Instead of quoting the passage of the Qur&#8217;an on the prohibition for Muslims to acknowledge infidels to be their rulers and the Tradition of the Prophet &#8211; peace be upon him &#8211; concerning the same subject matter as quoted by a majority of Muslim scholars and as mentioned in all the Acehnese poetry concerning the Kompeni, Hasan Mustafa interprets those texts as being in accordance with the interests of the Dutsch East Indian government. This fatwa reflects the Mufti&#8217;s legitimation of the ruling government which was unanimously an infidel government. So one can hardly escape the impression that this fatwa was merely a part of the Colonial propaganda, rather than a genuine piece of legal advice.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>The Historical Background of the Fatwa</strong><br />
<strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Aceh War</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Different names were given to the war between Aceh and the Dutch Colonial government which began in 1873. In various texts of the Acehnese found in the Leiden University library, the wars between the Acehnese and the Dutch East Indian soldiers were called differently. In cod. Or. 8706, p. 7 and cod. Or. 8134, p. 3, the war is named Perang Belanda, waging war against the Dutch, in Cod. Or. 8926, p. 1 and cod. Or. 8146, the war is named as Perang Kaphé, waging war against the disbelievers, while in cod. Or. 8926, p. 1, it is called Perang Sabi, waging war in the way of God. Alfian calls the war Perang Belanda, while Van&#8217;t Veer and Van der Maten called it de Atjeh Oorlog.</p>
<p style="text-align: justify;">Different periods are attributed to the war between the Acehnese and the Dutch, as well. Kraemer distinguished seven periods; (1) the first expedition under the command of J.H.R. Köhler (April 5-29, 1873); (2) the second expedition under the command of J. van Sweiten until the occupation of the Dalam, the place of the uleebalang; (3) the period of consolidating the occupation of Aceh (April 1874-July 1878); (4) the period of violence and of occupying the entire Great Aceh (June 1878-September 1881); (5) the period of civil government (1881-1884); (6) the period of consttant decline (1884-1896); (7) the period of violence and the end of Aceh war (1876-1910). Paul van&#8217;t Veer in his book De Atjeh Oorlog classifies the Aceh into four periods; (1) the first period, 1873; (2) the second period, 1874-1880; (3) the third period, 1884-1896; (4) the last period 1898-1942. Referring to Jongejans, Alfian states that the Aceh war lasted from 1873 till 1913.</p>
<p style="text-align: justify;">Different views about the end of the war also occupied the concern of the scholars. According to Kraemer, the war lasted ntil 1910, but according to Van&#8217;t Veer, it lasted until 1942. Jongejans and Alfian share the view that the war lasted till 1913 due to the death of the majority of Tiro ulama. According to Reid, however, the war lasted until 1898 due to the end of the conflict between Aceh and the Dutch due to the interference by Britain.</p>
<p style="text-align: justify;">As for the origin of the Aceh war, at first the Dutch colonial government could not do anything against the Acehnese kingdom owing to the existence of the London Treaty of 1824. It was stated in the treaty that the Dutch should respect the sovereignty of the kingdom of Aceh. After years, the Dutch succeeded in inviting the British to the meeting table which gave rise to the treaty of 1871 known as the Sumatra treaty. It was stated in the treaty that the Dutch had the freedom to extend their sovereignty to the whole of Sumatra. They did not have the responsibility any more to respect the sovereignty of the kingdom of Aceh as mentioned in the London treaty of 1824. In the same year, the Dutch sent shp called Jambi into the sea of Aceh to survey the condition of the sea-side so that they could build a light house and study the political situation in the area of the sovereignty of the kingdom of Aceh.</p>
<p style="text-align: justify;">The Dutch also sent a number of envoys urging the Acehnese government to acknowledge the sovereignty of the Dutch Colonial government. The Acehnese government rejected the request and conversely urged the Dutch Colonial government to give the former colonies of Aceh back, such Sibolga, Nias and Lankat.</p>
<p style="text-align: justify;">In 1872, the Dutch Colonial government arrested the Acehnese ship called ‘Gipsy&#8217; ship, which gave rise to increasing the tension between the two rivals. The Dutch sent envoys to settle the conflict but they failed. In 1872, the Dutch proposed the establishment of a commission led by the resident of Riau. In response to the proposal, the Acehnese government sent envoys led by Tibang Muhammad proposing the postponement of the negotiations. Coming back from Riau the Acehnese envoys stopped at Singapore to negotiate with the consults of USA and Italy to prepare the concept of the same level of cooperation between the Acehnese kingdom and USA against the threat of the Dutch Colonial government. The Dutch consul sent a message to the East Indian government informing that the American and Italian consuls tried to convince their governments to help the Acehnese wage war against the Dutch. As a result, in February 18, 1873 the Dutch government ordered Governor-General, Loudon, to send the navy to Aceh. Having heard that American squadrons had been sent to Aceh, envoys were sent by the Dutch colonial government to Aceh urging them to acknowledge the sovereignty of the Dutch. Receiving an unsatisfactory response, the Dutch government declared war on March 26, 1873.</p>
<p style="text-align: justify;">The Dutch sent five naval ships. 6 steam ships, 5 small steamships and 8 patrol ships. On 8 April 1873 the Dutch army set foot in Pante Ceureumen, in the eastern region of Ulee Cheue under the command of J.H.R. Kohler. After having waged war for several days, the Dutch could hold only the Great Mosque of Kutaraja. Due to the pressure of the Acehnese army, however, they left it later. Kohler was shot and the Dutch army left Aceh back on April 29, 1873. The first Dutch agression failed.</p>
<p style="text-align: justify;">On December 9, 1873, the second aggression against the Acehnese began. The force was multiplied and led by J. van Swieten. Tengku Hashim with his army guarded the Great Mosque and strengthened the defensive post in Peukan Aceh and Lembheuk and arragned the inner defence of Aceh.</p>
<p style="text-align: justify;">Having learnt that the Great Mosque was taken by the Dutch army on January 6, 1874, 3,000 Acehnese who came from Mukim Duabelas (twelfth district) strengthened the war line which was built by Panglima Polim. Dalam was guarded by 900 armed Acehnese. After having been attacked many times by the Dutch, Dalam fell into the hands of the Dutch army on January 24, 1874. At the same time cholera spread widely among the Acehnese. The war ceaed for a while and the Dutch proposed the Siak Treaty with the Sultan of Aceh.</p>
<p style="text-align: justify;">Because of the fact that Dalam was under the guard of the Dutch, Van Swieten proclaimed on January 31, 1874 that the kingdom of Aceh had already come under the rule of the Dutch. He also announced that the East Indian government had replaced the sultan and that Great Aceh had belonged to the Dutch East Indies.</p>
<p style="text-align: justify;">Many uleebalangs signed the peace treaty with the Dutch in 1874 and 1876. A great number of Acehnese, however, steadily attacked the Dutch army. This forced General Wiggers van Kerchen to improve and extend the defensive line.</p>
<p style="text-align: justify;">Nevertheless the defence was not efficiently able to hold back the Acehnese army, because of the increasing spirit of intensive attack as a result of the arrival of Habib Abdurrahman al-Zahir from Turkey.<br />
In 1878, van der Heijden, the Civil and Military Governor, tried to attack all the valley of Aceh river in Great Aceh. In March 1878, Habib Abdurrahman attacked Lam Krak. Two months later, there was a meeting held among the Acehnese leaders to intensify the attack against the Dutch. It forced the Dutch to send military forces to the southern part of Great Aceh and West Aceh in February and March of the same year. Habib Abdurrahman and a number of uleebalangs now gave up fighting and made contacts with the Dutch.</p>
<p style="text-align: justify;">In May, June and July of 1879, the Dutch sent a naval force to attack the bivouac of Aceh in Kuala Jangka and Peukan Baro of Pidie, Ladong and Krueng Raya of Great Aceh, and Pesangon in northern Aceh. The patrol which was suggested to be run continuously by Van der Heijden was stopped by Pruys van der Hoeven, considering that many uleebalangs ceased to attack the Dutch and promised to be loyal to the East Indian Government. In January 1891, Tengku Cik di Tiro Muhammad Saman passed away and this was followed by the death of Teuku Panglima Polim. In September 1893, Teuku Umar with his 15 leaders declared their loyalty to the East Indian Government and he was entitled henceforth as Teuku Johan Pahlawan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>The Establishment of Civil Government</strong></p>
<p style="text-align: justify;">In Staatsblad of 1881 no. 79, it was declared that Great Aceh fell under the rule of the civil government in Kutaraja, and that the states which were under the command of uleebalangs outside of Great Aceh were allowed to be autonomous. On April 6, 1881, Pruys van der Hoeven was appointed civil governor. Pruys divided the area of his rule into three districts: (1) Great Aceh with Kutaraja as the center of government; (2) northern and eastern Aceh with Lhokseumawe as the center of government and western Aceh with Meulaboh as the center of government. He was assisted by ten controllers.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Snouck Hurgronje and his Role in Ending the Aceh War</strong></p>
<p style="text-align: justify;">As the one who founded the official institution which studied and proposed colonial policies concerning Islamic affairs to the Dutch East Indian government, Snouck played a significant role in the efforts to suppress the Acehnese rebellion. His role can be traced from his research in Mecca until his establishment of Het Kantoor voor Islamitische Zaken.</p>
<p style="text-align: justify;">It is known that under the cover of the Pilgrimage (the hajj) weapons were secretly dispatched from Istanbul to Aceh. The leaders of the Acehnese rebellion who escaped from Aceh and were searched by the Colonial high authority were known to reside in the Holy City of Islam. Mecca became the central city of agitation. Bearing this in mind, Kruyt, the Dutch consul in Jeddah, proposed to the Ministry of Colonization in the Hague the training of local secret Muslim agents who could enter Mecca freely. Since this initiative was rejected by the Ministry of Colonies, he suggested another proposal namely the dispatching of two envoys among the pilgrims entering Mecca. This proposal was also rejected by the Ministry of Colonies. Finally, Snouck Hurgronje was recommended to deal with this ‘secret duty.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">In his letter to Theodor Noldeke on August 1, 1885, Snouck wrote that the main goals of his activities in Mecca were to study the daily activity of the pilgrims, the behaviour of the ulama and their political activity in the form of pan-Islamism which was being disseminated among the Muslim world by the pilgrims, especially among Muslims in the East Indies.</p>
<p style="text-align: justify;">Snouck&#8217;s activity for half a year in Mecca helped his next career in the East Indies. He was able to get the ulama&#8217;s sympathy so much that he could collect valuable information which enabled him to design a colonial policy concerning the centers of religious learning in the East Indies. He also got the sympathy of some of Acehnese ulama, such as Teungku Nurdin, a younger brother of a former chief Penghulu who helped him very much as he believed in Snouck&#8217;s Muslimness and his good relationship with Nurdin&#8217;s teachers in Mecca.</p>
<p style="text-align: justify;">As a religious adviser in Het Kantoor voor Islamitische Zaken, the office dealing with Muslim matters, Snouck Hurgronje with his ambtelijke adviezen played significant role in influencing the colonial policies in dealing with Muslims in the East Indies. It is not an exaggeration if Wertheim states that Snouck&#8217;s ambtelijke adviezen testify to Snouck&#8217;s active role in extinguishing the Acehnese rebellion.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hasan Mustafa: Between Penghulu and Snouck Hurgronje&#8217;s Informant</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Many informants assisted Snouck Hurgronje in doing his research both in Arabia and the East Indies. Haji Aboe Bakar Djajadiningrat is often considered as Snouck&#8217;s most loyal assistant who supplied valuable information for a big part of Snouck&#8217;s Mecca in the Latter Part of the Nineteenth Century. He supplied the information to the Dutch Consulate in Jeddah about the rebellious leaders from Western Java who had escaped and resided in Mecca. Besides, he oversaw the activity of the Indonesian hujjaj, collected information about them and traced secretly the activities of the rebels from the East Indies. In a letter sent to Euting, Strassbourgh Orientalist, of December 11, 1888, Snouck wrote about his next journey to the East Indies: ‘In Suez, I might meet a journey fellow. He is a well-educated Javanese, who has been in Mecca for 12 years. He has been my most loyal informant for years, and also helped me loyally when I was in Mecca.&#8217; Another informant of Snouck was Hasan Mustafa who accompanied Snouck Hurgronje during his journey to study the Islamic studies of the Pesantrens (Islamic traditional colleges) in west and middle Java in 1889 and 1890. He then collected information about Pesantrens in an effort to design a colonial policy dealing with these centers of Muslim learning. In 1896, Snouck acknowledged that ‘Hasan Mustafa accompanied me in 1889-1891 in a number of my journeys in Java: Due to his indispensable assistance, a great number of indigenous people gathered around me from whom I could gather valuable information.</p>
<p style="text-align: justify;">The friendship between Snouck and Hasan Mustafa began in Mecca. When Snouck Hurgronje did his research in Mecca, he became well-acquainted with the Jawa, the people who came from the South-East Asian Archipelago. Snouck met Hasan Mustafa in Mecca in 1884. He knew well two of sixty Sundanese students; Hasan Mustafa and Muhammad Garut. As stated in his own diary, Snouck built a good relationship with the Javanese students and ulama in Mecca.</p>
<p style="text-align: justify;">The appointment of Hasan Mustafa as Penghulu cannot be separated from Snouck&#8217;s role. In a letter he sent to the Secretary of the Governor General he stated, ‘He obviously could easily develop a good relationship with the Acehnese and has a grasp of the real situation.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Initially, Mustafa refused the offer given to him by Snouck to become Penghulu. But Snouck&#8217;s repeated suggestions and urgings compelled him to accept it. Mustafa&#8217;s readiness to finally accept the offer may have sprung from their good relationship which started since they met Snouck in Mecca in 1884.</p>
<p style="text-align: justify;">Snouck&#8217;s recommendation of Hasan Mustafa to become Penghulu in Kutaraja Aceh may have had a political motivation which was not recognized by Hasan Mustafa. Snouck may have believed that Hasan Mustafa could be a mediator between the Acehnesse and the Dutch. This can be inferred from Snouck&#8217;s letter sent in May 22, 1894 to the Secretary of the Governor General as mentioned above.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasan Mustafa&#8217;s correspondence with Snouck when the former was a Penghulu in Aceh and the latter was residing in Weltevreden (central Jakarta now) shows that Hasan Mustafa played an active role in participating in the effort at ending the Acehnese war. According to Van Koningsveld, a weekly letter Mustafa sent to Snouck Hurgronje from Aceh might have urged the latter to compel the Dutch East Indies soldiers to intensify the war against the Acehnese people. Taking all the facts mentioned above into account, one may understand the context of his legal opinion concerning the necessity of the Muslims to be loyal to the Colonial government. We can infer from this historical background that Hasan Mustafa&#8217;s fatwa was used as a support for the Colonial interest to end the Acehnese war. Nevertheless, I cannot evaluate the real significance and influence of his legal opinion on ending the Acehnese war due to the basic fact that this fatwa was merely a text written in an unpublished book, Kashf al-Sara&#8217;ir fi Haqiqat al-Atjih wa ‘l-Fidr. Neither could I find a written reaction to this legal opinion. As far as I know, the polemic between Hasan Mustafa and Sayyid Uthman, both of them were Snouck&#8217;s informants, as described by Hasan Mustafa in his Injaz al-Wa&#8217;d fi Itfa al-Ra&#8217;d, has to do with his mystical thought.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Comparing the Fatwa with Other Muslim Views</strong></p>
<p style="text-align: justify;">In the following paragraphs, I will try to describe some views of Muslim scholars dealing with the Holy war. The first three views discussed the Islamic point of view about the necessity of the Holy War when a Muslim country is invaded by the infidels. These three views are respectively the opinion of Shaykh Nawawi a-Bantani, Abu Zakariyya al-Ansari, and Nawawi al-Dimashqi. As for the other views, I will overview the legal opinions of several legal advisors (muftis) which were compiled by Muhammad ibn Sulayman Hasab Allah al-Makki al-Shafi&#8217;I (1828-1917) and also I would like to describe the legal opinion of Hashim Ash&#8217;ari (1871-1947). Their views expound a set of rules concerning the relationship between Muslims and the Dutch.</p>
<p style="text-align: justify;">Shaykh Nawawi al-Bantani and Abu Zakariyya al-Ansari&#8217;s legal opinions concerning the Holy War can be found in their books respectively Nihayat al-Zin and Fath al-Wahhab. Both scholars considered that necessity of Holy War depended on two conditions. First, if a Muslim country has been occupied by infidels the obligation to wage a Holy War becomes a firm social obligation (fard kifaya). The Holy War should be declared once a year by some Muslims. Secondly, if the enemy, the infidels, for instance, invade a Muslim country, the obligation to wage a Holy War would become an individual obligation. At the time of invasion, there is an obligation on every Muslim to defend the country.<br />
Another view I would like to describe is the view of Muhyi al-Din Abu Zakariyya Nawawi al-Dimashqi. His legal opinion deal with the subject found in his work Minhaj al-Talibin which was edited and translated into French by L.W.C. van den Berg. He also discusses the obligation to wage a Holy War and holds the same opinion as by the two previous religious scholars, al-Ansari and al-Bantani.</p>
<p style="text-align: justify;">The fatwa which is issued by Muhammad ibn Hasab Allah al-Makki al-Shafi&#8217;I concerning the Acehnese war is interesting for a comparison with Hasan Mustafa&#8217;s fatwa. This fatwa was the answer to a number of requests for legal advice. Questions of the requesters are that: If a Muslim land is conquered by the unbelievers from which they drive away its inhabitants. Then the inhabitants were divided into groups; one group of them (1) moves along with their sultan to a place from which they plan to return to their original place to resist the unbelievers. Group 2 surrenders to the unbelievers and accepts their authority; another group moved to another country and waits to return to their country safely. In response to these questions, the Mufti stated that the second group is not allowed to surrender to the unbelievers as long as it is able to resist. Its surrender in the meantime was sinful but if it were powerless to resist and conditions would become worse, it is allowed to move to another region. Nevertheless, it is worried about its condition and thus surrenders to the unbelievers, although it is still able to resist them, it should not be considered kafir because of its surrender. Should the condition become worse, it is not allowed to return. Neither is it allowed to perform hajj to Mecca and go for ziyarat to Madina at the time of the Holy War. But if there is no support and no possibility for continuing the jihad, then it is allowed to leave for the hajj, while the blame should be put on those withholding support though they were able to give it.</p>
<p style="text-align: justify;">According to Van Koningsveld, this fatwa seems to expound a set of rules to be obeyed by the various groups of the Acehnese in their internal relations as well as their contacts with the Dutch enemy. One can conclude also that the life and property of those Acehnese who had surrendered to the Dutch should be respected because, according to this fatwa, no Muslim becomes an unbeliever by the act of surrender. Van Koningsveld also said that this fatwa probably played a role in the discussions of the various Acehnese resistance-leaders. This can be inferred, he concluded, from the fact that Teungku Kutakarang, in his pamphlet, Tadhkirat al-Raqidin, seems to have respected the rules of Hasab Allah&#8217;s fatwa, in his approach to his fellow-Acehnese who had surrendered to the Dutch. He (Teungku Kutakarang) urged the Acehnese people to participate in waging war, but he did not consider them as kafirs, infidels, if they did not.<br />
I believe that Hasan Mustafa was aware of the issuance of legal opinions mentioned above and he might have understood well their idea that once a Muslim region was occupied by infidels, all Muslims were obliged to liberate their region from them, the waging of war to resist the infidels becoming an individual obligation. Also he might have read legal opinions of Nawawi al-Bantani, Abu Zakariyya al-Ansari and al-Nawawi al-Dimashqi dealing with the necessity of Muslims to prosecute the jihad once their region is invaded by the infidels. Nevertheless, he had a different legal opinion. I do not think that his identifying the Colonial to a sultanat or ‘Islamic kingdom&#8217; as a part of this mode of legal thinking. Taking that he was a Penghulu which should be loyal to the Colonial government into account, one may understand his legal opinion dealing with the Muslim&#8217;s obligation to be loyal to the Colonial Government as described in his book, Kashf al-Sara&#8217;ir fi Haqiqat al-Atjeh wa ‘l-Fidr.</p>
<p style="text-align: justify;">Another fatwa which is relevant in this subject is one of Hashim Ash&#8217;ari. It was stated in the fatwa that it is incumbent for every Muslim to wage war against the infidel which usurps Indonesian independence. The background of this fatwa was quite different from that of Hasan Mustafa. This fatwa was issued at the return of the Netherlands Indies civil administration which tried to usurp Indonesian independence after the World War II. This fatwa was a manifestation of obvious objection of religious leaders to the foreign interference with the internal affairs after the dawn of independencd. This fatwa expresses the ideology of jihad against the Colonial government. Hasan Mustafa&#8217;s fatwa was issued when the Dutch East Indies soldiers were trying to extinguish the Acehnese rebellion in the colonial time.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Conclusion</strong></p>
<p style="text-align: justify;">The general historical background of this fatwa is the war between the Acehnese people and the Dutch East Indies soldiers. By interpreting the traditional Islamic legal basic sources, the Qur&#8217;an, Sunnah and some Muslim scholars&#8217; opinion, the Mufti attempted to induce the Acehnese people to quit their rebellion against the Dutch East Indies government and assured them that the Colonial government was their legitimate ruler which deserved their loyalty and obedience. This fatwa was issuedhen the Dutch East Indies&#8217; civil government was enforced in Aceh. The establishment of civil government, which consequently changed the status of Acehnese resistance from waging war to a rebellion, required the people&#8217;s legitimacy. Requiring the Acehnese to quit their rebellion against the Dutch rule as well as to be loyal to the rule, this fatwa is a conspicuous reflection of the Colonial propaganda to acquire the legitimacy among the people. Hence, one might say that this fatwa was issued as a propaganda material rather than as legal advice.</p>
<p style="text-align: justify;">The friendship between the Mufti, Hasan Mustafa, and Snouck Hurgronje, which paved the way for the former the position of a Penghulu in Kutaraja Aceh, may suggest a psychological force to the issuance of this fatwa. It is well-known that weekly letters which were sent by Hasan Mustafa to Snouck played a significant role in extinguishing the Acehnese rebellion since the latter was the legal adviser of the Secretary General of Dutch East Indies government. In effect, due to this friendship itself, one may suggest that Hasan Mustafa occupied his position as ‘an informant,&#8217; of his friend, Snouck Hurgronje, rather than as a professional Penghulu. Thus, it is understandable if one say that his fatwa is a political information than a legal opinion.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bibliography</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Alfian, Teuku Ibrahim, Perang di Jalan Allah 1873-1912 (Yogyakarta: 1981)<br />
Amiq, Jihad against the Dutch Colonization in Indonesia: Study of the Fatwas of Sayyid Uthman (1822-1913) and K.H. Hashim Ashari (1871-1947) (Unpub. Thesis at the Leiden University: 1998)<br />
Al-Ansari, Abu Zakariyya, Fath al-Wahhab (  ), vol.<br />
Al-Bantani, Muhammad Nawawi, Nihayat al-Zin<br />
Benda, J. H., Continuity and change in South-East Asia (Collected Journal Articles (Yale University South-East Asia Studies Monograph Series (New Have: 1972), no. 18.<br />
Damste, H.T. Atceh Historie (1916)<br />
Douwes, Dick and Kaptein, Nico, Indonesia dan Haji (Jakarta: INIS, 1997)<br />
Esposito, John L. (ed.), The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World (Oxford: Oxford University Press, 1995<br />
Gobee, E. and C. Adrianse, Nasihat-Nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936 (Jakarta: INIS), vol. I, II, IV dan VI<br />
Hashmy, Ali, Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agresi Belanda (Jakarta: Bulan Bintang)<br />
Humphreys, R.S., Islamic History: A Frame Work for Inquiry (Cairo: American<br />
University in Cairo Press, 1992)<br />
Hurgronje, C. Snouck, Mecca in the Latter Part of the Nineteenth Century, J.H. Monahan (transl.), 1931<br />
&#8212;&#8211;, Perayaan Mekah (Jakarta: INIS, 1989), Supardi (transl.)<br />
&#8212;&#8211;, Aceh Rakyat dan Adat Istiadatnya (Jakarta: INIS, 1997), Sultan Mainoen (transl.)<br />
Ismail, M.S. Ibn al-Qayyim, Kiai Penghulu Jawa: Peranannya di Masa Kolonial, (Jakarta, Gema Insani Press, 1997)<br />
Jahroni, Jajang, The Life and Mystical Thoughtof Haji Hasan Mustafa (1852-1930), unpub. Thesis (Leiden University, 1998)<br />
Kaptein, Nico, ‘Meccan Fatwas from the End of the Nineteenth Century on Indonesian Affairs,&#8217; in Studia Islamika, vol. II, no. 4, 1995, p. 141-159<br />
Van Koningsveld, P.Sj., Snouck Hurgronje dan Islam (Jakarta: Girimukti Pasaka, 1989)<br />
&#8212;&#8211;, ‘Beberapa Aspek Keagamaan Perang Aceh Sebagai Tercermin Dalam Tiga Naskah Berbahasa Arab Yang Tak Diterbitkan,&#8217; in W.A.L. Stokhof dan N.J.G. Kaptein, Beberapa Kajian Indonesia dan Islam (Jakarta: INIS, 1990),  p. 77-87<br />
&#8212;&#8211;, ‘Nasehat-nasehat Snouck sebagai Sumber Sejarah Zaman Penjajahan,&#8217; in E. Gobee and C. Adrianse, eds), Nasehat-nasehat Kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936 (Jakarta: Seri Khusus INIS, 1990)<br />
Kartini, Tini, Biografi dan Karya Pujangga Haji Hasan Mustafa (Jakarta: Pusat dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud, 1985)<br />
Kremer, J., Atjeh (1922), deel 1<br />
Lev. S. Daniel, Islamic Courts in Indonesia: a Study in the Political bases of legal Institutions (London: University of California Press, )<br />
Morris, Eric Eugene, Islam and Politics in Aceh: a Study of Center-Periphery Reactions in Indonesia (Cornell University: University Microfilms International, 1983)<br />
Van deer Mateen, K., Snouck Hurgronje en de Atjeh Oorlog<br />
Mustafa, Hasan, Adji Wiwitan Istilah compiled by Wangsaatmadja<br />
&#8212;&#8211;, 144 Patakonan Jeung Jawabna (Rahmat Cijulang)<br />
Peters, Rudolph, Islam and Colonialism: The Doctrine of Jihad in Modern History&#8217;s-Gravenhage (Universiteit van Amsterdam)<br />
Pijper, Dr. G.F., Studien Over de Geschiedenis van de Islam in Indonesia 1900-1950 (Leiden: E.J. Brill, 1977)<br />
Reid, Anthony, The Contest for North Sumatra: Atjeh, the Netherlands and Britain 1858-1898 (Kuala Lumpur: University of Malaysia Press, 1969)<br />
Reinhart, A.K., ‘Transcendence and Social Practice: Muftis and Qadis as Religious Interpreters,&#8217; Annales Islamologiques, Institut Francais d&#8217;Archeologie Orientale du Caire (1993, tome xxvii)<br />
Steenbrink, K., Kawan dalam Pertikaian (Bandung: Mizan, 1995), Yuliani L. et al.<br />
Suminto, H. Aqib, Politik Islam Hindia Belanda (Jakarta: LP3ES, 1985)<br />
Stokhof, W.A.L and N.J.G. Kaptein (eds.), Beberapa Kajian Indonesia dan Islam (Jakarta: INIS, 1990)<br />
Veer, Paul van&#8217;t, De Atjeh Oorlog, (Amsterdam: N.V. Uitgeverij de Arbeiderspers, 1969)<br />
Wertheim, W.F., ‘Counter-insurgency Research at the Turn of the Century Snouck Hurgronje and the Acheh War,&#8217; p. 320-328.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Manuscripts</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Cod. Or. 18097 s. 16 (Arabic Letters from Kutaraja, Correspondence with Snouck Hurgronje, 1893-1895)<br />
Cod. Or. 18097, s. 9 (Letters sent by Hasann Mustafa to Snouck Hurgronje in Weltevreden, 1893-1894)<br />
Cod. Or. 7636 (Kashf al-Sar&#8217;ir fi Haqiqat Atjeh wa ‘l-Fidr)<br />
Cod. Or. 7205 (Injaz al-Wa&#8217;d fi Itfa al-Ra&#8217;d)<br />
Cod. Or. 8952 (Arabic Letters sent by Hasan Mustafa to Snouck Hurgronje, 1911-1923).</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bantenheritage.org/id/a-study-of-hasan-mustafa%e2%80%99s-fatwa-%e2%80%98it-is-a-duty-incumbent-upon-the-indonesian-muslims-to-be-loyal-to-the-dutch-east-indies-government%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 3.120 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2010-09-01 12:15:03 -->
