Bandar Banten

Senin, 19 Oktober 2009 wahyu

BANDAR BANTEN:Penduduk dan Golongan Masyarakatnya

” Kajian Historis dan Arkeologis serta Prospek Masyarakat Banten ke Masa Depan “

Hasan Muarif Ambary dan Halwany Michrob

(Pusat Penelitian Arkeologi Nasional)

I. Pengantar

Bandar Banten sebagai salah satu bandar internasional abad 16-19 M, terletak di ujung barat bagian utara Pulau Jawa. Bukti-bukti sejarah dan arkeologi yang banyak terdapat di Situs Banten memberikan petunjuk kuat bahwa Bandar itu memegang peran cukup besar dalam dunia perniagaan masa silam.

Keletakannya yang secara geografis terletak antara Malaka dan Gresik, menjadikannya salah satu bandar internasional yang membawa berbagai pengaruh baik dari segi sosial, politik, ekonomi, kebudayaan maupun agama. Kapal-kapal yang berlabuh di bandar Banten berasal dari berbagai daerah di Indonesia, maupun dari negara asing, terutama Cina, India, Arab, dan pada masa yang lebih kemudian Eropa. Kapal-kapal itu tidak semata-mata membawa barang niaga dari negara atau daerahnya masing-masing untuk diperdagangkan di situ, tetapi mereka juga membeli komoditi yang berasal dari kerajaan Banten atau daerah lain yang diantarpulaukan melalui bandar Banten. Dapat dipastikan Banten memiliki hubungan dengan daerah pedalamannya sehingga berperan sebagai “pintu” bagi kerajaan Banten dengan dunia luar.

Di bandar Banten itulah terjadi interaksi sosial sehingga memperlancar kontak budaya yang berawal dari kegiatan ekonomi dan berkembang ke bidang-bidang sosial, politik, agama, seni dan kebudayaan dalam arti luas.

II. Pokok Bahasan

Keberadaan Banten dan peranan sejarahnya dalam panggung sejarah telah banyak diungkapkan dari berbagai sumber. Penelitian arkeologi yang telah dilaksanakan di Situs Banten sejak tahun 1968 sampai sekarang juga telah banyak memberikan informasi data baru tentang struktur kota serta aktifitas masyarakatnya dalam kronologi perkembangan kota dan lapisan masyarakatnya.

Dari kajian historic dan arkeologis ini kami ingin mengangkat beberapa bahasan sebagai berikut:

1. Rekonstruksi struktur masyarakat Banten abad 16-19 M berdasarkan informasi cumber tertulis dan temuan data arkeologis.

2. Rekonstruksi kota dan masyarakat Banten dalam suatu “out-door dan in-door” museum.

3. Prospek perkembangan kota lama Banten untuk perkembangan di masa depan.

III. Rekonstruksi Struktur Masyarakat Banten abad 1619 M

Informasi tertua yang memberikan deskripsi agak rinci tentang masyarakat Banten dan struktur kota Banten diperoleh dari catatan Yans Karel, seorang anggota armada Belanda yang datang dan berlabuh di pelabuhan Banten di bulan November tahun 1596 dibawah pimpinan Cornellius de Houtman.

Catalan yang dibuat Yans Karel menyebutkan bahwa Kota Banten dikelilingi oleh tembok kota. Kota Banten cukup besar hampir sama dengan kota Amsterdam saat itu. Catalan Comellius de Houtman tahun 1596 memberi keterangan kepada kita bahwa kapal-kapal asing yang bersandar di pelabuhan Banten harus dapat ijin Syahbandar. Untuk masuk dalam kota Banten dari pelabuhan terlebih dahulu harus melalui tolhuis atau tempat pungut pajak (Rouffaer dan Ijzerman 1915 : 201).

Dari catatan tahun 1600 terdapat uraian bahwa istana menghadap ke utara dan dikelilingi parit serta rumah-rumah kecil; disebelah kanan gerbang utama terdapat rumah jaga, dan setelah melalui pintu masuk istana terlihat ada tempat terbuka, dengan tiang dan permadani ( Chijs 1881 : 30; Gelder 1900 : 769 Groenhof 1919 : 4; Wertheim 1956 : 147). Orang lainnya yang berkunjung ke Banten ialah Wouter Schouten (1664 ). la telah membuat catatan deskriptif mengenai istana, mesjid, menara, dan bangunan lainnya yang dihuni oleh para bangsawan, serta keraton yang berbenteng ( 1676 : 138 – 40, Siswandi,1980; 9 ).

Mengenai luas kota Surosoan mungkin dapat diperkirakan dari catatan yang ditulis Valentijn. Menurut Valentijn, kota Surosoan akan selesai dijelajahi dengan jalan kaki dalam waktu 2 jam ( Chijs 1881 :15 ).

Orang asing lainnya yang menulis tentang Banten ialah Stavorinus (1798 : 35 ), ketika ia mengunjungi Banten sekitar akhir abad ke-18. Dari catatan tersebut dapat diperoleh gambaran tentang benteng Speelwijk dan keadaan sungai waktu itu. yang bagian muaranya sudah menjadi dangkal, sehingga kapal-kapal sukar memasuki pelabuhan.

Di pelabuhan Banten berlabuh puluhan kapal dari berbagai kebangsaan antara lain Cina, Keling, Pagu (sekarang Mianmar). Di kota Banten terdapat beberapa pasar dan yang terbesar ialah pasar Karangantu. Di pasar Karangantu selain pedagang setempat terdapat pedagang asing termasuk barang dagangan impor seperti kain sutera, porselin (keramik) Cina, dan lain sebagainya (Roufvaer dan ljzerman 1915 : 201).

Selama masa pemerintahan Sultan Abul Mahasin Zainul Abidin di tahun 1694 telah dilakukan pencatatan (sensus) penduduk kota: Kota Banten saat itu jumlah penduduknya adalah 31848 dan tahun 1708 dilakukan sensus lagi, penduduk Kota Banten berjumlah 36302 (Pergeaud 1968: 1564 – 4).

Yang menarik perhatian sampai dengan akhir abad 19, Scrrurier yang datang ke Kota Lama Banten walaupun Kota Banten telah ditinggal penduduknya tetapi di Kota Lama Barat masih dapat dicatat adanya 33 pemukiman penduduk Islam. la kemudian mendatanya dan ke-33 pemukiman Islam sebagaimana peta Serrurier terlampir adalah sebagai berikut:

1. Kepakihan : pernukiman kaum ulama.

2. Pamarican : tempat penyimpanan lada

3. Pabean : tempat menarik pajak

4. Kaloran : pemukiman Pangeran Lor

5. Kawangsan : pemukiman Panoeran Wangsa

6. Kapurban : pemllkiman Pangeran Purba

7. Panjaringan : pemukiman tukang ‘aril h)

8. Pakojan : pemukiman orang asing (Benggala, Gujarat, Habsi, Arab. dal Turki)

9. Pratok : pusat kerajinan.

10. Pasulaman ; pertukangan sulam

11. Karangantu : pemukiman orang asing (Cina, Malaya, Portugis dan Belanda)

12. Pamaranggen : pertukangan keris

13. Pawilahan : pertukangan bambu

14. Pakawatan : pertukangan jala

15. Karoya : pemukiman orang pribumi

16. Kamandalikan : pemukiman Pangeran Mandalika

17. Cemara : tidak diketahui

18. Tambak : tidak diketahui

19. Kajoran : tidak diketahui

20. Kebalen : pemukiman orang Bali

21. Kasemen : pemukiman orang pribumi

22. Kawiragunan : pemukiman pejabat keraton

23. Pajatran : pertukangan tenun

24. Kepandaian : pertukangan logam

25. Kesatrian : pemukiman tentara

26. Karang Kepalen : tidak diketahui

27. Keraton : pemukiman raja dan keluarganya

28. Pasar Anyar : pasar

29. Pagebangan : tidak diketahui

30. Kebantenan : pemukiman pejabat keraton

31. Langgeng Malta : tidak diketahui

32. Kesunyatan : tempat orang suci

33. Kagongan : pertukangan logam

(Ronny Siswanndi, 1980 : 21)

Berdasarkan ke-33 pemukiman tersebut dapat diklasifikasikan menjadi 4 (empat) kelompok. yaitu:

1. Pengelompokkan atas dasar ras dan suku. terdiri dari Kcbalen (pemukiman orang Bali). Karoya (pemukiman orang Koga dari India), dan Karangantu (pemukiman orang asing lainnya);

2. Pengelompokkan atas dasar keagamaan, terdiri dari Kapakihan (pemukiman kaum ulama), dan Kasunyatan (pemukiman orang suci);

3. Pengelompokkan dasar sosial ekonomi, terdiri dari Pamarican (tempat penyimpanan lada), Pabean (tempat menarik pajak), Panjaringan (pemukiman nelayan), Pasulaman (tempat kerajinan sulam), Kagongan (tempat pembuatan gong), Pamaranggen (tempat pembuatan keris), Pawilahan (tempat kerajinan bambu), Pakawatan (tempat pembuatan jala), Pratok (tempat pembuatan obat), Kepandean (tempat pembuatan alat-alat senjata), dan Pajatran (tempat kerajinan tenun),

4. Pengelompokkan atas dasar status dalam pemerintahan dan masyarakat, terdiri dari Kawangsan (tempat pemukiman Pangeran Wangsa), Kaloran (tempat pemukiman Pangeran Lor), Kawiragunan (tempat pemukiman Pangeran Wiraguna). Kapurban (pemukiman Pangeran Purba), Kabantenan (pemukiman pejabat pemerintah), Kamandalikan (pemukiman Pangeran Mandalika), Keraton (pemukiman Sultan dan keluarganya), dan Kesatrian (pemukiman tentara) (Mundarjito; 1980, Siswandi;1980)

Selain nama-nama yang disebutkan tadi, terdapat pula sejumlah nama yang tidak diketahui fungsinya, yaitu Kasemen, Tambak, Kajoran, Cemara, Karang Kapaten, Pasar Anyar, Pagebangan, dan Langgeng Maita.

IV. Rekonstruksi Fisik dan Arsitektur Kota Lama Banten I6-19 M

1 . Uraian Fisik dan Arsitektur Kota Lama Banten

Dari peninggalan bekas kota lama Banten khususnya yang bernilai arsitektur dan memiliki nilai historis yang dapat menyiratkan riwayat tertentu, baik kejayaan maupun kesuraman suatu masa dalam sejarah, kita dapat mengacu pada pendapat H. William Saner (1984). la mengatakan bahwa reruntuhan/sisa-sisa bangunan dalam kota Itu mungkin akan memperlihatkan suatu kualitas khusus yang kukuh menandai masanya, atau kualitas keterampilan manusia pembuatnya atau dalam rinciannya, biasanya berupa bentuk-bentuk yang amat langka ditentukan pada bentuk umum.

Kevin Lynch (1984: 73-74) menyatakan ada beberapa teori normatif mengenai bentuk kota-kota kuno serta alasan-alasannya. Teori-teori normatif tersebut pada dasarnya merupakan metafora mengenai apa sebenarnya definisi sebuah kota dan bagaimana cara bekerjanya komponen-komponen kota tersebut.

Lynch melihat kecenderungan bahwa kota-kota pertama yang tumbuh pada mulanya berakar dari pertumbuhan pusat-pusat seremoni atau tempat-tempat suci yang dapat dijelaskan kaitannya terhadap kekuatan-kekuatan alam, serta mengendalikan bagi keuntungan manusia para petani desa memberikan sumbangannya kepada kota secara sukarela. Redistribusi kekuatan dan sumber-sumber daya material dilakukan oleh komponen-komponen kelas penguasa/kekuasaan dari tangan yang satu ke tangan yang lain seiring dengan pertumbuhan kota yang semula berasal dari pusat-pusat keagamaan. Konsekuensi teori normatif yang diajukan oleh Lynch membuat kenyataan bahwa kota adalah: pemukiman permanen yang harus berwujud model magis dari jagatraya dan Tuhan.

Dari peninggalan Banten Lama, dapat diperoleh gambaran mengenai perkembangan kota tersebut sebagai obyek arsitektur yang senantiasa berubah. Perkembangan kota terutama ditinjau dari latar belakang non fisik.

Obyek ini dapat dimanfaatkan untuk mempelajari pola perkembangan kota dan unsur yang mempengaruhinya. Semuanya itu tidak terlepas dari pengaruh “luar” terutama kebudayaan Islam yang menjadi landasan ideologi kerajaan Banten, pada waktu itu.

Apabila dilihat dari nilai sejarah dan arkeologi, Banten Lama memiliki kedudukan sebagai pusat kota maupun sebagai bandar utama. Kerajaan Banten mulai berkembang sejak abad XII hingga akhir abad XIX Masehi. Pada permulaan abad XIX Banten ditinggalkan penduduknya karena faktor politik, yakni kerasnya sikap penguasa Belanda di Batavia terhadap elit dan rakyat Banten, bahkan sampai membakar habis Surusowan. Selama lebih dari satu setengah abad Banten Lama kehilangan identitasnya dari sebuah kota metropolitan menjadi kota yang tidak berarti. Banten Lama kemudian berfungsi menjadi tempat peziarahan (Halwany Michrob, 1984).

Situs arkeologi Banten Lama, memiliki arsitektur yang merupakan produk “tamadun” Banten Islam. Semula kerajaan ini berpusat di Banten Girang, kemudian berpindah ke kawasan pantai dan mengalami puncak keemasannya pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Pada awal pendiriannya kota Banten Lama dirintis oleh Sultan Hasanuddin dan puteranya Maulana Yusuf

Di dalam mengamati fenomena arsitektur Islam pada umumnya dan di Asia Tenggara khususnya dan lebih khusus lagi fenomena yang ada di situs Banten Lama. muncul sejumlah kajian arkeo-arsitektural. yang dalam analisa nantinya akan diupayakan penyelesaian permasalahannya melalui penerapan teknik pemaduan pelbagai jenis peta, mulai yang sederhana sampai dengan yang paling rumit.

Pengamatan Banten Lama sebagi bekas kota kuno terulama dilihat dari data historic dan hasil penelitian arkeologis, secara kronologis dapat kami perinci sebagai berikut:

1. 1527 -1570

Menurut kronik-kronik masa itu tahun 1526 kota dipindahkan dari Banten Girang ke Surosowan (13 km ke arah selatan), di masa pemerintahan Maulana Hasanuddin atas saran ayahnya yakni Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati). Sultan Maulana Yusuf (sultan yang kedua) memimpin pembangunan kota dan dinding-dinding kota Banten yang dibuat dari bata-bata dan batu karang. Fisik kota Banten dilengkapi dengan mesjid, keraton, lapangan, pasar, dan pelabuhan. Telaga Tasik Ardi pun dibangun oleh Maulana Yusuf.

2. 1570 -1596

Banten telah dikelilingi dinding batu dan di bagian dalamnya terbagi dalam kampung-kampung. Telah dibuat sebuah kanal untuk mengalirkan air sungai Banten ke dalam kota. Selama periode ini pertumbuhan kota masih terus berlanjut. Menurut Cornelis de Houtman (tiba di Banten pada tanggal 23 Juni 1596), kota tersebut besarnya seperti kota Amsterdam.

3. 1596 -1659

Kota Banten tumbuh terus dan memerlukan perluasan kanal-kanal dan tembok-tembok keliling dinding kota Banten menghadap ke arah laut dan telah diperkuat dengan bastion-bastion serta kubu pertahanan. Lokasi pasar Karangantu terletak (masih di luar dinding kota) di sebelah muara sungai Banten dan telah diberikan tembok keliling. Di sebelah barat didirikan perkampungan bertembok yang diperuntukkan bagi orang asing. Berdasarkan peta yang dibuat oleh Cotemunde, di sebelah barat kota terdapat penginapan orang-orang Eropa dan kompleks orang-orang Cina; beberapa kanal dinding kota dan jalan dipindahkan.

4. 1659 -1725

Setelah berjalan dua abad pertumbuhan kota Banten masih terus berlanjut. Sekarang kanal-kanal telah ditambah, salah satunya yang tertua diantaranya digunakan untuk perkampungan orang asing (kota baru) dan di sebelah timurnya pasar yang juga berkembang. Perbentengan keliling sekarang telah disempurnakan. Meskipun tidak digambarkan peta Valentijin, Belanda telah mendirikan perbentengan yang kuat di sudut utara berhadapan dengan laut. Benteng tersebut dibangun atas permintaan Gubernur Jendral VOC waktu itu, yakni Cornelis Speelman dan sekarang dikenal dengan sebutan Benteng Speellwijk.

5. 1725 -1759

Perluasan jalan dan sistem kanal telah dibuat dengan membuat parit-parit di sekeliling keraton Surosowan dan perbentengan Belanda. Kanal yang melintasi Jembatan Rantai telah diluruskan ke arah timur sampai ke bagian selatan pasar Karangantu. Dari peta Heydt terdapat gambar proses perpindahan dan perubahan rencana kota meliputi aspek dan arsitektur, kanal-kanal, jalan-jalan, dan tembok-tembok kota. Dengan menganalisis peta-peta kuno dan penginderaan jauh, kita dapat menelusuri perpindahan dan penafsiran kota lama Banten. Pada tahun 1750 terjadi pemberontakan terbesar di Banten, di dalam perluasan bangunan-bangunan Belanda, menurut sejarah tahun 1751 revolusi dapat ditindas. Situasi ini telah memperkokoh kedudukan Kompeni Belanda dan menjadikan makin lemahnya Banten.

6. 1759 -1902

Setelah kunjungan Stavorinus hingga 1787, tidak dapat sumber-sumber lain mencatat perkembangan kota ini. Menurut Breughel, yang menulis catatan tentang banten tahun 1787, terdapat beberapa gudang dan penjara juga sebuah pendopo dengan sebuah platform setinggi 10 – 12 kaki memenuhi permukaan alun-alun. Bagian-bagian pemukiman penduduk asli kota itu tampak tidak terlalu banyak berubah, hanya beberapa rumah yang beratap genteng pada masa itu. Pada tahun 1795 cacah jiwa distrik Banten diperkirakan sebanyak 90.000, di luar cacah jiwa di seluruh Jawa yaitu 3,5 juta jiwa. Di sana masih terdapat kampung Arab yang terletak diantara keraton Surosowan dan Karangantu, tetapi dikatakan pada waktu itu bahwa 4/5 rumah-rumah Cina sudah kosong (tidak dihuni). Kekuatan ekonomi Batavia terlalu kuat dan Banten menurut statusnya menjadi pemukiman propinsi (daerah). Peristiwa-peristiwa politik dan militer, perang Napoleon, pendudukan oleh Inggris, serta kembalinya pendudukan oleh Belanda, menyebabkan pemukiman Banten perlahan-lahan menurun dan kedudukannya menjadi desa. Banten kemudian terbakar pada tahun 1808-1809. Sesudah tahun Itu berita tentang kota Banten hanya tercatat bahwa Kaibon sebagai keraton didirikan tahun 1815 untuk Ibu Sultan Rafiudin.

2. Kota Banten lama sebagai `open museum’

Banten Lama juga memiliki beberapa ciri yang secara umum ditemukan pula pada kota-kota Islam yang sejaman di bagian-bagian lain di dunia. Sebagian besar pusat-pusat kegiatan yang terkemuka, sebagaimana kota Islam di Indonesia maupun Afrika, dan juga negara-negara Arab, memiliki istana, pasar-pasar dan mesjid-mesjid. Pemukiman dibagi menurut pekerjaan dan etnik, sebagaimana halnya kota-kota pada abad pertengahan tahun akhir di kota-kota Islam di dunia. Bahkan kota Banten sebagai kota muslim terbesar di Indonesia, tidak hanya pada masanya, tetapi mungkin dalam seluruh sejarahnya telah menjadi ciri umum pada kota-kota berciri Islam pada akhir abad 16 M.

Jika muncul kota-kota di Jawa itu berkoinsidensi dengan penyebaran Islam, dan unsur-unsur komponen kota-kota menjadi umum pada banyak kota dalam dunia Islam, seseorang mungkin dapat meramalkan pahwa pola-pola pemukiman di dalam kota-kota di Jawa tentunya merupakan tiruan dari bentuk baku kota-kota Islam. Bagaimanapun informasi sejarah menunjukkan bahwa asumsi ini tidaklah benar. Distribusi fisik dari tempat-tempat umum dan perseorangan di Banten Lama dan juga di manapun, bentuk fisik kota melanjutkan tata letak tradisional sebagaimana halnya kompleks-kompleks orang Jawa pada masa sebelum Islam. Jawa dapat dikatakan telah memiliki pola sendiri di dalam urbanisasi, dengan beberapa unsur yang serupa dengan kota-kota yang sejaman pada bagian-bagian lain di Asia Tenggara. Kita memperoleh gambaran bahwa kota-kota tersusun dari kegiatan-kegiatan individu-individu dan Jika kita menyimpulkan bahwa pengenalan Islam bukanlah merupakan hasil satu perubahan yang revolusioner di dalam tata hidup orang Jawa, tetapi hanyalah proses evolusi secara bertahap.

Sumber-sumber sejarah tidak memungkinkan bagi kita untuk merekonstruksikan tingkat-tingkat ini di dalam setiap rincian. Begitu penelitian arkeologi diselenggarakan, bagaimanapun, kita lebih banyak memperoleh informasi mengenai hubungan-hubungan antara perubahan-perubahan aspek-aspek budaya yang lainnya. Ketika pada tahun 1596 terinci pemukiman dan kehidupan penduduknya, kota tersebut telah mengalami berbagai perubahan. Gambaran pertama yang kita lihat pada penduduk yang telah diresapi agama Islam, tetapi alam kota di mana mereka tinggal, masih menunjukkan gejala yang berasal dari masa yang lebih tua, dan mungkin lebih merupakan setting suatu pedalamaan agraris yang sangat berbeda daripada sebagai pusat komersil yang sibuk di tepi jalur pelayaran ke beberapa negara. Apa yang kita lihat sekarang merupakan antiklimaks dari apa yang telah kita peroleh dari gambaran seperti yang disebutkan di alas.

Banten kini tidak lebih dari sisa sebuah runtuhan. Hanya sistem kanal, tembok-tembok keraton, keraton Kaibon, Speelwijk serta beberapa sarana pelabuhan miskin yang masih ada.

Banten dipugar dari tahun 1915 sampai 1930 oleh pemerintah Belanda, tetapi tidak mencatat setiap peralihan secara kronologis, khususnya kanal-kanal dan tembok-tembok kota. Restorasi dan pemeliharaan Banten Lama dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia dari tahun 1945 sampai sekarang. Masalah utama ialah bahwa beberapa runtuhan dan situs rusak berhamburan. Sejak Pelita II upaya pelestarian terhadap situs Banten telah mulai digarap secara sistematis dan berkesinambungan. Penelitian arkeologi sudah mulai dilaksanakan tahun 1976 dan pemugaran kota Banten Lama sudah dimulai sejak tahun 1978. Hasilnya kini sudah mulai nampak misalnya dari hasil penelitian berbagai publikasi hasil penelitian telah diterbitkan dan artefaknya telah terkumpul dan terklasifikasi. Ciri-ciri kota Banten sebagai kota metropolitan yang informasinya diperoleh dari sumber sejarah telah didukung pula oleh hasil penelitian arkeologi. Hasil penelitian tersebut antara lain dengan ditemukannya situs industri logam serta industri gerabah, temuan barang perdagangan dan sebagainya. Berbagai temuan artefak berupa barang impor seperti keramik asing yang berasal dari berbagai negara dan ditemukan hampir di setiap jengkal tanah di situs Banten ini menunjukkan bahwa Banten memang pernah menjadi bandar yang cukup besar. Pemugaran sisa bangunan kota seperti keraton Surosowan, Kaibon, jembatan Rante, benteng Spelwijk, menara Pacinan lama dan bangunan lainnya telah berhasil memberi citra kehadiran reruntuhan bangunan itu sebagai saksi sejarah eksistensi kota lama Banten. Dari hasil penelitian dan pemugaran tersebut ada satu cara menyelesaikannya ialah merancang kota lama Banten dengan mengembangkannya sebagai `taman purbakala’.

Satu masterplan (rencana induk) taman arkeologi Banten telah dibuat dan situs ini telah dilakukan pemugaran secar sistematis dan terencana. Rencana ini dapat membantu mengidentifikasi area-area yang harus dipelihara secara terbuka. Situs ini, secara umum masih terpelihara, dan beberapa dari sisa-sisa fondasi bangunan, masih terpendam dalam tanah. Untuk ekskavasi berjangka panjang, dan beberapa area yang memiliki desa-desa khusus dapat dihuni terus (dengan ijin dari Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala).

Menurut peta geologi, situs ini berketinggian sekitar 0-25 meter di atas muka laut, dengan kemiringan 2 %. Dari daerah lain yaitu Banten Girang ke arah selatan terdapat daerah perbukitan yang berketinggian antara 25-100 meter di atas muka laut. Curahan hujannya tinggi setiap tahun sekitar 1840 mm, dan temperaturnya sekitar 26-27 °C, dengan kelembaban sekitar 70%. Permukaan tanah daerah Banten Lama dan Tirtayasa (kira-kira 15 km ke arah timur) semakin rata, keduanya adalah zona alluvial (beting pantai, daerah luapan banjir, dan sekitar aliran sungai). Seringkali terjadi banjir besar setelah hujan yang sangat deras. Jenis lempung Banten Lama seperti alluvial, hidromorf dan gleihumus. Proses pengubahan oleh air sungai berasal dari sedimentasi lempungan, sungai dangkal kurang 0,5 meter dalamnya, begitu pula air muka tanah begitu dangkal yaitu pada kedalaman sekitar 0,5-3 meter, dan sungai berair sepanjang tahun. Hal ini membuat lumpur dari hulu yang terbawa sepanjang aliran sungai setelah turun hujan lebat, akan membentuk tanah baru sepanjang tepi laut (disebabkan oleh pengendapan alami). Kenyataan ini menjadi masalah bagi kita ialah: bagaimana menggali situasi di sekeliling kotam ikan.

Dari apa yang telah kita uraikan ini jelaslah sudah kota Banten Lama dengan peninggalan sejarahnya kini merupakan sebuah `museum terbuka’ atau `open museum’. Dalam museum besar ini terefleksikan sebuah `bayangan masa silam kota dan masyarakat Banten’ sedangkan beberapa artefak dari hasil penelitian dan pemugaran yang tersimpan di museum situs Banten merupakan `gambaran’ ciri kehidupan masyarakat kota Banten di masa lampau.

Berbondong-bondongnya para peziarah yang datang dan berkunjung ke Banten untuk berziarah ke makam Sultan Banten dan para ulama Banten yang jumlah peziarahnya itu mencapai lebih dari 1 juta orang setiap tahunnya menunjukkan bahwa Sultan Banten dan para ulama Banten telah berhasil mengislamkan daerah Banten dan Nusantara. Karenanya mereka dengan berziarah itu ingin menunjukkan rasa hormat mereka kepada para sultan dan ulamanya. Ini juga suatu fenomena dari suatu `life museum’ atau `museum hidup’ berupa para peziarah dan obyek peziarahan.

V. Prospek Perkembangan Kota Lama Banten untuk Perkembangan di Masa Depan

Penelitian, preservasi, konservasi dan restorasi peninggalan sejarah dan purbakala di Situs Banten Lama, merupakan investasi yang menyerap tenaga, waktu dan dana serta kepakaran yang tidak kecil. Corak khusus, nilai serta posisinya dalam alur sejarah lokal maupun nasional, menyebabkan Situs Banten Lama (BL) dikunjungi oleh berbagai kalangan dengan frekuensi yang cukup tinggi.

Sementara itu pula, masih harus dikeluarkan dana-dana bagi penelitian, pemeliharaan, pengamanan, perlindungan dan pemugaran. Sungguh disadari bahwa setiap mobilisasi dan realisasi dana, sebaliknya, harus menghasilkan nilai tambah dan kemanfaatan seluas-luasnya, baik bagi segi ilmiah maupun praktis. Suatu prows panjang telah dilalui oleh masyarakat dan budaya Banten Lama, sejak kawasan ini tumbuh dan berkembang menjadi pusat ‘tamaddun’ berciri Islami pada masanya, sampai kemudian lenyap dari panggung sejarah, menjadi puing-puing dan tradisi yang kurang diperhitungkan.

Anggapan-anggapan dasar itulah, yang kemudian menjadi pendorong kuat untuk berupaya secara maksimal, agar situs BL, yang memiliki potensi sumber daya kultural, berdampak meningkatkan sektor ekonomi bagi penduduk/masyarakat daerah maupun nasional. Tentunya pula, harus dihindari dengan sungguh-sungguh dampak negatif yang dapat mencemari nilai dan tradisi masyarakat Banten yang sangat religius.

Dalam kerangka pemikiran itulah maka pemerintah daerah dan masyarakat Dati II Kabupaten Serang dan Banten Lama bertekad sepenuhnya untuk berupaya secara maksimum/ optimum agar sumber daya kultural BL yang amat potensial itu, dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi yang handal, memiliki kemanfaatan nasional dan mambantu peningkatan kualitas budaya nilai/ tradisi baik dalam cakupan daerah maupun nasional.

Pengkaitan program pengembangan situs BL terhadap pembinaan dan pengembangan potensi-potensi kepariwisataan nasional, secara lebih teknis lagi, memiliki sejumlah manfaat dan pemenuhan beberapa sektor kebutuhan hidup, yakni:

1. Memperluas kesempatan berusaha, misalnya dalam bidang perhotelan, makanan dan minuman (food and beverages) atau rumah makan (restaurant), biro perjalanan, pramuwisata, pengembangan prasarana/ sarana rekreasi art shop/pusat perbelanjaan, pendorong penghidupan kelompok-kelompok kesenian dan sebagainya;

2. Memperluas lapangan kerja, yakni terserapnya angkatan/tenaga kerja antara lain ke dalam bidang-bidang usaha tersebut di atas;

3. Meningkatkan pendapatan masyarakat dan pemerintah, khususnya pada masyarakat dan pemerintah setempat, baik melalui pendapatan langsung (pajak-pajak/ restribusi dll) maupun yang tak langsung;

4. Mendorong pelestarian dan pengembangan budaya dan peninggalan sejarah dengan perkataan lain meningkatkan kualitas hidup budaya daerah/ nasional;

5. Mendorong terpeliharanya lingkungan hidup, yaitu termasuk kedalamnya usaha-usaha pembuatan taman-taman, penghijauan, restrukturisasi tata ruang dan sebagainya, sebagai tindak lanjut untuk menambah daya tarik obyek-obyek wisata;

6. Mendorong pertumbuhan dan peningkatan pembangunan sektor-sektor lainnya sebagai konsekuensi logis untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi para wisatawan serta komunitas di sekitar obyek-obyek wisata;

7. Memperluas wawasan Nusantara, memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa serta menumbuhkan rasa cinta tanah air, penghargaan dan saling pengertian regional maupun internasional;

8. Pada akhirnya obyek-obyek wisata (termasuk obyek wisata budaya) terdorong untuk dapat membiayai dirinya sendiri, baik bagi kepentingan pengamanan, pemeliharaan, konservasi maupun restorasi;

9. dan sebagainya.

Saling pengaruh dan keterkaitan antara pembinaan dan pengembangan potensi kesejarahan dan kepurbakalaan di satu sisi, serta pembinaan dan pengembangan kepariwisataan pada sisi yang lain, telah terbukti memberikan nilai tambah, baik secara lokal maupun nasional, seperti telah diperlihatkan melalui pengelolaan terpadu di beberapa negara lain. Nilai tambah tersebut, baik berupa devisa yang semakin meningkat, maupun dalam sektor-sektor kehidupan di sekitar obyek-obyek wisata yang dikelola.

VI. Penutup dan Kesimpulan

Berdasarkan itu, maka perlu disusun rencana program kegiatan dengan urutan prioritasnya, yakni;

a. Penataan kembali dan pemanfaatan bangunan sejarah dan purbakala serta prasarana/sarana penunjangnya, antara lain dengan membenahi dan mengatur kembali perparkiran, kios-loos, sarana sanitasi, pasar dan pembuatan gerbang masuk utama (the main tollgate) dll. Dalam peta rencana, kawasan ini diplot dengan warna merah,

b. Menata kembali dan membangun lingkungan, memperluas prasarana/sarana pendukung seperti; lapangan parkir, tempat istirahat para wisatawan/ peziarah, pembangunan art/handicraft/information centres, perluasan sarana sanitasi / urinior, dll, yang diarahkan pula bagi pengembangan pelabuhan Karangantu dan Pabean untuk dioptimasikan sebagai kelengkapan sarana pendukung. Kawasan tahapan ini diplot dengan warna kuning,

c. Membangun, mengembangkan dan memanfaatkan waduk Tasik Ardi menjadi pusat rekreasi air maupun kegunaan praktis sebagai pemasok, pengatur air bersih/ irigasi, kawasan tahap program ini diplot warna hijau, tetapi realisasinya simultan dengan kawasan merah,

d. Pengembangan berikutnya mencakup: (d.1) pengurugan dan pemanfaatan empang pantai menjadi taman atau kawasan hijau; (d.2) pembangunan kawasan rekreasi balita/anak-anak dengan sarana yang sesuai; (d.3) perluasan pembangunan restaurant, kios, sarana baru yang lebih memadai; (d.4) penataan pantai bagi penyediaan sarana olah raga kelautan (surving, diving, shipping, dll); atau bagi kepentingan ilmiah (under-water archeology); (d.5) pembangunan pusat studi kelautan bekerjasama dengan instansi terkait; dan (d.6) pembangunan prasarana/sarana umum lebih lanjut (advanced program). Kawasan ini diplot warna biru.

Rencana program dan pemanfaatan potensi kultural Banten Lama, mengacu pada pendayagunaan potensi kesejarahan serta kepurbakalaan. Karma itu dan bagaimanapun, pengembangan program arkeologi merupakan komponen pengembangan yang utama dan pertama, yang didukung oleh komponen-komponen pengembangan yang lain;

1, komponen pengembangan lingkungan dan restrukturisasi tataguna lahan/ruang;

2. komponen pengembangan, masyarakat, tradisi dan budaya di Banten Lama;

3. komponen pengembangan museum situs; yang secara keseluruhan merupakan komponen pengembangan yang dioperasikan secara terkoordinasi, terpadu, berdaya dan berhasil guna.

Kesimpulan

1. Kawasan BL memiliki potensi dan asset yang ternama, baik dalam wujud hasil penelitian/pemugaran maupun hasil-hasil pembangunan sektor lainnya;

2. Potensi tersebut, setidaknya sampai pada tahun 1988, belum dimanfaatkan secara optimum, padahal disadari memiliki kemungkinan dan kelaikan yang tinggi-,

3. Model pendekatan yang diterapkan dalam menangani/ mengelola potensi kultural di BL masih terbuka untuk pengujian;

4. Animo dan antusiasme dari kalangan yang begitu luas, setidaknya menggambarkan bahwa model pendekatan tersebut, dapat diprediksikan menekan secara maksimal pengeluaran dana dari pemerintah;

5. Penekanan secara maksimal itu, dimungkinkan oleh keterlibatan banyak pihak, sejak tahap perencanaan, perancangan, pelaksanaan dan operasionalisasi pemanfaatannya, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

6. Pengembangan arkeologi (dan kesejarahan) merupakan komponen utama dalam keseluruhan sasaran proyek.

 

Tulis komentar

« | Teras | »