Filosofi Logo

    Lambang Lembaga Banten Heritage disebut

    “Ketupat Banten Heritage”

     


    Lambang tersebut mengandung arti sebagai berikut:

    Warna kuning pada lambang “Belah Ketupat” adalah representasi rekayasa manusia untuk warna emas, logam mulia, tidak mengalami korosi dan lentur siap dikreasikan ke dalam bentuk apapun. Makna:

    1. melambangkan keindahan semesta, keabadian, perhiasan penguasa jagad dan manusia,

    2. alat tukar (commercial balance) yang resisten dari fluktuasi,

    3.  dalam khazanah sifusme, kuning adalah simbol warna Nabi Yusuf Alaihisalam, representasi kejujuran, keindahan dan belas kasih (humanisme), Jadi warna kuning emas adalah simbol kemulyaan dan keindahan seni dan adab. 

    Dasar putih, memberi warna netral, lambang kesucian, kebersihan dan ketulusan untuk berbakti, bekerja, dan berkarya bagi umat manusia. Makna: dalam sufisme, putih adalah simbol warna Nabi Muhammad SAW; al-amin, rendah hati, pemikir besar. Jadi: putih adalah simbol kesucian batin, yang hanya bekerja sebagai bagian dari ibadah, amar ma’ruf nahi mungkar, rahmatin lil-alamin.

    Belah ketupat merepresentasikan benda (artefak) tradisional dunia Melayu (Nusantara). Makna:

    1. instrumen pengikat persaudaraan, silaturahmi, hospitality, friendship,

    2. kreasi anyaman sangat yang sangat familiar dikerjakan dari generasi ke generasi (warisan), dibuat dalam rangka memperingati hari-hari yang patut dikenang dan dirayakan dengan berbagai modifikasi. Jadi: belah ketupat adalah simbol kreativitas dalam semangat kekeluargaan, religius, dan kearifan.

    Persegi empat dengan garis proyeksi pada keempat sudut adalah sebuah simpul saling mengikat kuat ke dalam inti, mengkonsolidasikan diri pada cita pikira dan laku menuju berbagai tujuan (multipurpose), menghasilkan gaya sentrifugal yang memancarkan energi ke luar berupa kekuatan transformatif bagi kemajuan budaya, adab yang dilandasi kreativitas dan inovasi secara berkesinambungan. Jadi: persegi empat yang mengikat belah ketupat melambangkan bahwa kekuatan bersumber dari kebudayaan sendiri yang siap beradaptasi dan memainkan peran dalam dinamika budaya universal.